
Pendahuluan
DIPDOP.net – Tahun 2026 tinggal hitungan bulan. Pemerintah sudah mulai menyiapkan arah pembangunan lewat rancangan APBN, dan salah satu yang menonjol: UMKM masuk sebagai prioritas utama. Bukan cuma jargon, tapi ada anggaran nyata yang diarahkan untuk mendukung jutaan usaha kecil di Indonesia.
Buat sebagian orang, ini terdengar sekadar berita ekonomi. Tapi buat pelaku usaha, ini bisa jadi pintu besar menuju perubahan. Pertanyaannya, kalau UMKM sudah diprioritaskan, kita sebagai pelaku usaha harus apa? Karena sebesar apa pun program pemerintah, kalau pelakunya nggak siap, ya tetap lewat begitu aja.
Kenapa UMKM Jadi Sorotan?
UMKM selama ini bukan sekadar pelengkap. Mereka penyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Angka ini menjelaskan kenapa pemerintah mulai serius memberi perhatian.
Tapi ada alasan lain yang jarang disadari: rasio pengusaha di Indonesia masih rendah. Data BPS beberapa tahun lalu menunjukkan jumlah pengusaha kita baru sekitar 3,5% dari populasi. Negara maju rata-rata punya rasio di atas 10%. Artinya, kita masih kekurangan banyak pengusaha baru.
Di sinilah UMKM memegang peran. Bagi jutaan orang, UMKM adalah pintu paling realistis buat mulai jadi pengusaha. Modal bisa kecil, bisa dimulai dari rumah, dan peluangnya luas. Pemerintah sadar, kalau UMKM diperkuat, jumlah pengusaha otomatis naik.
Peluang Nyata di APBN 2026
Program yang ditawarkan pemerintah lewat APBN 2026 bukan main-main. Ada beberapa peluang yang bisa ditangkap UMKM:
- Akses Modal Lebih Mudah
Kredit dengan bunga rendah, subsidi, hingga pembiayaan lewat KUR bisa bikin UMKM punya napas lebih panjang. - Pelatihan & Peningkatan Kapasitas
Dari manajemen usaha, pemasaran digital, sampai literasi keuangan. Semua ini bisa meng-upgrade skill pengusaha kecil biar lebih siap bersaing. - Digitalisasi UMKM
Pemerintah mendorong UMKM masuk ekosistem digital. Artinya, peluang dapat fasilitas buat bikin toko online, ikut marketplace, atau pakai aplikasi keuangan. - Insentif Pajak & Fiskal
Ada rencana keringanan fiskal buat UMKM yang patuh. Ini bisa meringankan beban usaha kecil. - Kolaborasi & Inkubasi
Beberapa program akan melibatkan UMKM dengan perusahaan besar atau lembaga riset. Buka jalan kolaborasi yang sebelumnya susah dijangkau.
Baca juga: Tembus Negara Tetangga, Seblak Instan Kylafood Bikin Thailand Demam Seblak Seketika
Tantangan yang Mengadang
Meski peluangnya gede, ada masalah klasik yang bikin UMKM sering gagal manfaatin program:
- Minim Informasi → Banyak pelaku usaha nggak tahu detail program.
- Administrasi Berantakan → Laporan keuangan sederhana aja jarang dibuat.
- Kurang Digital Savvy → Masih banyak yang gaptek dan takut masuk online.
- Mentalitas Tunggu → Nunggu bola datang, bukan jemput peluang.
Selain itu, ada tantangan besar di dunia kerja. Banyak tenaga kerja baru yang nggak terserap pasar formal. Setiap tahun jutaan orang masuk usia kerja, tapi nggak semua dapat pekerjaan tetap. Solusinya? Jadi pencipta kerja, bukan pencari kerja. Dan UMKM bisa jadi jalannya.
Jadi, UMKM Harus Apa?
Kalau ditanya “UMKM harus apaa?”, jawabannya bukan teori rumit. Ada langkah sederhana tapi krusial:
- Cari Informasi Resmi
Jangan tunggu dikasih tahu. Aktif cek situs pemerintah, media terpercaya, atau komunitas bisnis. - Rapikan Administrasi
Minimal punya catatan arus kas, legalitas, dan NPWP. Ini syarat penting kalau mau ikut program pemerintah atau mengajukan kredit. - Siapkan Rencana Usaha
Punya proyeksi ke depan bikin usaha lebih dipercaya bank, investor, maupun pemerintah. - Naik Level Digital
Mulai dari hal kecil: bikin akun bisnis, coba jualan online, atau gunakan aplikasi kasir. - Gabung Komunitas atau Ekosistem
Jangan jalan sendirian. Komunitas bisa kasih info cepat, mentoring, bahkan peluang kolaborasi. - Jangan Takut Jadi Pengusaha
Banyak orang ngerasa “belum siap” jadi entrepreneur. Padahal UMKM justru jalannya. Mulai kecil, belajar sambil jalan, dan tumbuh bareng.
Peran Ekosistem Pendukung
APBN bisa kasih anggaran, tapi yang bikin UMKM bener-bener maju adalah ekosistem di sekitarnya. Ekosistem ini bisa jadi mentor, fasilitator, bahkan jembatan ke peluang baru.
Bentuknya bisa:
- Pelatihan Aplikatif → materi yang langsung bisa dipakai di lapangan.
- Komunitas Sharing → tempat bertukar pengalaman antar-UMKM.
- Pendampingan Bisnis → mulai dari branding, pemasaran digital, sampai manajemen keuangan.
- Networking → menghubungkan ke supplier, investor, atau mitra usaha.
Dengan ekosistem yang kuat, UMKM bisa lebih siap manfaatin setiap kebijakan pemerintah.
Kenapa Butuh Lebih Banyak Pengusaha?
Indonesia punya populasi lebih dari 270 juta orang. Kalau rasio pengusaha baru 3–4%, artinya kita cuma punya sekitar 10 juta pengusaha. Bandingkan dengan negara maju, di mana 10–12% penduduknya entrepreneur.
Kesenjangan ini bikin tenaga kerja kita menumpuk di sektor informal. Banyak lulusan sekolah atau kampus akhirnya jadi pengangguran atau kerja serabutan. Padahal, kalau jumlah pengusaha naik, lapangan kerja baru otomatis tercipta.
UMKM jadi cara paling realistis untuk memperbanyak pengusaha baru. Nggak semua orang bisa langsung bikin startup miliaran. Tapi banyak yang bisa mulai dari warung kopi, toko online kecil, atau jasa kreatif.
Contoh Nyata
Bayangkan seorang pekerja yang baru saja di-PHK. Kalau cuma mengandalkan cari kerja, persaingannya berat. Tapi kalau dia mulai bisnis kecil—misalnya jual makanan online—itu sudah langkah jadi pengusaha. Kalau dapat akses modal dari program pemerintah, plus belajar digital marketing dari komunitas, bisnisnya bisa berkembang. Lama-lama, dia bukan cuma kerja buat diri sendiri, tapi juga buka lapangan kerja buat orang lain.
Inilah esensi kenapa UMKM jadi prioritas di APBN 2026: biar makin banyak orang berani bikin usaha, dan makin banyak lapangan kerja tercipta.
Kesimpulan
APBN 2026 jelas membawa kabar baik: UMKM masuk daftar prioritas. Ada modal murah, pelatihan, digitalisasi, dan insentif pajak. Tapi pertanyaan penting tetap sama: UMKM harus apaa?
Jawabannya: jangan pasif. Cari info, rapikan administrasi, siapin rencana, kuasai digital, dan jangan takut jadi pengusaha. Indonesia butuh lebih banyak entrepreneur, dan UMKM adalah pintu masuk paling realistis.
Kesempatan besar ini jangan dilewatkan. Karena peluang hanya akan jadi nyata buat mereka yang siap menyambutnya.
Baca juga: Daftar Anggaran Sederet Program Prioritas Pemerintah dalam APBN 2026
