Overpriced VS Worth the Price, Bagaimana Menentukannya?

DIPDOP > Marketing > Customer Experience > Overpriced VS Worth the Price, Bagaimana Menentukannya?
Overpriced VS Worth the Price, Bagaimana Menentukannya?

Dipdop.net – Sebelum memasarkan produk atau jasa, ada konsep yang harus dipikirkan secara matang sesuai dengan biaya produksinya. Ketika konsep ini sudah dibuat dan diperkenalkan kepada audiens yang merupakan calon konsumen untuk dapat membelinya, konsep tersebut sudah berubah menjadi merek. Merek merupakan tampilan awal yang pertama kali diketahui oleh audiens.

Setelah audiens mengetahui—bahkan mengenal merek dari suatu produk, mereka akan melakukan pertimbangan sebelum jatuh hati dan memutuskan untuk membeli. Hal ini meliputi banyak hal, seperti visual, kualitas, inovasi, ulasan, hingga harga produk. Nah, di antara komponen tersebut, biasanya harga adalah yang paling memengaruhi. Audiens bahkan sering kali tidak jadi membeli suatu produk hanya karena penjual tidak mencantumkan harga.

Sering disepelekan, tetapi sesungguhnya pandangan audiens terhadap produk mampu memengaruhi branding dan penjualan. Dalam beberapa kesempatan, malah audiens memberikan “cap” akan suatu produk berdasarkan harganya. Audiens akan membedakan produk menjadi dua, yakni overpriced dan worth the price.

Walaupun masih memiliki kesempatan dalam bersaing, produk yang dicap overpriced dipandang negatif sehingga acap kali dihindari. Sebaliknya, worth the price dipandang positif dan menjadi penentu utama audiens akan menjadi seorang calon pembeli. Sobat DIPDOP ada yang tahu kira-kira kenapa bisa begitu? Dan, bagaimana cara menentukan harga di antara keduanya?

Baca Juga: 15 Istilah dalam Dunia Bisnis yang Wajib Dipahami Sebelum Mulai Usaha

Apa yang dimaksud dengan overpriced dan worth the price?

Arti dari kata overpriced adalah harga yang terlalu mahal. Dalam bahasa Inggris, overpriced diartikan dengan “too expensive; costing more than it is worth.” (terlalu mahal; harganya lebih mahal dari nilai yang sesungguhnya)

Produk yang menurut audiens mahal tidak selalu overpriced. Produk tersebut baru akan dikatakan overpriced apabila harganya tidak sesuai harga pasar atau tidak sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. Inilah yang memengaruhi pandangan audiens terhadap produk apabila sudah mendapat cap overpriced. Audiens lain akan berpandangan bahwa produk tersebut tidak sesuai dengan kualitasnya.

Tentunya berlawanan dengan overpriced, frasa worth the price diucapkan ketika suatu produk memiliki kualitas yang sesuai dengan harganya. Ucapan worth the price tidak terlepas dari produk yang mahal atau murah, melainkan selama kualitas dan inovasi yang ditawarkan dapat memenuhi ekspektasi pelanggan.

Penerapan kedua istilah harga tersebut bisa kita terapkan pada suatu produk yang sama. Misalkan, sebuah pada sebuah kursi kayu milik merek A dihargai Rp100.000, tetapi lapisan catnya mudah rontok dan kaki-kakinya patah ketika dipakai selama setahun. Dengan jenis produk yang sama, kursi kayu milik merek B dihargai Rp125.000. Lebih mahal, tetapi lapisan catnya tahan lama dan kaki-kakinya baru patah setelah dipakai lima tahun.

Merek A menawarkan pengalaman yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelanggan ketika membayar seharga Rp100.000, sedangkan merek B menawarkan pengalaman yang sesuai atau bahkan melebihi ekspektasi ketika membayar Rp25.000 lebih mahal dari merek A. Melalui pengalaman pelanggan ini, merek A akan dicap overpriced, sedangkan merek B akan dicap worth the price.

Bagaimana cara menentukan harga agar worth the price dan tidak overpriced?

Apabila kamu ingin menjadikan produkmu worth the price dibandingkan dengan overpriced, setidaknya ada 3 cara yang harus dilakukan, yakni:

1. Riset harga pasar

    Riset harga pasar adalah hal paling dasar yang bisa kamu lakukan agar produk kamu tidak menjadi overpriced. Harga pasar membuat sebuah produk dijual dengan harga standar. Kalau pun ada perbedaan, maka hanya ada sedikit dan tidak terlalu besar perbedaannya.

    Mari ambil contoh pada suatu harga mineral. Merek X dijual seharga Rp3.220, merek Y seharga Rp3.300, dan merek Z seharga 3.099. Perbedaan harga tersebut tidak terlalu besar, tetapi tetap dapat memiliki perbedaan yang signifikan. Setelahnya, giliran brand yang menunjukkan ciri khas produk agar audiens bisa menaruh kepercayaan pada selisih harga tersebut.

    2. Tonjolkan inovasi produk

    Hal yang perlu dilakukan setelah meriset harga produk adalah menonjolkan inovasi produk. Inovasi di sini bisa berupa kemasan, visual, bahan, kualitas, rasa, dan inovasi lainnya yang bisa mendukung pertimbangan audiens dalam menentukan produkmu termasuk overpriced atau worth the price.

    Andaikata produkmu memiliki harga lebih mahal dengan produk lain padahal tidak ada keterbaruan kualitas atau inovasi, nantinya audiens akan cenderung memilih produk lain tersebut. Untuk itu, kamu perlu cerdas memikirkan inovasi produkmu sejak perencanaan konsep.

    3. Sesuaikan dengan target pasar

    Semakin banyak inovasi yang kamu tawarkan, maka akan semakin baik kualitas dari produk yang kamu miliki. Namun, segmentasi audiens tertentu mungkin tidak memperhatikan hal tersebut, meski harga produk masih menjadi pertimbangan utamanya. Jika begini, kamu harus memastikan dan menyesuaikan kembali dengan target pasar.

    Apabila kamu ingin menargetkan pembeli berupa pelajar yang menyukai kemasan menarik, lantas kamu bisa mengutamakan hal tersebut. Di samping itu, kamu bisa mematok harga yang terjangkau oleh kalangan pelajar.

    Baca Juga: Kenali Local SEO, Strategi yang Cocok untuk Diterapkan ke UMKM

    Kesimpulan

    Harga adalah komponen yang paling menentukan pandangan audiens, bukan hanya terhadap produk, tetapi juga branding. Kalau tidak tepat, produkmu akan dipandang overpriced. Adapun jika produkmu berhasil memenuhi ekspektasi pelanggan, produkmu akan dipandang worth the price. Untuk itu, kamu perlu membenahi harga produk kamu sesuai dengan kualitas dan inovasi yang dimilikinya. (WA)

    Wafiq Azizah
    of.wafiqazizah@gmail.com
    Coordinator Admin DIPDOP.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *