Strategi Branding Jangka Panjang: Kenapa Product Market Fit Harus Didahulukan?

DIPDOP > Marketing > Bisnis > Strategi Branding Jangka Panjang: Kenapa Product Market Fit Harus Didahulukan?
Strategi Branding Jangka Panjang: Kenapa Product Market Fit Harus Didahulukan?

Dipdop.net – Banyak pelaku UMKM ingin bisnisnya terlihat profesional sejak awal. Logo dibuat menarik, kemasan diperbarui, akun media sosial dirapikan. Namun, penjualan tetap naik-turun dan sulit berkembang. Jika ini terjadi, bisa jadi masalahnya bukan pada branding, melainkan pada product market fit.

Product market fit adalah kondisi ketika produk benar-benar sesuai dengan kebutuhan, keinginan, dan ekspektasi pasar. Tanpa product market fit, strategi branding jangka panjang tidak akan bekerja optimal. Promosi boleh jalan, tapi hasilnya hanya sementara.

Hal ini juga disampaikan oleh Stefanie Regina, founder Haloka Group, dalam podcastSatu-Satunya Podcast Branding yang Lo Butuh – Insights 041 ft. Stefanie Regina” produksi Creativera. Ia menegaskan bahwa branding tidak bisa menyelamatkan produk yang tidak relevan dengan pasar. Seperti yang ia sampaikan, “Branding enggak akan bisa nyelametin produk yang jelek.” Artinya, sebelum berbicara soal citra merek, UMKM perlu memastikan fondasi bisnisnya sudah kuat.

Membangun Bisnis Sehat dengan Hierarki Kebutuhan Maslow

Agar strategi branding jangka panjang berjalan efektif, bisnis perlu dibangun dari dasar yang benar. Stefanie mengibaratkan proses ini seperti hierarki kebutuhan Maslow, tetapi diterapkan dalam konteks bisnis.

Dalam teori Maslow, manusia harus memenuhi kebutuhan dasar sebelum mencapai aktualisasi diri. Prinsip yang sama berlaku untuk bisnis. Brand tidak bisa tumbuh kuat jika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.

Stefanie menyebut konsep ini sebagai piramida kebutuhan bisnis, yang terdiri dari tiga tahap utama:

  1. Product market fit sebagai kebutuhan paling dasar.
  2. Cash Ffow yang sehat sebagai bentuk rasa aman bisnis.
  3. Loyalitas dan positioning merek sebagai bentuk aktualisasi bisnis.

Ketiga tahap ini saling berkaitan dan menjadi kunci branding UMKM yang berkelanjutan. Mari kita bahas satu per satu.

Baca juga: Jangan Cuma FOMO, Menentukan Tujuan Marketing Itu Penting!

Menemukan Product Market Fit yang Dibutuhkan Pasar

Tahap pertama dalam membangun branding jangka panjang adalah memastikan produk sudah mencapai product market fit. Di tahap ini, fokus utama bukan menjual sebanyak mungkin, tetapi memahami kebutuhan pasar secara mendalam.

Stefanie menekankan, semua keputusan bisnis harus berdasarkan consumer research, bukan asumsi pribadi. “Banyak brand gagal karena hanya menebak-nebak apa yang diinginkan pasar,” ujarnya dalam podcast.

Contohnya, jika kamu membuka kedai kopi, jangan langsung fokus pada logo estetik atau konsep visual. Pastikan dulu rasa kopi sesuai selera pasar sekitar, harga masuk akal untuk target konsumen, dan pengalaman pelanggan konsisten dan nyaman. 

Beberapa langkah sederhana untuk menemukan product market fit:

  • Tanyakan langsung alasan pelanggan membeli produk kamu.
  • Catat keluhan atau alasan pelanggan berhenti membeli.
  • Amati produk mana yang paling sering dibeli dan diulang.

Jika produk sudah benar-benar dibutuhkan pasar, barulah strategi branding jangka panjang bisa dijalankan dengan hasil yang lebih maksimal.

Menjaga Arus Kas agar Bisnis Tetap Aman

Setelah produk diterima pasar, tantangan berikutnya adalah menjaga arus kas bisnis. Banyak UMKM berhenti di tengah jalan bukan karena produknya buruk, tetapi karena cash flow tidak terkontrol.

Stefanie menegaskan bahwa branding tidak bisa dipikirkan jika operasional saja belum aman. Arus kas yang sehat membuat bisnis lebih siap menghadapi perubahan pasar dan tidak bergantung pada promosi agresif terus-menerus. Beberapa langkah sederhana untuk menjaga arus kas UMKM tetap aman:

  • Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis.
  • Gunakan aplikasi pencatat keuangan sederhana.
  • Sisihkan dana darurat untuk tiga bulan operasional.

Baca juga: Haruskah UMKM Baru Segera Memulai Digitalisasi Keuangan?

Membangun Loyalitas dan Positioning Sebagai Aktualisasi Bisnis

Tahap tertinggi dalam strategi branding jangka panjang adalah loyalitas pelanggan dan positioning brand. Di fase ini, pelanggan tidak hanya membeli karena produk bagus, tetapi karena mereka percaya dan terhubung dengan brand.

Brand yang kuat mampu memberi nilai lebih, baik secara emosional maupun sosial. Misalnya, bisnis kopi lokal tidak hanya menjual minuman, tetapi juga membawa misi pemberdayaan petani kopi atau menciptakan ruang komunitas. Untuk membangun positioning yang kuat, UMKM bisa mulai dari pertanyaan sederhana:

  • Kenapa bisnis ini kamu mulai?
  • Masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan?
  • Apa yang membuat kamu berbeda dari pesaing?

Menyeimbangkan Brand Building dan Brand Activation

Dalam praktiknya, strategi branding terdiri dari dua pendekatan utama:

  • Brand building, seperti menabung untuk masa depan. Dampaknya lama, tapi kuat dan berkelanjutan.
  • Brand activation, seperti diskon, giveaway, atau endorsement yang hasilnya cepat, tapi bersifat sementara.

Banyak UMKM terlalu fokus pada brand activation tanpa membangun fondasi, padahal hasil brand building biasanya baru terasa setelah 6–9 bulan, dengan dampak berupa loyalitas pelanggan dan biaya promosi yang lebih efisien.

Kesimpulan

Strategi branding jangka panjang tidak bisa berdiri sendiri tanpa fondasi bisnis yang kuat. Product market fit adalah langkah pertama yang wajib dipastikan sebelum berbicara soal citra merek. Setelah itu, arus kas yang sehat dan positioning brand akan memperkuat keberlanjutan bisnis.

Sebelum mengeluarkan biaya besar untuk desain atau promosi, pastikan produk benar-benar dibutuhkan pasar. Dengan urutan yang tepat, branding bukan hanya membuat bisnis terlihat menarik, tetapi juga relevan dan tahan lama.

Kunjungi Dipdop.net untuk insight lain seputar strategi konten, digital marketing, dan UMKM. (RP)

Rizma Purwitasari
rizmapurwitasari126@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *