
Dipdop.net – Di era digital seperti sekarang, persaingan bisnis tidak lagi soal siapa yang paling murah atau paling besar, tetapi siapa yang paling mampu mengingatkan calon pelanggan di waktu yang tepat. Pernah merasa habis melihat produk di marketplace, lalu iklannya muncul terus di media sosial? Itulah yang disebut retargeting.
Bagi UMKM Indonesia, retargeting bukan sekadar strategi “iklan mengikuti orang”, tapi alat cerdas untuk memaksimalkan peluang dari pengunjung yang sudah tertarik. Artikel ini akan membahas retargeting dari sudut pandang praktis, mudah dipahami, dan relevan untuk kondisi UMKM lokal.
Baca Juga: Cara Retargeting Iklan yang Efektif untuk UMKM
Apa Itu Retargeting dalam Digital Marketing?
Retargeting adalah strategi pemasaran digital yang menargetkan ulang orang-orang yang pernah berinteraksi dengan bisnis kita, baik melalui website, media sosial, marketplace, atau iklan sebelumnya.
Interaksi ini bisa bermacam-macam, misalnya:
- Pernah mengunjungi website produk
- Pernah melihat katalog atau produk tertentu
- Pernah memasukkan barang ke keranjang, tapi belum checkout
- Pernah berinteraksi dengan konten atau iklan
Artinya, audiens retargeting bukan orang asing. Mereka sudah mengenal brand kita, meskipun belum sampai tahap membeli.
Mengapa Retargeting Penting untuk UMKM?
Banyak UMKM langsung fokus mencari audiens baru, padahal kenyataannya tidak semua orang langsung beli di kunjungan pertama. Justru, sebagian besar calon pelanggan butuh waktu untuk yakin.
Di sinilah retargeting berperan. Strategi ini membantu UMKM:
- Mengingatkan kembali calon pembeli
- Membangun kepercayaan secara bertahap
- Mengurangi biaya iklan karena target lebih spesifik
- Meningkatkan peluang konversi tanpa harus menambah trafik baru
Untuk UMKM dengan budget terbatas, ini jelas lebih efisien dibanding iklan yang menyasar audiens terlalu luas.
Cara Kerja Retargeting Secara Sederhana
Secara umum, retargeting bekerja dengan mencatat interaksi pengunjung, lalu menampilkan iklan yang relevan setelahnya. Ketika seseorang mengunjungi website atau melihat produk, sistem akan mengenali perilaku tersebut dan memasukkannya ke dalam kelompok audiens tertentu.
Ketika audiens ini membuka media sosial atau website lain, iklan bisnis kita bisa muncul kembali, menyesuaikan dengan apa yang sebelumnya mereka lihat.
Dari sisi UMKM, proses ini terlihat sederhana: pasang sistem pelacakan → kumpulkan audiens → tampilkan iklan lanjutan.
Contoh Penerapan Retargeting di UMKM Indonesia
Bayangkan sebuah UMKM fashion lokal di Bandung yang menjual pakaian wanita. Mereka memiliki website katalog dan akun Instagram aktif.
Skenarionya seperti ini:
Seseorang membuka website, melihat produk dress, tapi belum membeli. Beberapa hari kemudian, saat membuka Instagram, ia melihat iklan dress yang sama, lengkap dengan pesan “Banyak yang repeat order, stok terbatas”.
Iklan tersebut bukan kebetulan. Itu adalah hasil retargeting yang menyasar orang yang sudah menunjukkan minat. Peluang terjadinya pembelian jauh lebih besar dibanding menargetkan orang yang belum pernah mengenal brand tersebut.
Retargeting Bukan Sekadar Mengulang Iklan
Kesalahan umum UMKM adalah menampilkan iklan yang sama berulang-ulang. Padahal, retargeting yang efektif justru memperhatikan tahap kesiapan calon pembeli.
Untuk pengunjung baru, pendekatannya bisa berupa edukasi atau pengenalan brand. Untuk yang sudah hampir membeli, pendekatannya bisa berupa penawaran khusus, testimoni, atau jaminan kualitas.
Dengan menyesuaikan pesan, retargeting terasa lebih relevan dan tidak mengganggu.
Tantangan Retargeting dan Cara Mengatasinya
Walaupun efektif, retargeting tetap punya tantangan. Salah satunya adalah risiko audiens merasa “dikejar” iklan. Jika terlalu sering muncul tanpa variasi pesan, justru bisa menimbulkan kesan negatif.
Solusinya adalah mengatur frekuensi tayang dan menyusun pesan yang lebih human. UMKM juga perlu memperhatikan transparansi data dan etika penggunaan informasi pelanggan, agar kepercayaan tetap terjaga.
Selain itu, jangan lupa untuk selalu mengevaluasi hasil. Retargeting bukan strategi sekali jalan, tapi proses berkelanjutan yang perlu disesuaikan dengan respons audiens.
Retargeting sebagai Investasi Jangka Panjang UMKM
Banyak UMKM menganggap iklan hanya soal jualan cepat. Padahal, retargeting lebih dari itu. Strategi ini membantu membangun hubungan, memperkuat ingatan brand, dan menciptakan peluang pembelian berulang.
Dalam jangka panjang, retargeting membuat bisnis tidak hanya bergantung pada trafik baru, tetapi juga mampu memaksimalkan potensi audiens yang sudah ada. Ini adalah pendekatan yang lebih matang dan berkelanjutan.
Selain untuk penjualan, retargeting juga bisa dimanfaatkan UMKM sebagai alat membaca minat pasar. Dari iklan yang paling banyak diklik, produk yang sering dilihat ulang, hingga respons terhadap pesan promosi tertentu, pelaku usaha bisa memahami kebutuhan konsumen secara lebih nyata. Insight ini sangat berguna untuk menentukan stok, menyusun penawaran, bahkan memperbaiki tampilan produk agar lebih sesuai dengan kebiasaan dan preferensi pasar Indonesia.
Kesimpulan
Retargeting bukan strategi rumit yang hanya cocok untuk brand besar. Justru, bagi UMKM Indonesia, retargeting adalah cara cerdas untuk bekerja lebih efisien dengan sumber daya terbatas. Dengan memahami perilaku audiens, menyusun pesan yang relevan, dan menjaga etika pemasaran, retargeting bisa menjadi penggerak pertumbuhan yang konsisten. UMKM yang mampu memanfaatkan strategi ini bukan hanya akan meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggannya.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)
