Benarkah Konten Viral Tak Selalu Meningkatkan Penjualan?

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > Benarkah Konten Viral Tak Selalu Meningkatkan Penjualan?
Benarkah Konten Viral Tak Selalu Meningkatkan Penjualan?

Dipdop.net – Dalam digital marketing, yang menjadi bahan promosi untuk meningkatkan brand awareness sekaligus penjualan adalah konten. Konten ini dapat berupa video TikTok, reels Instagram, hingga carousell. Ketika merencanakan konsep, membuat, sampai mengunggah konten, ada yang dinamakan Key Performance Indikator (KPI) sebagai indikator target keberhasilan performa konten.

Adakalanya, konten yang telah dibuat untungnya menyentuh KPI atau bahkan melampauinya, alias menjadi viral! Ketika sudah viral, mungkin kamu bisa merasa tenang karena berandai-andai akan penjualan yang naik drastis. Setelahnya, kamu mungkin akan santai sedikit, mengingat sudah ada kontenmu yang mendapat banyak impresi. Sayangnya, ini merupakan anggapan yang ternyata keliru.

Konten yang viral, meskipun itu bagian dari mempromosikan produk, tidak begitu menentukan kesuksesan penjualan. Artinya, dari konten viral tersebut tidak selalu bersamaan meningkatkan angka penjualan. Bisa saja, konten itu malah tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap brand atau target penjualanmu. Mengapa bisa demikian?

Baca Juga: Apa Rahasia Konten Reels Instagram dan Video TikTok Jadi yang Paling Efektif untuk Digital Marketing?

Konten Fokus Menghibur, Bukan Memasarkan Produk

Salah satu kesalahan yang mungkin sering dilakukan oleh para brand dalam melakukan digital marketing adalah lebih fokus menghibur daripada memasarkan produk. Apakah tidak boleh membuat konten yang menghibur? Jawabannya boleh, tetapi kamu sebaiknya jangan terpaku untuk membuat konten yang menghibur, melainkan juga memasarkan brand atau produkmu.

Media sosial memang merupakan tempat orang-orang mencari hiburan. Namun, kamu tidak memiliki keharusan untuk turut memberikan hiburan. Konten digital marketing kamu bisa menjadi selingan dari hiburan-hiburan yang telah dilihat oleh audiens. Kamu bahkan bisa menggabungkan keduanya, yakni membuat konten yang menghibur dan secara bersamaan juga mempromosikan produk.

Tidak Menyisipkan CTA atau CTV

CTA atau CTV merupakan elemen yang penting dalam konten. CTA atau Call to Action adalah ungkapan pada konten yang berfungsi mengajak audiens untuk mencoba atau membeli produk demi merasakan manfaatnya sendiri. Sementara itu, CTV atau Call to Value adalah ungkapan pada konten yang berfungsi mengajak audiens untuk mencoba atau membeli produk agar dapat menyesuaikan ekspektasi dengan yang telah disebutkan mengenai produk.

Meskipun hanya berupa kata-kata ajakan, CTA maupun CTV memiliki kekuatan untuk mengingatkan audiens akan produk yang tengah kita pasarkan. Dengan demikian, CTA atau CTV dapat juga mendukung adanya peningkatan penjualan. Jika konten kamu viral, tetapi lupa menyisipkan CTA atau CTV, nantinya audiens cuma menikmati konten yang kamu buat dan bukannya tergugah untuk membeli produk.

Hanya Satu Kali Untung

Dunia digital marketing memang sulit ditebak, karena algoritma media sosial tidak selalu bekerja dengan pasti. Barangkali, dari seringnya kamu membuat konten, rupanya ada yang viral dalam perbandingan 1:1000. Hal ini memungkinkan dan sulit untuk diulang kembali. Akibatnya, hanya 1 kontenmu saja yang viral dan belum tentu penjualan meningkat karenanya.

Kamu mungkin bisa menjadikan 1 konten yang viral tersebut sebagai patokan untuk kontenmu berikutnya, dengan tetap mempertimbangkan soal promosi produk. Walaupun, belum pasti kontenmu lainnya akan kembali viral dan penjualanmu akan meningkat, akan tetapi sudah ada usaha untuk membenahi kontenmu yang selanjutnya. Kalau sudah, tinggal menunggu konten lainnya viral agar tidak hanya satu kali untung.

Tidak Memberitahu Akses Membeli Produk

Konten digital marketing yang kamu buat sebaiknya bersifat informatif. Informatif di sini berarti dapat memberikan keterangan seputar produk yang tengah dipasarkan, termasuk harga, variasi, alur membeli, dan sebagainya. Mungkin kamu sering melihat pada konten video TikTok, seseorang akan mengatakan, “Jangan lupa checkout di keranjang kuning,” atau, “Kalau mau beli, bisa mampir ke Jalan XXX, sebelah masjid Y, buat yang ada di daerah ZZ, ya!” Ungkapan semacam itu akan membantu audiens untuk menjangkau akses ke tempat membeli produk dalam konten.

Jenis Konten Kurang Konsisten

Konten yang viral memang menguntungkan, tetapi belum pasti audiens akan mengingat brand kamu sehingga tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan penjualan. Untuk mengatasi hal ini, kamu cukup buat konten dengan jenis yang konsisten. Nantinya, audiens yang telah membuat satu kontenmu viral, akan tergerak untuk menyukai konten yang memiliki value serupa. Dengan begitu, tidak hanya peluang viral lebih tinggi, tetapi juga peningkatan penjualan yang terjamin.

Baca Juga: Seberapa Penting Lagu untuk Konten Digital Marketing di Medsos Kamu?

Kesimpulan

Konten viral mungkin menjadi suatu pencapaian dalam digital marketing, tetapi tidak selamanya penjualan meningkat dari konten yang viral tersebut. Apabila ini terjadi, kamu bisa memeriksa kontenmu yang viral tersebut. Bisa jadi, tanda-tanda di atas ternyata yang menjadi masalah dalam kontenmu. Kalau kamu sudah dapat mengetahuinya dengan baik, lantas tak usah khawatir lagi ketika kontenmu viral. (WA)

Wafiq Azizah
of.wafiqazizah@gmail.com
Coordinator Admin DIPDOP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *