Mengenal Design Thinking

DIPDOP > Ceative Agency > Business Consulting > Mengenal Design Thinking

Design Thinking adalah proses berulang dimana kita berusaha memahami pengguna, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah dalam upaya mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang mungkin tidak langsung terlihat dengan tingkat awal pemahaman kita. Pada saat yang sama, Design Thinking menyediakan pendekatan berbasis solusi untuk menyelesaikan masalah. Ini adalah cara berpikir dan bekerja serta kumpulan metode langsung

Di dunia desain yang terus berkembang, design thinking (pemikiran desain) merupakan salah satu kunci bagi Anda untuk merespon perubahan yang cepat, terlebih lagi dengan adanya AI (Artificial Intelligence). Pendekatan ini tidak hanya sekadar tentang metode desain, tetapi juga tentang pemecahan masalah yang melibatkan user (pengguna) pada setiap tahapnya. Design thinking juga bukan hanya tentang menciptakan produk yang indah, tetapi juga harus memahami kebutuhan user dan memberikan solusi yang tepat.

Design Thinking berputar di sekitar minat yang mendalam dalam mengembangkan pemahaman dari orang-orang yang menjadi tujuan perancangan produk atau layanan. Hal ini membantu kita mengamati dan mengembangkan empati dengan target pengguna. Design Thinking membantu kita dalam proses bertanya: mempertanyakan masalah, mempertanyakan asumsi, dan mempertanyakan keterkaitannya.

Tahapan Design Thinking

1. Empathize

Dalam tahap ini, para pemikir desain harus mengesampingkan pandangan dan asumsi mereka sendiri dan mencoba membayangkan diri mereka berada di posisi pengguna. Tahap ini melibatkan banyak pengumpulan dan analisis data. Anda mungkin melakukan wawancara dengan pelanggan masa lalu dan calon pelanggan di masa depan. Misalnya, perusahaan teknologi mungkin pergi ke kedai kopi untuk mengamati orang-orang yang bekerja di laptop mereka atau toko video game untuk mengamati bagaimana pelanggan berbicara tentang sistem game ketika mereka memilih apa yang akan dibeli. Metode empathize lainnya termasuk memantau dan terlibat dalam percakapan media sosial seputar merek dan industri Anda, meminta umpan balik dari pelanggan, dan melacak metrik sosial.

2. Define

Setelah Anda mengumpulkan informasi yang cukup dalam tahap empathize, saatnya untuk mulai mengatur dan menganalisisnya. Ini adalah tahap define atau menentukan. Di sini, Anda akan mulai mencari pola atau tren. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengkonsolidasikan semua informasi itu ke dalam satu pernyataan masalah. Pernyataan masalah harus menjawab empat pertanyaan:

  • Siapa yang mengalami masalah?
  • Apa masalahnya?
  • Di mana masalah itu ada?
  • Mengapa masalahnya penting?

Saat Anda menulis pernyataan, lakukan dari perspektif pengguna yang mengalaminya dan pastikan bahwa satu kalimat membahas keempat pertanyaan tersebut. Jelaskan, secara rinci, sifat dari masalah, poin-poin utama, seberapa sering masalah itu terjadi dan seberapa besar hambatannya terhadap pengalaman pengguna. Berikan lingkungan atau situasi di mana masalah terjadi, berikan detail kontekstual sebanyak yang dapat Anda tarik dari data. Identifikasi nilai yang akan diberikan solusi untuk masalah ini kepada pengguna dan bisnis.

3. Ideate

Pada tahap ideate, Anda dilengkapi dengan konteks data yang kaya dan definisi yang jelas tentang masalah yang perlu Anda selesaikan. Sekarang, Anda siap untuk memulai bagian kreatif dari design thinking. Dalam tahap ideate, setiap orang dalam tim harus merasa bebas untuk mengeksplorasi solusi potensial tanpa penilaian. Bagian pertama dari tahap ini adalah memunculkan sebanyak mungkin ide, bahkan jika beberapa di antaranya tampak tidak realistis. Semakin banyak ide yang Anda miliki, semakin banyak materi yang harus Anda kerjakan saat Anda mempersempit ide yang ingin Anda lanjutkan. Bahkan, ide yang akhirnya Anda pilih mungkin merupakan kombinasi dari berbagai ide yang berbeda, mungkin termasuk beberapa elemen dari ide yang lebih tidak realistis. Saat Anda mencapai akhir tahap ideate, Anda harus mulai berfokus pada dua atau tiga ide teratas yang tampaknya paling menjanjikan atau, setidaknya, yang paling dipikirkan sepenuhnya.

