Hati-Hati Jebakan Mirroring Content!

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > Hati-Hati Jebakan Mirroring Content!
Jebakan Mirroring Content

Dunia digital yang serba cepat, secara tidak langsung menuntut online presence berbagai bisnis dan merek. Semua berlomba-lomba membangun branding untuk menjangkau audiens yang tidak terbatas waktu dan tempat. Berbagai macam konten dibuat dan disebarkan untuk menunjukkan keaktifan akun resmi untuk menarik lebih banyak calon konsumen. Sehingga tidak heran, banyak akun bisnis yang berusaha mengikuti arus tren sebagai bentuk cara mereka bertahan dengan persaingan yang kompetitif. Ditambah lagi dengan digital marketing yang semakin mendunia, semua orang bisa belajar dari mana dan kapan saja, dengan modal yang lebih ramah di kantong dibandingkan dengan pemasaran tradisional.

Rasa keharusan untuk hadir secara online ini, membuat berbagai merek perlu menggali dan menguras ide dalam menghasilkan konten yang menarik. Tidak sedikit yang akhirnya justru memilih copy-paste trends atau konten yang sama yang mereka temukan di berbagai platform media sosial. Kemudian memposting konten tersebut dengan adaptasi yang minim dan disebarkan di setiap platform, seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn secara bersamaan atau bisa disebut juga dengan mirroring content. Sayangnya, praktik ini justru membuktikan bahwa bisnis tersebut kurang akan strategi digital marketing.

Penting untuk kamu ingat bahwa setiap platform memiliki perilaku dan ekspektasi dari audiens yang berbeda. Tidak selalu cara mirroring content seperti ini berhasil karena audiens tidak menggunakan semua platform dengan cara yang sama. Sama halnya dengan tren dan algoritma yang berbeda di setiap media sosial.

Mirroring Content Justru Dapat Merugikan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa mirroring content tidak selalu bisa menjadi cara terbaik dalam strategi publikasi konten di media sosial. Ini mungkin memang cara praktis untuk menghemat waktu produksi dan dianggap efisien untuk memperluas jangkauan audiens, tapi kamu perlu mengidentifikasi seperti apa konten tersebut. Bayangkan jika kamu memposting di tiga platform yaitu TikTok, Instagram, dan LinkedIn sebuah konten hiburan dari tren yang sedang ramai di TikTok . Ibaratnya kamu sedang memakai sandal jepit untuk berlari. Bukan berarti nggak bisa, tapi nggak cocok dan bisa jadi malah dianggap kamu nggak peduli dengan proses marketing yang dilakukan.

Konten yang viral di TikTok belum tentu relevan di LinkedIn, sama halnya dengan konten yang kredibel di LinkedIn akan berasa kaku di Instagram. Melakukan mirroring content tanpa mengidentifikasi kebiasaan penggunanya hanya bikin bisnis kamu malah nggak terhubung dengan audiens. Bukannya dapat pengikut yang loyal, justru kredibilitas brand yang dipertanyakan.

Tapi kamu bisa mengakalinya dengan melakukan penyesuaian konten dengan media sosial di mana konten akan dipublikasi. Konten LinkedIn yang awalnya terlalu kaku bisa diadaptasi menjadi lebih santai dengan storytelling yang lebih mudah dipahami untuk diposting di Instagram. Konten tren di TikTok juga disaring dan disesuaikan dengan kecocokan topik yang akan dibahas di postingan LinkedIn. Ini akan lebih efektif dan efisien karena kuncinya ada pada menyajikan pesan inti untuk audiens di suatu platform.

Baca Juga: Ini 5 Kesalahan Marketing Bisnis di Indonesia, Wajib Tahu!

Media Sosial Merupakan Mesin Pencari Saat Ini

Sekarang orang-orang nggak cuma mencari sesuatu dari Google saja. Media sosial saat ini sudah menjadi search engine di mana mereka juga bisa menemukan topik yang ingin mereka tahu. Untuk itulah, kamu harus menyesuaikan konten yang kamu posting di setiap platform agar kontenmu bisa ditemukan audiens.

1. TikTok Ladang Quick Hacks dan Social Proof

Meskipun saat ini audiens TikTok mencakup berbagai usia, namun GenZ dan milenial masih mendominasi penggunaannya. Mereka lebih menyukai konten-konten yang cepat dan mudah dicerna. Mereka membutuhkan konten asli yang memberikan ‘aha moment’, tips-tips cepat (quick hacks), dan rekomendasi dengan bukti nyata dari orang lain (social proof). Mereka ingin solusi instan dan testimoni yang jujur.

Jadi, pastikan kamu memberikan konten berdurasi singkat yang mampu meng-cover pesan inti dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan TikTok yang penuh tren dan hiburan singkat, kamu bisa menggunakan tren-tren tersebut sebagai konten ringan dengan sound yang populer dan gaya bahasa yang santai. Tapi tetap perhatikan kesesuaiannya dengan merek dan citra brand.

2. Instagram Memengaruhi Lifestyle melalui Visual Storytelling

Audiens menggunakan Instagram sebagai tempat mereka menemukan inspirasi, lifestyle yang dapat ditiru, dan cerita-cerita menarik. Oleh karenanya, konten-konten di Instagram memiliki narasi yang kuat dengan visual yang didesain sedemikian rupa sebagai pelengkap. Berbagai bisnis bisa sukses di Instagram karena menggunakan platform ini untuk mengenalkan produk dan melakukan branding, menceritakan kisah nyata yang menginspirasi, maupun membangun komunitas yang kuat.

Sesuaikan konten yang akan kamu unggah di Instagram dengan konten yang lebih interaktif dan narasi atau caption yang emosional dengan hook menarik. Gunakan foto dan video yang berkualitas sehingga bisnis kamu bisa membangun kredibilitas melalui estetika yang konsisten.

3. Membangun Otoritas di LinkedIn

Berbeda dari dua platform di atas, LinkedIn adalah ruang digital yang profesional. Di sini audiens mencari koneksi profesional, wawasan, dan berbagai keahlian. Konten-konten yang informatif dan relevan dengan industri yang ditekuni adalah yang mereka inginkan untuk memenuhi halaman home mereka. Jika bisnismu menggunakan platform ini, kamu harus memposisikannya sebagai pemimpin industri untuk membangun otoritas dan kredibilitas.

Di LinkedIn, kamu akan fokus membuat konten-konten yang memiliki nilai tambah, seperti analisis tren, studi kasus, dan tips karier. Kamu bisa menuliskan postingan yang panjang ataupun artikel yang lebih rinci. Gunakan gaya bahasa yang profesional dengan tetap memberikan hook menarik supaya audiens mau membaca kontenmu lebih lanjut.

Baca Juga: Bagaimana Cara Digital Marketing Efektif untuk UMKM?

Kesimpulan

Sebenarnya mirroring content bukanlah strategi yang menghambat, hanya saja kamu perlu membuat strategi ini bisa lebih efektif saat diterapkan. Metode mirroring content bisa jadi jebakan jika kamu nggak paham dengan baik user behavior dari tiap platform yang akan kamu gunakan. Dengan memahami setiap platform dan tetap konsisten dengan identitas merek, secara tidak langsung kamu juga menghormati audiens dan memahami bagaimana cara mereka mengonsumsi setiap informasi.

Metode apapun yang kamu terapkan harus dieksekusi dengan strategi yang lebih cerdas. Jangan lupa untuk selalu berfokus pada audiens untuk konten yang lebih efektif dan peningkatan bisnis yang lebih kuat.

Nashwah Ainurriza
nainurriza@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *