Lebih Cuan Mana: Jualan Produk Sendiri atau Jadi Reseller? Ini Jawabannya!

DIPDOP > Marketing > Bisnis > Lebih Cuan Mana: Jualan Produk Sendiri atau Jadi Reseller? Ini Jawabannya!
Lebih Cuan Mana: Jualan Produk Sendiri atau Jadi Reseller? Ini Jawabannya!

Dipdop.net – Saat mulai membangun bisnis, banyak orang sering terjebak pada pertanyaan klasik: mending bikin produk sendiri atau cukup jadi reseller dulu? Dua-duanya terdengar menarik, dua-duanya punya peluang cuan, tapi juga masing-masing punya tantangan yang beda. Buat kamu yang masih bingung, pembahasan ini bakal bikin semuanya lebih jelas.

Menariknya, berdasarkan data tahun 2023, sekitar 83% pebisnis online pemula di Indonesia memulai sebagai reseller. Artinya, sebagian besar orang lebih memilih langkah yang paling aman dulu sebelum masuk ke dunia produksi dan branding. Dan ini wajar, karena memulai dari reseller memang jauh lebih mudah, murah, dan cepat menghasilkan.

Baca Juga:Nentuin Nama Brand UMKM yang Ear-Catching, Kenapa Bisa Penting?

Kenapa Banyak Pemula Memilih Jadi Reseller?

Coba bayangkan: bikin produk sendiri itu ribet. Kamu harus riset pasar, uji coba produk, mengurus legalitas, halal, BPOM, kerja sama dengan vendor atau pabrik, hingga menanggung biaya produksi. Buat sebagian besar pemula misalnya mahasiswa, ibu rumah tangga, atau karyawan yang ingin punya bisnis sampingan—beban ini terlalu besar.

Makanya, jadi reseller jadi jalan tengah yang paling masuk akal. Produk sudah tersedia, sistem sudah siap, tinggal jualan. Modal pun bisa mulai dari angka yang kecil, bahkan ada brand yang memungkinkan mulai dari ratusan ribu saja.

Tapi apakah reseller lebih cuan? Belum tentu.

Brand Owner: Cuan Lebih Besar, Tapi Risiko Juga Lebih Besar

Kalau kamu memilih jadi brand owner alias pemilik merek—kamu memang punya potensi keuntungan jauh lebih besar. Kalau reseller biasanya cuma dapat margin 10–20%, seorang brand owner bisa mengambil margin 25–40% bahkan lebih, tergantung model bisnisnya.

Keuntungan brand owner bukan cuma dari penjualan pribadi, tapi juga dari jaringan distribusi dan reseller yang bekerja di bawahnya. Semakin besar tim penjualannya, semakin besar cuan yang mengalir. Keunggulan lain yang nggak kalah penting adalah intangible value, yaitu nilai brand. Semakin besar brand kamu, semakin mahal nilainya. Suatu saat kalau kamu butuh dana atau mau exit, brand itu bisa dijual.

Namun, keuntungan besar ini datang dengan tanggung jawab besar juga. Brand owner harus siap:

– modal produksi yang tidak sedikit

– riset panjang sebelum produk benar-benar layak jual

– biaya operasional (OPEX) yang terus keluar

– dan risiko kerugian ketika penjualan tidak sesuai target.

Kalau kamu belum punya pengalaman bisnis, jadi brand owner di awal perjalanan bisa kerasa sangat melelahkan dan mahal.

Reseller: Cepat Mulai, Lebih Aman, Belajar Banyak

Di sisi lain, jadi reseller cocok banget buat kamu yang mau mulai cepat tanpa pusing urusan produksi. Semua sudah disiapkan oleh brand owner. Kamu tinggal belajar cara jualan, membangun tim, dan meningkatkan kemampuan marketing.

Banyak reseller sukses yang bisa mencapai omzet puluhan hingga ratusan juta, terutama kalau mereka naik level dari reseller → subagen → agen → distributor. Semakin tinggi levelnya, diskon semakin besar, margin semakin gurih.

Misalnya dalam contoh di video, seorang agen bisa dapat diskon hingga 40%. Kalau belanja Rp15 juta bisa dapat produk senilai Rp25 juta. Margin seperti ini jelas sangat menarik, apalagi kalau kamu serius mengembangkan tim penjualan.

Namun tentu saja reseller juga punya kekurangan. Margin lebih kecil, harus mengikuti aturan harga dari brand, dan bersaing dengan banyak reseller lain yang menjual produk serupa. Tapi selama mental kamu growth mindset, persaingan ini bisa jadi motivasi untuk terus berkembang.

Lalu, Pilih Mana? Brand Owner atau Reseller?

Pilihan terbaik sebenarnya tergantung modal, skill, dan tujuan bisnis kamu.

1. Kalau modal kamu di bawah Rp10 juta → jadi reseller lebih aman.
Kamu bisa mulai dari reseller biasa, naik jadi subagen atau agen, sambil belajar cara mengelola bisnis tanpa risiko besar.

2. Kalau modal kamu di atas Rp50 juta–Rp100 juta → kamu bisa mulai jadi brand owner.
Kamu sudah punya cukup amunisi untuk riset, produksi, branding, hingga membayar tim operasional.

3. Kalau kamu punya skill bikin produk dan jago branding → bikin brand sendiri lebih optimal.
Sayang kalau kemampuan itu tidak dipakai.

4. Kalau tujuanmu mau cepat dapat cuan tanpa ribet → reseller paling cocok.

Bahkan banyak pengusaha besar melakukan dua-duanya sekaligus: punya brand sendiri dan menjadi distributor untuk brand lain. Fleksibel, cuan tetap jalan dari dua sisi.

Baca Juga:Cara Jualan Tanpa Terlihat Jualan: Rahasia Soft Selling di Tahun 2025

Kesimpulan

Jadi reseller atau jadi brand owner, keduanya sama-sama bisa menghasilkan. Yang penting adalah kamu tahu kapasitas dirimu dan memilih langkah yang paling realistis di tahap awal. Kalau modal masih terbatas dan kamu ingin belajar dulu, reseller adalah pilihan terbaik. Tapi kalau kamu siap dengan modal besar, visioner, dan ingin membangun brand besar yang punya nilai jangka panjang, menjadi brand owner bisa jadi jalanmu.

Yang terpenting: fokus ke cuan dan perkembangan bisnis, bukan gengsi. Karena gengsi nggak bisa bayar tagihan.

Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!

Bramantyo Rahardyan Firmansyah
tyobraman30@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *