
Dipdop.net – Banyak pelaku UMKM yang kelihatannya usahanya laris, order masuk setiap hari, tapi anehnya uangnya tetap nggak kepegang. Jualan lancar, omzet naik, tapi saldo rekening seperti nggak pernah penuh. Kalau kamu pernah ngerasain hal ini, kamu bukan satu-satunya. Masalah klasik ini biasanya muncul bukan karena kamu kurang jago jualan, tapi karena belum paham cara ngatur keuangan bisnis dengan benar. Di dunia UMKM, kemampuan mengelola duit itu sama pentingnya dengan kemampuan menjual.
Bahkan, ada studi dari perbankan Amerika yang menunjukkan kalau 82% bisnis kecil gagal karena manajemen arus kas yang buruk. Jadi sebenarnya, bukan besarnya modal yang menentukan keberhasilan, tapi seberapa paham kamu sama kondisi keuangan bisnis kamu sendiri.
Baca Juga: Lebih Cuan Mana: Jualan Produk Sendiri atau Jadi Reseller? Ini Jawabannya!
Kenapa OMKM Bisa Laris Tapi Tetap Boncos?
Penyebab utamanya karena uangnya nggak kekontrol. Banyak bisnis yang berjalan tanpa catatan jelas, tanpa laporan keuangan, dan tanpa memisahkan rekening pribadi dari rekening usaha. Akibatnya, duit keluar-masuk tanpa arah, bikin semua keruh dan sulit dipantau. Padahal, kalau arus kas nggak jelas, mustahil bisnis bisa berkembang. Apalagi kalau kamu punya rencana nyari investor, pertanyaan pertama yang hampir pasti ditanyakan adalah apakah kamu punya laporan keuangan.
Kalau kamu jawab tidak, otomatis peluang itu langsung hilang.
Tiga Laporan Keuangan Dasar yang Wajib Dimiliki UMKM
Sebenarnya, laporan keuangan UMKM nggak perlu rumit. Kamu cukup punya tiga laporan dasar yang wajib dimiliki. Pertama adalah laporan arus kas atau cash flow. Ini adalah catatan yang menunjukan bagaimana uang masuk dan keluar dari bisnis kamu. Dari sini kamu bisa tahu apakah bisnis kamu sebenarnya sehat atau cuma terlihat sibuk tapi nggak menghasilkan.
Kedua adalah laporan laba rugi atau profit and loss. Di bagian ini, kamu bisa melihat apakah perusahaan kamu benar-benar untung atau malah rugi. Mulai dari omzet, HPP, gross profit, biaya operasional, gaji, marketing cost, sampai net profit semuanya harus dicatat agar kamu bisa mengukur performa bisnismu dengan jelas. Ketiga adalah laporan neraca atau balance sheet, yang menggambarkan kondisi aset, utang, modal, persediaan barang, equipment, dan cash. Dari neraca ini kamu bisa tahu berapa nilai bisnis kamu sebenarnya.
Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Bisnis
Setelah paham laporan keuangan, langkah berikutnya adalah memisahkan uang pribadi dan uang bisnis. Ini aturan dasar yang sering dilanggar oleh pelaku UMKM. Banyak yang masih pakai satu rekening untuk semua kebutuhan, mulai dari belanja harian, bayar supplier, sampai ambil dana pribadi. Padahal, hal ini bikin keuangan bisnis dan keuangan rumah tangga tercampur, susah dipantau, dan rawan membuat kamu salah ambil keputusan. Maka dari itu, mulai sekarang pisahkan kedua rekening tersebut.
Kamu bisa memakai bank konvensional untuk kebutuhan pribadi dan bank digital sebagai rekening bisnis. Sekarang sudah banyak bank digital yang praktis dan sangat cocok untuk pelaku UMKM.
Metode Profit First Biar Keuangan Lebih Terstruktur
Biar pengelolaan keuangan semakin tertata, kamu juga bisa pakai metode Profit First. Metode ini membagi pemasukan ke dalam tiga rekening berbeda. Rekening pertama adalah rekening penampungan, tempat semua pemasukan bisnis masuk. Aturannya, uang di rekening ini tidak boleh dipakai untuk keperluan apa pun, karena hanya berfungsi sebagai tempat transit.
Rekening kedua adalah rekening operasional. Semua biaya bisnis seperti bayar listrik, beli bahan baku, atau kebutuhan operasional lainnya harus keluar dari rekening ini. Biasanya, dana yang dialokasikan ke rekening operasional sekitar 50–60% dari total pemasukan. Rekening ketiga adalah rekening gaji dan profit, yang digunakan untuk membayar diri sendiri, menggaji karyawan, dan menyisihkan profit. Dengan cara ini, kamu bisa tetap menikmati hasil dari bisnis tanpa mengganggu dana operasional.
Pentingnya Mencatat Transaksi Harian
Selain memisahkan rekening dan mencatat pemasukan, kamu juga harus mencatat seluruh transaksi, baik kecil maupun besar. Kebiasaan mencatat transaksi ini sering dianggap remeh padahal sangat berpengaruh. Ada data yang menunjukkan bahwa UMKM yang rutin mencatat transaksi harian bisa meningkatkan omzet hingga 30% dalam waktu tiga bulan.
Kenapa bisa begitu? Karena ketika kamu tahu berapa net profit yang sebenarnya tersedia, kamu bisa mengalokasikan dana untuk iklan atau pengembangan usaha dengan lebih tepat. Dengan kata lain, pencatatan transaksi bukan cuma soal administrasi, tapi strategi untuk menumbuhkan bisnis.
Bangun Kebiasaan Review Keuangan
Kebiasaan terakhir yang perlu kamu bangun adalah melakukan review keuangan secara rutin. Bisnis itu seperti tubuh manusia, butuh pemeriksaan berkala agar kamu tahu kondisi sebenarnya. Lakukan review harian untuk melihat transaksi kecil, review mingguan untuk memantau arus kas, dan review bulanan untuk melihat gambaran besar seperti laba rugi dan neraca. Dengan melakukan evaluasi rutin, kamu bisa lebih cepat mengambil keputusan saat ada masalah atau peluang baru.
Baca Juga: Cara Jualan Tanpa Terlihat Jualan: Rahasia Soft Selling di Tahun 2025
Kesimpulan
Jika kamu menerapkan langkah-langkah ini, keuangan bisnis kamu bakal jauh lebih sehat dan terkendali. Bukan cuma laris, tapi juga menguntungkan dan siap berkembang lebih besar. Semoga usaha kamu makin lancar, makin cuan, dan makin bermanfaat buat banyak orang!
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)
