
Dipdop.net – Pernah enggak kamu lihat suatu brand yang baru launching, tapi dalam hitungan menit produknya langsung sold out? Kadang bikin heran ya—kok bisa secepat itu? Nah, ternyata, bukan cuma karena produknya bagus atau harganya miring.
Di balik kesuksesan itu, ada strategi psikologis yang disebut mental trigger.
Dilansir dari Youtube,mental trigger adalah cara memicu respon emosional calon pembeli supaya mereka terdorong untuk segera bertindak, alias beli produk kita tanpa banyak mikir.
Dalam dunia marketing, konsep ini sangat penting karena otak manusia cenderung lebih takut kehilangan sesuatu daripada ingin mendapatkan sesuatu—fenomena ini disebut loss aversion.
1. Scarcity dan Urgency: Efek “Keterdesakan” yang Ampuh
Kedua elemen ini adalah kunci utama dalam membangun mental trigger.
Ketika seseorang tahu bahwa produk hanya tersedia dalam jumlah terbatas (scarcity) atau dalam waktu singkat (urgency), mereka akan cenderung bergerak cepat.
Contohnya? Flash sale di tanggal kembar seperti 9.9, 10.10, atau 12.12,hanya dalam beberapa jam, ribuan produk bisa ludes karena efek keterdesakan ini.
Orang takut kehabisan promo, takut stok habis—akhirnya mereka buru-buru checkout.
Menurut riset, sekitar 60% pembelian impulsif terjadi karena pengaruh urgensi dan keterbatasan.
Jadi kalau kamu mau produkmu laris manis saat launching, jangan ragu mainkan elemen ini,beri batas waktu promo, tampilkan jumlah stok tersisa, atau kasih bonus hanya untuk pembeli pertama.
2. Social Proof: Orang Ikut Karena “Yang Lain Udah Beli”
Manusia adalah makhluk sosial—kita cenderung ikut-ikutan.
Prinsip ini disebut social proof,kalau banyak orang sudah beli atau kasih testimoni positif, calon pembeli lain akan lebih percaya.
Data menunjukkan, 92% konsumen lebih percaya rekomendasi orang lain dibandingkan iklan dari brand sendiri.
Itulah kenapa konten dari pengguna atau user-generated content (UGC) jauh lebih kuat dampaknya dibandingkan promosi yang dibuat perusahaan.
Jadi, tampilkan bukti sosial di media sosialmu.
Posting foto pembeli yang puas, testimoni, atau video “barang sampai”.
Ini bukan cuma bikin brand-mu terlihat kredibel, tapi juga menciptakan efek FOMO (Fear of Missing Out) bagi yang belum beli.
3. Reciprocity: Prinsip Timbal Balik
Salah satu prinsip dasar psikologi manusia adalah rasa ingin membalas budi.
Kalau kamu memberi sesuatu terlebih dahulu misalnya tips bermanfaat, e-book gratis, atau konten edukatif—orang akan merasa ingin membalas dengan membeli produkmu.
Inilah yang disebut reciprocity,jadi sebelum kamu sibuk jualan, coba dulu untuk memberi.
Seperti kata pepatah, sharing dulu, selling kemudian.
Kuncinya adalah konsistensi memberi nilai.
Bagikan sesuatu yang benar-benar berguna, bukan cuma promosi terselubung,ketika audiens merasa terbantu, mereka akan lebih terbuka untuk membeli produkmu di kemudian hari.
4. Authority dan Liking: Kredibilitas dan Simpati
Kita cenderung percaya pada orang yang punya kredibilitas (authority) dan menyukai orang yang karismatik (liking).
Dalam marketing, dua hal ini bisa digabung dengan bekerja sama dengan figur publik, influencer, atau ahli di bidang tertentu.
Kenapa brand mau bayar mahal untuk endorsement? Karena pengaruh dari orang yang disukai atau dianggap ahli bisa mempercepat kepercayaan.
Misalnya, kalau dokter merekomendasikan suplemen kesehatan, atau influencer favorit pakai produk skincare tertentu, audiens langsung tertarik.
Kalau kamu belum punya akses ke influencer besar, bisa mulai dari yang lokal atau mikro.
Kolaborasi kecil tapi otentik tetap bisa menambah kepercayaan publik terhadap produkmu.
5. Commitment dan Consistency: Mulai dari Langkah Kecil
Orang cenderung konsisten dengan keputusan kecil yang sudah mereka buat.
Kalau mereka sudah komitmen kecil dulu misalnya isi formulir, klik tombol minat, atau komen mau—kemungkinan besar mereka akan lanjut ke langkah berikutnya, yaitu membeli.
Jadi, sebelum launching, coba buat interaksi kecil di media sosial:
“Siapa yang mau e-book gratis, komen MAU di bawah!”
“Yang pengin ikut pre-order, klik link ini!”
Langkah sederhana seperti ini bisa meningkatkan rasa keterlibatan calon pelanggan sejak awal.
6. Cara Praktis Menerapkannya Saat Launching Produk
Supaya lebih konkret, berikut beberapa langkah yang bisa kamu praktikkan:
– Bikin waiting list sebelum launching. Ini membangun antisipasi dan rasa eksklusif.
– Kasih bonus early bird. Misalnya, pembeli pertama dapat diskon atau hadiah spesial.
– Gunakan testimoni dan komunitas. Tampilkan bukti nyata dari pembeli sebelumnya.
– Kolaborasi dengan tokoh lokal atau influencer. Bangun kredibilitas lewat authority mereka.
– Berikan deadline promo. Biar orang enggak nunda-nunda keputusan beli.
Dengan kombinasi strategi di atas, kamu bisa menciptakan efek psikologis yang kuat—orang akan merasa harus beli sekarang juga sebelum kesempatan hilang.
Baca juga : Strategi Cerdas UMKM: Dari Konten Kreatif hingga Branding Otentik
Kesimpulan
Intinya, jualan bukan cuma soal produk, tapi soal psikologi manusia.
Dengan memahami dan menerapkan mental trigger seperti scarcity, urgency, social proof, reciprocity, authority, dan commitment, kamu bisa membuat orang terdorong membeli tanpa merasa dipaksa.
Kalau ingin mendalami lebih jauh, pembicara dalam video ini juga mengundang audiens untuk ikut workshop-nya yang membahas strategi launching produk secara lebih detail—lengkap dengan framework dan studi kasus nyata.
Jadi, sebelum kamu rilis produk berikutnya, pastikan strategi mental trigger-mu sudah siap.
Siapa tahu, produkmu jadi next sold-out launch berikutnya!
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!
(BRF)
