Jangan FOMO! Ini Tips Nentuin Nama Brand UMKM dengan Sasaran Gen Z!

DIPDOP > Ceative Agency > Digital Marketing > Strategi Bisnis > Jangan FOMO! Ini Tips Nentuin Nama Brand UMKM dengan Sasaran Gen Z!
Jangan FOMO! Ini Tips Nentuin Nama Brand UMKM dengan Sasaran Gen Z!

Dipdop.net – Bukannya mengada-ngada, tetapi benar adanya bahwa saat ini pasar digital maupun konvensional sudah dikuasai oleh Gen Z. Gen Z menjadi generasi yang paling banyak mendominasi pasar, tidak hanya sebagai konsumen, melainkan juga sebagai produsen ataupun distributor. Makanya, tidak mengherankan jika saat ini trend yang merajalela adalah trend yang diprakarsai oleh Gen Z.

Sebut saja aneka makanan dan minuman dengan rasa matcha atau sajian matcha secara langsung dengan rasa yang autentik sedang marak per tahun 2025. Hal itu karena selera Gen Z yang kompak antara satu dengan yang lainnya. Toh, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, matcha mungkin memang sudah ada, hanya saja tidak semarak saat ini.

Alih-alih sekadar terbawa arus alias FOMO, trend yang dipopulerkan Gen Z tersebut mestinya dibawa serius. Maksudnya, tidak hanya memanfaatkan momen tanpa riset dan persiapan yang mumpuni. Bahkan, hal ini bisa dijadikan sasaran empuk para pegiat UMKM dalam memperkaya ide bisnis.

Seseorang mungkin saja menjual minuman matcha, tetapi apakah brand-nya disukai di mata Gen Z? Apakah brand tersebut mudah akrab dengan perasaan Gen Z? Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara berangsur-angsur, lantas kita perlu memulai melihat brand dari komponen intinya, yaitu nama. Memang kedengarannya sepele, nama brand, khususnya UMKM, sangat menentukan pandangan target audience-nya.

Tentunya kamu mesti menyesuaikan nama brand UMKM milikmu dengan selera Gen Z dan tidak boleh asal-asalan. Masih bingung? Berikut ini tips menentukan nama brand kalau sasarannya Gen Z.

Baca Juga: Gen Z Masuk UMKM: Cara Baru Bangun Bisnis yang Lebih Relevan

Skip penggunaan “kekinian” atau “ala Gen Z”

Kalau kamu masih kepikiran untuk pakai nama brand buat UMKM kamu dengan embel-embel: “Cafe kekinian”, “dessert ala Gen Z”, dan “Kantin Gen Z”; dijamin, nggak akan terlalu menguntungkan. Nyatanya, Gen Z sendiri malah kurang menyukai nama brand dengan embel-embel yang membawakan istilah Gen Z. Coba, deh, bayangin kalau embel-embel serupa juga dipakai di generasi lain, misalnya “Ayam Bakar Millenial” atau “Baju ala Boomer”, lantas rasanya kurang mengenakkan bukan?

Dalam nama brand, kamu tidak perlu “berisik” dengan menyebutkan seseorang atau suatu kelompok sebagai target audience-nya. Jadi, tidak perlu secara langsung menyebutkan bahwa produkmu sasarannya adalah Gen Z. Kamu bahkan juga bisa tetap menggaet audience selain Gen Z meski sasaran utamanya adalah Gen Z.

Wajib mudah dibaca, mudah ditulis, dan mudah diingat

Wajib mudah dibaca, jangan sampai waktu kita baca nama brand kamu yang babibu, hasilnya malah bububu. Nama brand juga wajib untuk mudah ditulis, dengan begitu orang akan dengan mudah memromosikan brand kamu kepada jangkauan yang lebih luas lagi. Satu hal yang nggak ketinggalan adalah, mudah diingat! Dengan begitu, kamu bisa berpeluang membuat brand-mu memiliki branding yang berhasil.

Jika masih kesulitan membayangkannya, kamu bisa mengambil inspirasi nama brand dari sesuatu yang telah akrab dengan telinga warga lokal, terutama Gen Z. Sebagai contoh, Mie Gacoan yang terinspirasi dari mainan tradisional, atau merek ayam goreng tepung d’Kriuk berdasarkan suara renyah saat memakan ayam, “Kriuk, … Kriuk ….”

Mainkan sedikit parodi? Boleh banget

Satu yang menjadi catatan dalam mempermudah kamu menentukan nama brand sesuai selera Gen Z adalah bahwa Gen Z sulit untuk diajak serius, alias penuh canda tawa. Alhasil, kamu bisa menggaet perhatian Gen Z dengan memilih nama brand untuk UMKM berdasarkan parodi atau candaan. Pastikan untuk tidak menyinggung SARA, ya!

Adopsi dari istilah asing, tambah keren

Nyatanya, dalam menggunakan bahasa nasional di kehidupan sehari-hari, sesungguhnya bahasa Indonesia telah dipengaruhi oleh bahasa asing. Adapun Gen Z menjadi salah satu generasi yang semakin terpapar oleh arus globalisasi di seluruh dunia melalui media sosial yang mereka gunakan. Jadi, Gen Z sudah begitu familier dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Jika kamu berkehendak untuk membuat nama brand UMKM dengan nuansa Gen Z, kamu bisa menggunakan bahasa asing yang dimodifikasi sendiri. Seperti halnya pada Livin’, app mobile dari Bank Mandiri. Kalau diperhatikan kembali sebenarnya “Livin’” mengambil bahasa Inggris “Living” tetapi kemudian dihapus huruf terakhirnya menjadi hanya, “Livin.”

Bagus walau sederhana justru semakin menarik

Catatan lainnya dalam menentukan nama brand UMKM yang sesuai dengan selera Gen Z adalah kamu tidak perlu terlalu meriah, panjang, dan kurang mewakilkan branding bisnis kamu. Sekalipun nama brand itu bagus, tetapi jika terlalu meriah hanya akan terlewatkan begitu saja.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Ide Bisnis UMKM Lagi Tren, Minim Modal dan Disukai Gen Z

Kesimpulan

Memilih nama brand UMKM dengan target audience berupa Gen Z bukan menjadi ajang untuk FOMO atau ikut-ikutan tanpa mengetahui karakteristik dominan dari para Gen Z. Untuk itu, kamu perlu memperhatikan bahwa nama brand UMKM yang kamu buat: skip penggunaan “kekinian” atau “ala Gen Z”; mudah dibaca, mudah ditulis, dan mudah diingat; mengandung parodi, mengadopsi bahasa asing; dan terkesan sederhana atau simpel.

Ingin membangun bisnis UMKM, tetapi membutuhkan banyak persiapan sebelum memulai dan bingung mengenai caranya? Kunjungi Dipdop.net untuk temukan solusinya. (WA)

Baca Juga: Strategi Marketing Yang Tepat Untuk Menarik Minat Gen Z

Wafiq Azizah
of.wafiqazizah@gmail.com
Coordinator Admin DIPDOP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *