Waspada 4 Kesalahan Ini untuk Branding Anti-Gagal!

DIPDOP > Marketing > Strategi Bisnis > Waspada 4 Kesalahan Ini untuk Branding Anti-Gagal!
Branding Anti Gagal

Sudah bukan sebuah rahasia lagi bahwa branding adalah aspek krusial yang harus dimiliki bisnis untuk membangun dan mempertahankan reputasi. Munculnya berbagai bisnis yang menawarkan produk atau layanan yang sama membuat proses branding akan membantu sebuah bisnis dapat dikenal dengan ciri khasnya. Branding lebih dari sekedar logo atau slogan, tetapi juga menciptakan pengalaman pelanggan yang konsisten dan membangun hubungan personal maupun emosional antara merek dengan pelanggan. Namun, tidak sedikit bisnis yang melakukan kesalahan pada proses penerapan branding sehingga strategi tidak terimplementasi dengan baik.

Memahami kesalahan-kesalahan yang terjadi bisa membantu kamu lebih berhati-hati dalam merancang strategi. Berikut adalah empat kesalahan yang dapat terjadi pada saat branding:

Mengabaikan Brand Guideline

Biasanya saat brand terbentuk, ada guideline yang mengiringi perencanaan atau strateginya. Mulai dari palet warna, tipografi, elemen visual dan lainnya. Hal ini untuk memberikan ciri khas yang konsisten ketika digunakan dalam berbagai situasi seperti iklan, konten di media, packaging, bahkan sampai desain interior lokasi.

Namun, proses branding dapat terhambat jika brand guideline yang telah dibuat tidak dipatuhi. Padahal konsisten mengikuti guideline sangat membantu proses branding jadi lebih efektif.

Bisnis jadi dinilai memiliki prinsip dan dianggap terpercaya. Pelanggan maupun masyarakat biasa jadi bisa mengenali brand dengan mudah.

Baca Juga: Ini Pentingnya Visual Identity untuk Bisnis!

Target Pasar yang Tidak Tepat

Riset target pasar adalah salah satu di antara langkah krusial dalam membangun bisnis supaya apa yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan pasar. Sayangnya, salah dalam penargetan bisa saja terjadi. Ketidaksesuaian ini dapat berakibat alokasi sumber daya menjadi tidak efektif, hingga anggaran yang terbuang sia-sia karena marketing yang tidak sesuai. Selanjutnya, hal ini dapat menghambat pertumbuhan bisnis karena berdampak pada target penjualan yang tidak bisa tercapai.

Ketidaktepatan target pasar juga dapat berdampak fatal bagi citra brand di mata konsumen. Reputasi bisnis bisa jadi korban karena ketidaksesuaian preferensi dan nilai dengan konsumen. Untuk menghindarinya, kamu harus melakukan riset mendalam berbasis data agar keputusan yang diambil valid.

Memperbanyak komunikasi dengan pelanggan dan masyarakat yang tertarik dengan niche bisnis kamu bisa membantu dalam riset untuk mengetahui kebutuhan dan preferensi mereka. Tidak salah untuk menyesuaikan target pasar berdasarkan perubahan tren dan kebutuhan konsumen, asal kamu tidak mengabaikan branding yang sudah dibuat. Feedback juga akan sangat membantu dalam proses evaluasi nantinya. Sehingga mendengarkan feedback maupun menyiapkan media yang efektif akan membantu kamu dalam proses branding.

Voice-Tone Berbeda

Marketing dan branding termasuk dari cara brand berkomunikasi dengan pelanggan dan audiens. Karena itu, menentukan voice-tone yang sesuai penting agar audiens bisa mengenali brand dengan baik pada berbagai media yang digunakan.

Voice tone ini akan diterapkan dalam berbagai kepentingan. Saat berinteraksi dengan audiens, posting konten di media sosial, sampai mengirimkan email. Meskipun voice tone bukan menjadi hal pertama yang diingat, akan tetapi mempertahankan voice tone memperkuat branding di benak audiens.

Kamu bisa mempersiapkan panduan penulisan dan mungkin mengumpulkannya dengan brand guideline yang ada. Pedoman penggunaan voice tone ini nantinya akan digunakan secara konsisten sehingga audiens mendapatkan kesan seperti berkomunikasi dengan orang yang sama.

Tidak Konsisten di Berbagai Platform

Online presence sepertinya sudah menjadi sebuah keharusan bagi bisnis untuk memperkuat eksistensi agar masyarakat dapat mengenali dan mengetahui kredibilitas bisnis. Berbagai platform yang tersedia bisa dipilih dengan menyesuaikan target pasar dan pengguna pada platform untuk efektivitas branding. Namun, branding yang ditunjukkan harus tetap sama di setiap platform manapun.

Jika tidak, reputasi dan kredibilitas brand akan dipertanyakan. Ibaratnya seperti kita mengenali orang yang menggunakan identitas berbeda atau akun alter. Ini akan membuat audiens dan pelanggan kebingungan, buruknya lagi bisnis bisa dianggap menipu.

Apapun dan berapapun platform yang digunakan, menyelaraskan branding harus dilakukan agar kehadirannya bisa dipercaya. Dengan menggunakan identitas sesuai pedoman, brand identity akan menjadi khas diingat di benak audiens. Identitas yang konsisten juga meningkatkan brand awareness karena elemen-elemen yang digunakan sama dan menunjukkan profesionalisme yang tinggi. Dengan konsisten mempertahankan branding, bisnis juga menunjukkan keunggulan kompetitif yang lebih besar.

Kesimpulan

Poin-poin di atas merangkum secara singkat kesalahan umum yang dapat terjadi dalam proses branding. Dalam praktiknya, mungkin akan muncul ketidaktepatan yang lain yang dalam hal ini perlu kamu evaluasi seiring berjalannya waktu. Mempertahankan prinsip brand yang sudah dibangun mungkin tidak mudah dalam proses branding mengingat lingkungan bisnis yang semakin ketat dan bisnis-bisnis lain yang akan muncul membawa keunikannya masing-masing. Namun konsistensi branding akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis kamu.

Perlu diingat bahwa prinsip dan identitas bisnis yang sudah dibangun bukan menjadi penghalang bagi kamu mengikuti tren yang sedang berkembang. Tapi kamu harus ingat untuk menyesuaikan tren yang cocok untuk nilai-nilai brand, jangan terlalu bergantung dengan tren. Sama halnya dengan jangan mengabaikan tren begitu saja. Lakukan perubahan dan improvisasi secara berkala jika memang dibutuhkan, tanpa menghilangkan nilai dan keunikan yang dimiliki bisnis.

Baca Juga: Ini 5 Kesalahan Marketing Bisnis di Indonesia, Wajib Tahu!

Nashwah Ainurriza
nainurriza@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *