
Dipdop.net – Perbedaan iklim dan kondisi permukaan bumi dipengaruhi oleh meningkatnya kebiasaan manusia yang merusak alam. Kebiasaan manusia tersebut pun belum berkurang di tahun 2025, tetapi malah diperparah. Tidak heran, jika akhir-akhir ini cuaca tak menentu, suhu udara lebih panas daripada biasanya, dan polusi yang semakin merebak.
Walaupun demikian, kita juga memiliki kebutuhan sehari-hari yang harus terpenuhi dengan membelinya. Dari sini, muncul ketergantungan masyarakat terhadap produsen penyedia kebutuhan tersebut. Untung memang kalau kebutuhan sudah terpenuhi, tetapi barangkali di tengah kondisi iklim yang memburuk, bukankah kita juga sepatutnya memikirkan lingkungan?
Setiap produk yang kita beli dan konsumsi menghasilkan limbah. Ada yang dapat didaur ulang dan ada yang tidak dapat didaur ulang sama sekali. Nah, limbah dari produk yang sulit atau bahkan tidak mampu didaur ulang ini menjadi PR bagi para brand, termasuk UMKM, untuk membantu berperan dalam menjaga lingkungan.
Memasarkan produk sekaligus berkewajiban untuk menjaga lingkungan memang menjadi sebuah tantangan. Di sinilah para brand harus memutar otak hingga sampai pada solusi dengan menggencarkan green marketing. Namun, green marketing tidak mudah untuk dilakukan. Lalu, bagaimana cara agar tetap sukses green marketing di tahun 2025?
Baca Juga: Sekarang Waktunya Biarin Gen Z yang Ngurus Digital Marketing
Apa Sebenarnya Arti dari Green Marketing itu?
Sejatinya, green marketing merupakan jenis teknik marketing yang secara bersamaaan berusaha memenuhi kebutuhan dan mengutamakan prinsip ramah lingkungan (eco-friendly), berkelanjutan (sustainable), dan menjaga alam (protecting the environment). American Marketing Association (AMA) mendefinisikan green marketing dengan, “Green marketing is the marketing of products that are presumed to be environmentally safe.” (Green marketing adalah teknik memasarkan produk yang dianggap aman terhadap lingkungan)
Oleh sebab memiliki tujuan mengedepankan lingkungan pula, green marketing ini memiliki banyak hambatan. Mulai dari memikirkan lebih jauh mengenai konsep kemasan produk yang bisa didaur ulang, proses produksi yang minim dari limbah yang mencemari lingkungan, serta mendukung prinsip slow industry.
Atas dasar hambatan yang lebih memakan banyak tenaga tersebut, acap kali hasil produk eco-friendly yang dijual memiliki harga yang lebih mahal daripada umumnya. Meskipun begitu, green marketing tetap menjadi pilihan yang bahkan lebih dari sekadar niche, melainkan menjadi wujud dari istilah, “Ada harga, ada kualitas.”
Apa saja Rahasia Kesuksesan Green Marketing di Tahun 2025?
Di tahun 2025, isu kerusakan lingkungan terus bermunculan di berbagai belahan dunia. Ditambah dengan adanya kemajuan teknologi, segala yang muncul di media sosial bisa dengan cepat tersebar secara masif. Isu kerusakan alam menerima banyak perhatian dengan adanya kemajuan teknologi ini. Masyarakat semakin melek dengan isu tersebut sehingga memiliki kesadaran untuk mulai menjaga lingkungan.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, kemajuan teknologi juga dimanfaatkan dengan baik dalam dunia digital marketing. Alhasil, green marketing merupakan penggabungan antara dua konsep di atas. Green marketing menjadi jawaban dari masalah lingkungan sekaligus bisnis di tahun 2025. Berikut ini rahasia sukses green marketing sehingga menjadi teknik marketing yang paling cocok di tahun 2025.
1. Tanamkan mindset eco-friendly dalam digital marketing kepada audiens
Sebelum memasarkan produkmu, yang pertama kali harus dilakukan adalah menanamkan pandangan agar selalu bersikap eco-friendly dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Hal ini penting untuk menjamin bahwa audiens harus terlebih dahulu memahami pentingnya menjaga lingkungan sebelum menyadari dan mengaplikasikannya secara rutin dalam kehidupannya. Dengan demikian, barulah demand akan produk yang eco-friendly baru tercipta.
2. Riset trend dan hubungannya dengan isu terkait
Isu lingkungan yang muncul tidak hanya sekali dua kali saja, melainkan banyak dan sifatnya kompleks. Untuk isu sampah sekali pun, ada banyak yang bisa dibahas, seperti sampah pakaian, sampah pembalut menstruasi, cara mengolah sampah yang baik, hingga sampah yang tidak bisa didaur ulang. Umpamanya, kamu bisa meriset dulu trend atau isu yang ramai dibahas terutama di tahun 2025.
3. Perdalam pengetahuan tentang isu yang diangkat
Mengetahui isu lingkungan dari dasarnya saja tidak cukup. Untuk mengajak masyarakat ikut peduli, kamu perlu memperdalam pengetahuan mengenai isu yang ingin kamu angkat demi memahami struktur permasalahannya.
4. Produk yang dipasarkan adalah solusi dari isu lingkungan
Selanjutnya, kamu perlu memastikan bahwa produk yang kamu pasarkan merupakan solusi dari isu yang berhubungan. Misalnya, isu lingkungan yang kamu pilih adalah sampah kemasan skincare yang terlalu banyak menghasilkan limbah. Maka, kamu bisa buat konsep produk dengan kemasan yang minimalis dan tentunya minim dari limbah.
5. Buat campaign menjaga lingkungan
Ketika kamu sudah mulai masuk dalam green marketing dan diingat oleh audiens, lantas kamu perlu mempertahankan brand personality-mu yang memiliki produk eco-friendly. Hal ini bisa kamu lakukan dengan cara membuat campaign menjaga lingkungan atau memberikan prosedur membuang kemasan produk yang benar.
Baca Juga: Benarkah Konten Viral Tak Selalu Meningkatkan Penjualan?
Kesimpulan
Green marketing merupakan teknik marketing yang paling cocok untuk diterapkan di tahun 2025. Alasannya adalah semakin banyaknya isu kerusakan lingkungan dan semakin marak pula masyarakat yang melek terhadap isu tersebut berkat adanya kemajuan teknologi melalui medsos. Apabila kamu tertarik menerapkan green marketing ini, pastikan kamu telah riset isu lingkungan yang sesuai serta kehadiran produkmu yang menjadi solusi dari adanya isu tersebut. (WA)
