
Dipdop.net – Kalau ditanya tentang konten yang paling kamu ingat karena sering banget muncul di media sosial, kamu bakal jawab konten yang kaya gimana aja? Pasti konten dengan embel-embel “POV” bakal jadi salah satunya setelah ada banyaknya konten serupa, baik untuk marketing maupun non marketing.
Konten POV ini termasuk yang sering muncul di FYP kamu karena jadi salah satu konten yang paling gampang dan paling laku untuk cepat tembus Key Performance Indikator (KPI). Meskipun sudah banyak yang buat konten dengan format POV ini, rupanya masih ada yang suka salah kaprah tentang penerapannya dalam konsep konten, lho. Lantas, seperti apa sesungguhnya konten POV itu? Kemudian, bagaimana bisa konten ini menjadi paling laku di medsos sampai banyak yang membuatnya?
Apa itu konten “POV”?
Jadi, apa sih konten POV itu? POV sendiri merupakan singkatan dari “Point of View” yang dalam bahasa Indonesia berarti sudut pandang. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan posisi audiens terhadap penggambaran atau penceritaan yang disampaikan kepada audiens sehingga seakan-akan audiens tengah diajak bicara. POV dapat berupa sudut pandang orang pertama (aku dan saya), orang kedua (kamu, Anda, engkau, dan kalian), serta orang ketiga (ia, dia, dan mereka). Dalam artikel ini, penggunaan “kamu” yang kerap disematkan pada kalimat merupakan contoh penggunaan POV, khususnya orang kedua, agar muncul kesan akrab antara penulis dan pembaca artikelnya.
Baca Juga: 15 Ide Konten F&B Kreatif untuk Bantu Bisnis Kuliner Lebih Dilirik
Sayangnya, dari konsep POV tersebut masih banyak yang salah menggunakannya, apalagi dalam konten marketing yang sering muncul di medsos. Kebanyakan dari si pembuat konten tidak memberikan celah atau ruang agar audiens dapat menempatkan posisi yang sedang digambarkan dan tidak terlalu mengajak audiens ke dalam konsep yang dimaksud. Konten yang dibuat lebih cocok disebut dengan format “MK” atau “Momen Ketika”.
Penggunaan POV dalam konten berupa video pun sebenarnya cukup mudah, yakni kamera si pembuat konten hanya tertuju pada hal yang sedang ia lakukan seolah audienslah yang melakukan hal tersebut. Jadi, biasanya talent dalam konten tidak sedang menirukan yang audiens akan lakukan dan kamera hanya menampilkan hal yang seharusnya terlihat saat si talent melakukan sesuatu.
Konten POV relate dengan kehidupan sehari-hari
Konten POV mengisyaratkan hal-hal yang sering dilakukan audiens kemungkinan merupakan pengalaman unik dan lucu. Bahkan jika tidak unik dan lucu, konten POV akan tetap menarik karena sudah pasti diketahui atau menjadi bagian dari lika-liku kehidupan audiens. Dari sinilah, audiens merasa memiliki teman yang senasib setelah mengetahui konten POV tersebut berangkat dari pengalamannya di kehidupan sehari-hari.
Kamu bisa menyesuaikan konten POV ini dengan bisnis marketing yang kamu tawarkan. Tak perlu khawatir untuk membuat konten POV dengan marketing yang memiliki niche tertentu, asalkan kamu mengetahui dengan baik konsep tersebut.
Misalnya, jika kamu membuka bisnis photocopy. Kamu bisa membuat konten POV dari sudut pandang sang tukang photocopy, klien, ataupun vendor. Pada sudut pandang tukang photocopy, kamu bisa menggunakan kamera yang mengarah ke printer dengan tangan yang tak berhenti merapikan kertas. Kemudian, pada caption kamu sematkan, “POV: klien punya skripsi 1000 halaman akhirnya minta di-print.”
Bisa digabung dengan format konten bernuansa tertentu
Seperti permisalan tukang photocopy yang sedang mencetak 1000 halaman dari klien mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, kita bisa anggap konten POV di atas sebagai konten komedi yang lucu. Di samping itu, kamu bisa juga menyematkan nuansa emosional yang tentunya relate dengan pengalaman audiens yang pernah dirasakan.
Jika tidak dengan nuansa komedi, kamu bisa menyematkan nuansa sedih, prihatin, tegas, marah, bahkan edukatif dan informatif. Tentunya kamu perlu menyesuaikan dengan branding dari keseluruhan konten marketing kamu agar menjadi unik di mata audiens.
Mudah dalam menyusun konsep
Alasan terpenting dari konten POV yang begitu sering dipakai dalam dunia marketing yakni karena terkesan mudah dalam menyusun konsep. Konsep yang diperlukan tidak perlu baru atau inovatif, melainkan hanya berangkat dari pengalaman sehari-hari yang dirasakan pula oleh orang lain. Jika kamu ingin memperdalam segmentasi, maka kamu pun harus meriset segmen tersebut dengan baik agar bisa menemukan hal-hal yang relate.
Baca Juga: Berikut Rekomendasi Ide Konten Faceless untuk Marketing yang Bisa Kamu Buat!
Kesimpulan
Konten POV merupakan salah satu jenis format konten yang sering dipakai di media sosial. Konten jenis ini pun bisa digunakan dalam marketing. Alasannya karena konten POV merupakan konten yang relate dengan kehidupan sehari-hari dari para audiens. Akan tetapi, ternyata masih banyak yang keliru terhadap persepsi mengenai POV ini. Jadi, kamu harus memahami terlebih dahulu maksud konsep POV dalam konten.
Ingin membangun bisnis UMKM, tetapi membutuhkan banyak persiapan sebelum memulai dan bingung mengenai caranya? Kunjungi Dipdop.net untuk temukan solusinya. (WA)
