
Dipdop.net – Setiap industri memiliki pola unik dalam hal permintaan konsumen. Misalnya, industri fashion cenderung meledak saat Ramadhan, sementara industri lain mungkin justru mengalami penurunan. Memahami pola high-low season bukan sekadar tentang tanggal kembar atau hari gajian, melainkan tentang mengenali perubahan perilaku belanja pelanggan dari waktu ke waktu. Dengan memahami pola ini, strategi iklan bisa dioptimalkan, baik saat high season maupun low season.
Mengapa Memahami High-Low Season Penting?
Menurut getandride.com, pemahaman akan high-low season membantu advertiser untuk tidak panik saat performa iklan menurun. Terkadang, penurunan performa bukan karena strategi yang salah, melainkan karena pasar sedang lesu. Di sisi lain, high season adalah momen tepat untuk meningkatkan budget iklan secara agresif. Dengan memahami pola ini, advertiser bisa membuat strategi yang lebih efektif dan efisien.
Baca juga: Kata siapa Ramadan cuma buat produk muslim aja? – DIPDOP
Pola High-Low Season Sepanjang Tahun
High Season:
- Ramadhan & Lebaran: Industri fashion, makanan, dan kecantikan biasanya mengalami peningkatan signifikan.
- Harbolnas: Tanggal-tanggal seperti 9.9, 10.10, 11.11, dan 12.12 menjadi momen belanja besar-besaran.
- Chinese New Year: Produk hadiah dan perayaan laris manis.
- Back to School: Alat tulis, seragam, dan gadget menjadi primadona.
- Akhir Tahun: Natal dan Tahun Baru memicu peningkatan belanja.
Low Season:
- Januari-Februari: Setelah tahun baru, konsumen cenderung menahan diri untuk berbelanja.
- Setelah Harbolnas: Dompet konsumen sedang ‘puasa’ setelah belanja besar-besaran.
- Pertengahan Tahun (Mei-Juli): Kecuali ada event tertentu, periode ini cenderung sepi.
- Setelah Lebaran: Konsumen sudah banyak berbelanja sebelumnya, sehingga permintaan menurun.
Pola High-Low Season Bulanan
High Season:
- Twindate: Tanggal kembar seperti 1.1, 2.2, 3.3, dan seterusnya.
- Payday: Tanggal 25 hingga 5 di bulan berikutnya, saat gajian tiba.
- Awal Bulan: Tanggal 1-10, saat konsumen memiliki budget lebih.
Low Season:
- Pertengahan Bulan: Tanggal 11-20, saat budget konsumen mulai menipis.
- Setelah Harbolnas atau Big Sale: Konsumen cenderung berhemat setelah belanja besar.
Baca juga: Kenapa Top Brand Punya Lebih dari 1 Akun? Tren Sosmed 2025 yang Perlu Diketahui – DIPDOP
Strategi Menghadapi Low Season
Meski low season sering dianggap sebagai masa sulit, sebenarnya ada peluang yang bisa dimanfaatkan:
- Fokus pada Retargeting & Loyalitas Pelanggan: Manfaatkan periode ini untuk meningkatkan repeat order dan upselling kepada pelanggan setia.
- Testing Creative & Copy Baru: Low season adalah waktu tepat untuk mencoba strategi kreatif baru tanpa harus mengeluarkan budget besar.
- Membangun Brand Awareness: Gunakan periode ini untuk memperkuat kesadaran merek, sehingga siap menghadapi high season dengan lebih baik.
Kesimpulan
Memahami pola high-low season adalah kunci untuk mengoptimalkan strategi iklan. Dengan mengetahui kapan harus meningkatkan budget dan kapan harus fokus pada retensi pelanggan, advertiser bisa memaksimalkan ROI (Return on Investment) secara efektif. Selain itu, pemahaman ini juga membantu mengurangi kekhawatiran saat performa iklan menurun, karena penurunan tersebut mungkin hanya bersifat sementara akibat kondisi pasar.
Dengan menerapkan strategi yang tepat, baik di high season maupun low season, advertiser bisa tetap unggul dalam persaingan pasar yang semakin ketat.
(SA)

One thought on “Mengoptimalkan Strategi Iklan dengan Memahami High-Low Season”