4. Prototipe

Setelah Anda memilih ide yang ingin Anda lanjutkan, sekarang saatnya untuk mulai merealisasikannya. Mulailah dengan ide yang Anda rasa paling optimis dan mulailah mengembangkan prototipenya. Jika idenya adalah produk yang sebenarnya, prototipe ini akan menjadi versi produk yang diperkecil dari produk yang ingin Anda buat. Jika idenya tidak melibatkan produk fisik, prototipe dapat mengambil beberapa bentuk. Misalnya, jika Anda ingin menerapkan kebijakan baru di seluruh perusahaan untuk meningkatkan layanan pelanggan, Anda mungkin merancang eksperimen kecil di mana Anda menerapkan kebijakan itu di satu departemen atau hanya dengan beberapa karyawan sebelum memutuskan apakah Anda ingin meluncurkan versi skala penuhnya.

5. Pengujian

Desainer menguji produk lengkap secara ketat menggunakan solusi terbaik yang diidentifikasi selama fase prototyping. Ini adalah tahap akhir dari design thinking, tetapi dalam proses berulang, hasil yang dihasilkan selama fase testing sering digunakan untuk mendefinikan kembali satu atau lebih masalah dan menginformasi pemahaman pengguna, kondisi penggunaan, bagaimana orang berpikir, berperilaku, dan merasakan, dan berempati. Bahkan selama fase ini, perubahan dan penyempurnaan dilakukan untuk menyingkirkan solusi masalah dan memperoleh pemahaman sedalam mungkin terhadap produk dan penggunanya

Contoh Perusahaan Menerapkan Design Thinking

  • GOJEK

Perusahaan layanan berbasis aplikasi seperti GOJEK telah menerapkan design thinking dalam pengembangan produk dan layanan mereka. Mereka menggunakan pendekatan ini untuk merancang pengalaman pengguna yang intuitif dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Apa solusi yang GOJEK berikan? Yap, menjembatani antara pengguna ojek dan tukang ojek, cukup sederhana namun sangat terasa sekali manfaatnya.

  • GOPAY

Sebagai penyedia layanan pembayaran digital, GoPay menggunakan design thinking dalam mengembangkan fitur dan layanan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan para pengguna mereka, khususnya bagi pengguna GOJEK pada awalnya. Mereka berfokus pada menciptakan pengalaman pembayaran yang lebih aman, cepat, dan nyaman bagi pelanggan mereka.

  • Traveloka

Platform pemesanan tiket dan perjalanan Traveloka juga dikenal menerapkan metode design thinking dalam pengembangan produk dan layanan mereka. Traveloka menggunakan pendekatan ini untuk memahami kebutuhan dan preferensi pelanggan, sehingga mereka mampu menyediakan pengalaman pemesanan tiket dan perjalanan online yang aman, mudah, dan efisien. Sampai tulisan ini dibuat, Traveloka semakin eksis di industri pemesanan tiket dan perjalanan online.

  • Telkom Indonesia

Selanjutnya untuk contoh perusahaan yang menerapkan design thinking adalah Telkom Indonesia. Sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkom telah menggunakan design thinking dalam mengembangkan solusi teknologi informasi dan komunikasi yang inovatif untuk market (pasar) di Indonesia. Hasilnya? Pengguna Telkomsel Indonesia cukup banyak dari barat Indonesia hingga bagian timur. Salah satu produknya adalah Telkomsel dan Indihome.

Sumber:

Tahapan Design Thinking

Jesica Kharisma
jesicakharisma03@gmail.com

One thought on “Mengenal Design Thinking”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *