Perbedaan Cold Calling dan Warm Calling: Strategi, dan Contohnya

DIPDOP > Uncategorized > Perbedaan Cold Calling dan Warm Calling: Strategi, dan Contohnya
perbedaan cold callig dan warm calling

Perbedaan Cold Calling dan Warm Calling – Para profesional di bidang sales atau marketing memiliki beragam cara untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mengenalkan produk maupun layanan secara lebih luas. Salah satu metode yang sering digunakan dalam telemarketing adalah cold calling dan warm calling—dua teknik yang melibatkan komunikasi via telepon untuk menawarkan suatu produk atau jasa kepada calon pembeli.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cold calling dan warm calling? Bagaimana perbedaan keduanya, serta strategi mana yang lebih efektif dalam meningkatkan penjualan? Mari kita bahas lebih lanjut dalam artikel ini!

Baca juga : Apa itu Warm Calling

Cold Calling

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “sales”?

Apakah gambaran seseorang yang tiba-tiba menelepon tanpa perkenalan sebelumnya langsung muncul di pikiran Anda?

Jika iya, itulah yang disebut sebagai cold calling.

Menurut Investopedia, cold calling adalah teknik di mana seorang sales menghubungi calon pelanggan yang belum pernah berinteraksi dengannya sebelumnya. Umumnya, metode ini dilakukan melalui telepon atau telemarketing, meski tak jarang juga diterapkan dalam pertemuan langsung.

Cold calling merupakan strategi klasik dalam dunia penjualan. Banyak sales yang mengandalkannya untuk mendapatkan prospek baru. Namun, efektivitasnya sangat rendah—hanya sekitar 2% cold calling yang benar-benar membuahkan hasil, sebagaimana dikutip dari Investopedia.

Artinya, dari 250 panggilan yang dilakukan, hanya lima yang berhasil mencapai tujuannya, itupun jika dilakukan oleh tenaga penjualan yang berpengalaman.

Perbedaan utama antara cold calling dan warm calling terletak pada tingkat keberhasilannya yang sangat minim.

Warm Calling

Banyak perusahaan menyadari bahwa menerapkan cold calling bukanlah tugas yang mudah. Oleh karena itu, banyak yang akhirnya beralih dan lebih fokus pada warm calling.

Menurut Leadiro, warm calling adalah proses menghubungi calon pelanggan yang sudah menunjukkan minat terhadap produk atau layanan yang ditawarkan.

Perbedaan utama antara cold calling dan warm calling terletak pada kesiapan lead. Dalam cold calling, sales tidak memiliki kepastian apakah calon pelanggan benar-benar tertarik, sehingga sering kali mereka diabaikan. Sebaliknya, dalam warm calling, ada indikasi kuat bahwa lead sudah memiliki ketertarikan, sehingga peluang untuk sukses jauh lebih tinggi.

Tak heran jika strategi ini lebih efektif. Menurut Rain Group, sebanyak 82% calon pelanggan bersedia mengikuti meeting dengan sales jika mereka sudah lebih dulu dihubungi.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah seorang lead memang tertarik?

Gampang! Anda bisa melihat apakah mereka pernah menghadiri event yang diadakan, mengunduh materi pemasaran, atau bahkan berinteraksi dengan perusahaan melalui media sosial.

Penutup

Jika Anda masih ragu menentukan metode panggilan yang paling efektif untuk pemasaran, mungkin muncul pertanyaan: mana yang lebih baik, cold calling atau warm calling?

Secara umum, warm calling memberikan hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan cold calling. Alasannya sederhana—ketika calon pelanggan sudah mengenal siapa kamu dan apa yang Anda tawarkan, tingkat kepercayaan mereka akan jauh lebih tinggi.

Bayangkan seperti sedang berlari maraton, tetapi Anda memulai dari tengah jalur, hanya beberapa meter dari garis finis. Dengan kata lain, peluang untuk mencapai tujuan akhir—yaitu penjualan—menjadi jauh lebih besar!

Sumber: glints

Haidar Musyaffa
haidarmusyaffa730@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *