
Dipdop.net – Dalam dunia bisnis digital, produk yang bagus saja tidak cukup. Foto produk sudah oke, kualitasnya mumpuni, dan harga bersaing tapi kalau orang tidak tertarik untuk membeli, ujung-ujungnya tetap nihil. Di sinilah copywriting berperan penting: seni merangkai kata untuk memengaruhi pembaca agar melakukan tindakan tertentu, entah itu membeli, mendaftar, mengklik, atau sekadar menaruh perhatian. Copywriting bukan sekadar bahasa iklan, tapi bermain dalam ranah psikologi pembeli,bagaimana cara membuat seseorang merasa ini gue banget, ini yang gue cari, hingga muncul dorongan untuk bertindak.
Dan kabar baiknya, kita tidak harus menjadi penulis hebat untuk bisa membuat copywriting yang efektif. Yang penting adalah memahami pembaca, memahami kebutuhan dan keinginan mereka, serta menggunakan formula yang tepat.
Baca Juga: Lebih Cuan Mana: Jualan Produk Sendiri atau Jadi Reseller? Ini Jawabannya!
Formula Copywriting AIDA (Attention – Interest – Desire – Action)
Salah satu formula yang paling populer adalah AIDA (Attention–Interest–Desire–Action). Formula ini membantu menyusun alur persuasi yang jelas dalam sebuah teks. Tahap Attention adalah bagaimana menarik perhatian di bagian awal, biasanya lewat headline. Penggunaan angka dalam headline seperti “Turun 8 kilo dalam 3 minggu tanpa olahraga berat!” seringkali meningkatkan rasa ingin tahu sekaligus kredibilitas.
Setelah perhatian didapat, tahap Interest bertujuan membuat pembaca merasa relevan dengan isi tulisan, misalnya dengan kalimat “9 dari 10 orang sering gagal diet karena pola makan yang salah.” Ketika pembaca mulai merasa terkait dengan kondisi tersebut, muncul Desire, yaitu gambaran hasil yang akan mereka dapatkan jika menggunakan solusi yang kita tawarkan. Kemudian tahap terakhir adalah Action, yaitu ajakan langsung seperti “Klik link ini untuk mulai program dietmu hari ini!” AIDA ideal digunakan dalam iklan teks singkat, caption media sosial, maupun script video.
Formula Copywriting PAS (Problem – Agitate – Solve)
Formula kedua adalah PAS (Problem–Agitate–Solve) yang efektif dalam menggali sisi emosional pembaca lewat penyajian masalah. Dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang dialami pembaca, misalnya: “Sulit tidur setiap malam?” Lalu masuk ke tahap Agitate, yaitu memperbesar dampak dari masalah tersebut agar terasa penting untuk segera diselesaikan, seperti “Bangun selalu tidak segar, ngantuk di kantor, gampang emosi, dan terlihat lebih tua sebelum waktunya, semua itu gara-gara tidur tidak berkualitas.”
Baru setelah itu, berikan solusi yang konkret seperti “Gunakan herbal sleep aid ini untuk membantu tidur lebih nyenyak dan bangun segar tiap pagi.” Teknik PAS memberi tekanan psikologis pada problem sehingga pembaca mulai merasa perlu melakukan perubahan, dan karena itulah formula ini sangat cocok untuk email marketing dan storytelling pada platform seperti Facebook.
Formula Copywriting BAB (Before – After – Bridge)
Formula ketiga adalah BAB (Before–After–Bridge), yaitu formula yang membandingkan kondisi sebelum dan sesudah, lalu memberikan jembatan cara mencapai kondisi ideal tersebut. Before menggambarkan situasi pembaca saat ini: “Bosannya bekerja dengan gaji pas-pasan?” Lalu disusul After: “Bayangkan kamu bisa bekerja remote dengan gaji yang sesuai impianmu,” dan diakhiri dengan Bridge: “Kami menyediakan kursus coding yang lengkap dan praktikal untuk membantu kamu mencapai karier impian.” Formula ini sangat efektif untuk membangun imajinasi masa depan dan sangat cocok digunakan dalam pesan promosi berbentuk studi kasus, cerita pengalaman, maupun testimoni.
Checklist Penting dalam Membuat Copywriting
Selain pemilihan formula, ada hal-hal penting lain yang harus diperhatikan dalam membuat copywriting. Yang pertama adalah memahami target pembaca dengan jelas, siapa mereka, berapa usia mereka, tinggal di kota atau desa, bahasa apa yang mereka gunakan, nongkrong di platform digital mana karena gaya bahasa untuk ibu rumah tangga tentu berbeda dengan gaya untuk pekerja muda laki-laki di dunia startup. Kemudian, selalu gunakan social proof seperti testimoni nyata, data, atau rating. Orang lebih percaya bukti daripada janji.
Dalam pemilihan kata, gunakan kata-kata yang kuat secara emosional seperti sekarang, terbukti, atau tanpa ribet serta usahakan bahasa spesifik, karena semakin konkret, semakin meyakinkan. Kalimat “Mengurangi lemak perut hingga rata dalam 30 hari” lebih kuat dibanding sekadar “Membantu menurunkan berat badan.” Terakhir, lakukan A/B testing, yaitu membandingkan dua versi headline atau CTA untuk mengetahui mana yang lebih efektif dalam menghasilkan respons.
Baca Juga: Cara Jualan Tanpa Terlihat Jualan: Rahasia Soft Selling di Tahun 2025
Kesimpulan
Pada akhirnya, tidak ada satu formula yang paling benar dan paling sakti. Copywriting terbaik adalah copywriting yang menghasilkan penjualan. Bukan yang paling indah, bukan yang paling panjang atau kreatif, tapi yang paling efektif dalam mengubah pembaca menjadi pelanggan. Karena itu, jangan takut bereksperimen. Coba gunakan AIDA hari ini, PAS besok, lalu BAB minggu depan.
Evaluasi hasilnya, ulangi yang berhasil, buang yang tidak. Semakin sering menulis, semakin terasa intuisi dalam memahami pembaca dan menentukan ritme kata-kata yang tepat. Copywriting adalah skill yang diasah lewat praktik nyata. Teruslah belajar, mengamati respons audiens, memperbaiki struktur bahasa, dan menguatkan logika persuasi dalam tulisan. Dari situ, kemampuan copywriting akan semakin matang dan kata-kata pun semakin mampu berubah menjadi cuan.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)
