
Dipdop.net – Dalam dunia konten kreator, menghasilkan konten yang viral atau mendapatkan engagement tinggi seringkali menjadi tujuan utama. Namun, tidak semua konten yang dibuat memberikan hasil yang sama. Ada kalanya hanya sebagian kecil konten yang benar-benar mendominasi performa. Nah, di sinilah Prinsip Pareto atau yang dikenal juga sebagai “Aturan 80/20” bisa menjadi solusi ampuh.
Apa Itu Prinsip Pareto?

Prinsip Pareto adalah konsep yang menyatakan bahwa 80% hasil berasal dari 20% usaha. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto, yang menemukan bahwa 80% kekayaan di Italia dimiliki oleh 20% populasi. Dalam konteks konten kreator, prinsip ini bisa diartikan bahwa 80% engagement (like, komentar, share, atau views) berasal dari 20% konten yang dibuat.
Contoh sederhana:
- Dalam sebulan, dibuat 10 konten.
- 8 konten menghasilkan total 20 ribu views.
- 2 konten sisanya justru menghasilkan 80 ribu views.
Artinya, 2 konten tersebut (20% dari total konten) memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan 8 konten lainnya.

Baca Juga: Mengoptimalkan Strategi Iklan dengan Memahami High-Low Season – DIPDOP
Cara Menerapkan Prinsip Pareto dalam Pembuatan Konten
- Analisis Data Konten
Langkah pertama adalah menganalisis performa konten yang sudah dibuat. Gunakan tools analytics seperti Instagram Insights, YouTube Analytics, atau platform lainnya untuk melihat konten mana yang paling banyak mendapatkan engagement. Identifikasi pola dari konten-konten tersebut, seperti format (video, gambar, atau tulisan), topik yang dibahas, waktu posting, dan gaya penyampaian. - Fokus pada Konten Unggulan
Setelah mengetahui konten mana yang menjadi “top performer”, fokuslah untuk membuat lebih banyak konten dengan formula serupa. Misalnya, jika konten video tutorial selalu mendapatkan respons positif, maka buat lebih banyak konten dengan format serupa. Kurangi waktu dan tenaga untuk membuat konten yang kurang memberikan hasil. - Optimalkan Timing dan Eksekusi
Waktu posting juga memegang peranan penting. Jika analisis menunjukkan bahwa konten yang diposting pada jam tertentu cenderung lebih banyak dilihat, maka patuhi jadwal tersebut. Selain itu, pastikan eksekusi konten dilakukan dengan baik, mulai dari kualitas visual, audio, hingga pesan yang disampaikan. - Eliminasi Konten yang Kurang Efektif
Tidak semua konten harus terus diproduksi. Jika ada jenis konten yang secara konsisten kurang mendapatkan engagement, pertimbangkan untuk menguranginya atau bahkan menghentikannya. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Hubungan Prinsip Pareto dengan Marketing
Prinsip Pareto tidak hanya berguna untuk konten kreator, tetapi juga bisa diterapkan dalam strategi marketing. Misalnya, 80% penjualan mungkin berasal dari 20% produk yang ditawarkan. Dengan memahami hal ini, tim marketing bisa lebih fokus pada produk atau layanan yang paling diminati oleh pelanggan.
Selain itu, dalam hal customer relationship, 80% keluhan pelanggan mungkin berasal dari 20% masalah yang sering terjadi. Dengan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah tersebut, kepuasan pelanggan bisa ditingkatkan secara signifikan.
Baca Juga: Kok Pertamina kontennya malah jedag-jedug?Identity Osmosis ala TikTok 2025 – DIPDOP
Kesimpulan
Prinsip Pareto adalah alat yang powerful untuk memaksimalkan performa konten. Dengan menganalisis dan fokus pada 20% konten yang memberikan hasil terbaik, konten kreator bisa menghemat waktu dan energi, sekaligus meningkatkan engagement secara signifikan. Ingat, kualitas selalu lebih penting daripada kuantitas. Dengan menerapkan prinsip ini, hasil yang memuaskan bukan lagi sekadar impian, tetapi bisa diwujudkan dengan lebih efisien.
Jadi, sudah siap memaksimalkan performa konten dengan Prinsip Pareto? Mulai analisis kontenmu sekarang dan temukan formula suksesmu!
(SA)

One thought on “Performa Konten Maksimal, Pakai Prinsip Pareto”