
Dipdop.net – Dalam dunia digital yang makin cepat, konsumen hanya butuh 0,5 detik buat memutuskan apakah mereka mau berhenti atau lanjut scroll. Buat UMKM, ini berarti konten bukan sekadar visual, tapi pemikat pertama yang menentukan: dilihat atau dilewatkan. Konten yang sukses jadi “scroll stopper” bukan hanya menarik, tapi juga relevan, singkat, dan punya nilai emosional yang kuat.
Tahun 2025, pola konsumsi konten makin pendek karena pengguna terbiasa dengan short video, carousel interaktif, dan update cepat di berbagai platform. UMKM perlu memikirkan cara bikin konten yang bukan cuma estetik, tapi juga “nempel” di otak konsumen. Kuncinya ada pada strategi yang tepat: visual kuat, storytelling singkat, dan pesan yang jelas sejak detik pertama.
Berikut trik agar konten UMKM bisa benar-benar bikin konsumen berhenti dan memperhatikan.
Visual yang Nendang: Kesan Pertama yang Menentukan
Visual adalah faktor pertama yang menentukan apakah seseorang berhenti scroll atau tidak. Warna yang kontras, layout rapi, dan elemen desain yang jelas bisa langsung menarik mata. UMKM perlu fokus pada bagaimana visual bisa menyampaikan pesan hanya dalam hitungan detik. Sesuatu yang ringan, estetik, dan mudah dipahami biasanya paling efektif.
Selain warna, pemilihan angle dan komposisi juga berpengaruh besar. Produk yang difoto dengan pencahayaan natural dan framing simpel justru lebih mudah diterima konsumen. Mereka merasa visualnya “jujur” dan tidak terlalu dipoles, sehingga memberi kesan autentik. Konten seperti ini sering dianggap lebih relatable.
Tren 2025 juga menekankan visual yang bold namun minimalis. Artinya, tidak perlu ramai, tapi harus punya satu fokus utama. Semakin cepat mata bisa membaca konten, semakin besar peluang pengguna berhenti scroll. UMKM cukup menonjolkan satu pesan visual agar perhatian tidak terpecah.
Hook Singkat: Tangkap Perhatian dalam 2 Detik
Hook adalah kalimat pembuka yang menentukan apakah konsumen akan lanjut menonton atau membaca. Format hook yang efektif biasanya memiliki unsur kejutan, humor, atau masalah yang langsung terasa dekat dengan audiens. Kalimat sederhana seperti “Kamu pasti pernah ngalamin ini…” sering lebih ampuh daripada slogan yang rumit.
Hook yang pendek dan personal akan terasa lebih natural. Audiens zaman sekarang lebih suka bahasa yang ringan dibandingkan kalimat formal. UMKM bisa memakai gaya percakapan untuk menciptakan keintiman dengan audiens. Hal ini membuat konten terasa dibuat oleh manusia, bukan brand yang kaku.
Tahun 2025, format hook cepat seperti “Ini alasan kenapa produkmu nggak dilirik…” atau “3 detik buat buktiin kamu butuh ini” sangat efektif. Konten dengan hook langsung ke inti pesan membantu konsumen memutuskan dalam waktu singkat apakah konten tersebut relevan. Semakin cepat relevansinya muncul, semakin besar peluang attention tetap bertahan.
Story Mini: Cerita Pendek yang Bikin Konsumen Relate
Storytelling tidak harus panjang untuk jadi kuat. Justru cerita singkat dan to the point lebih cepat masuk ke perhatian konsumen. UMKM bisa menyampaikan pain point, solusi, dan hasil dalam satu alur cerita pendek. Format seperti ini terasa seperti pengalaman pribadi, sehingga lebih mudah diingat.
Cerita yang jujur biasanya efektif menarik emosi audiens. Misalnya, menceritakan kesulitan pelanggan, proses kecil di balik produksi, atau perubahan nyata setelah memakai produk. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari akan membantu konsumen merasa terlibat secara emosional.
Di 2025, konsumen lebih suka cerita dengan tone ringan. Mereka ingin membaca konten yang memberi value, tapi juga nyaman. Story mini yang hanya butuh 10–15 detik untuk dibaca atau ditonton bisa menjadi alat ampuh UMKM untuk membangun koneksi. Meski singkat, efeknya tetap besar.
Format Dinamis: Variasi Biar Konsumen Nggak Bosan
Pengguna media sosial cepat bosan jika kontennya monoton. Karena itu, variasi format sangat penting, mulai dari carousel edukatif, short video, testimonial singkat, hingga konten behind-the-scenes. Setiap format punya peran sendiri dan bisa menarik jenis audiens yang berbeda.
Carousel biasanya cocok untuk edukasi singkat karena bisa dipakai untuk menjelaskan poin-poin penting. Sementara itu, short video kuat untuk menunjukkan proses, ekspresi, atau perubahan sebelum-sesudah. UMKM perlu menyesuaikan format dengan jenis pesan yang ingin disampaikan agar konten lebih optimal.
Format dinamis juga membantu algoritma membaca bahwa akunmu aktif dan variatif. Ini meningkatkan peluang muncul di timeline konsumen. Dengan variasi yang tepat, konten tidak hanya menjadi “scroll stopper” sekali, tetapi berulang kali.
CTA yang Natural: Arahkan Perhatian Tanpa Terlihat Memaksa
Call-to-action (CTA) sering dianggap sebagai bagian terakhir, tetapi sebenarnya ia mengarahkan perhatian pengguna untuk tetap engage. CTA yang baik tidak memaksa, tetapi memberi pilihan jelas dan mudah diikuti. Kalimat seperti “Kamu mau versi lengkapnya?” terasa lebih ringan dibanding “Ayo beli sekarang!”.
CTA bisa berupa ajakan untuk save, share, atau cek produk. Yang penting, CTA harus konsisten dengan pesan utama konten. Konsumen biasanya lebih responsif pada CTA yang terasa seperti saran, bukan perintah. Dengan begitu, engagement bisa meningkat secara natural.
Pada 2025, CTA yang conversational semakin populer. Nada yang lebih santai dan bersahabat membuat audiens merasa dihargai. UMKM bisa memanfaatkan pendekatan ini untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Baca juga : Tips Membuat Konten Marketing Agar Viral
Kesimpulan
Konten “scroll stopper” bukan soal viral atau estetik semata, tapi tentang bagaimana brand UMKM mampu menangkap perhatian dalam waktu sangat singkat. Visual kuat, hook cepat, story mini, format variatif, dan CTA natural adalah kombinasi paling efektif untuk memaksimalkan perhatian konsumen. Dengan strategi yang tepat, UMKM bisa membuat konten yang bukan hanya dilihat, tapi juga diingat dan menggerakkan tindakan.
Bingung branding UMKM mu mulai dari mana? Bangun bareng DIPDOP solusinya (HS)
