Konten Sepi Tapi Produk Bagus? Ini Kesalahan Digital Marketing UMKM

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > Konten Sepi Tapi Produk Bagus? Ini Kesalahan Digital Marketing UMKM
Konten sepi meski produk berkualitas dalam digital marketing UMKM?

Dipdop.net – Banyak pelaku UMKM merasa frustasi ketika melihat konten media sosialnya sepi. Padahal produk yang dijual berkualitas, harga bersaing, dan pelayanan juga baik. Kondisi ini sering menimbulkan rasa tidak adil dan membuat UMKM ragu terhadap efektivitas digital marketing.

Faktanya, konten sepi tidak selalu berarti produk buruk. Justru, masalahnya sering terletak pada strategi digital marketing yang kurang tepat. Tanpa disadari, ada kesalahan-kesalahan kecil yang berdampak besar pada performa konten.

Artikel ini akan membahas kesalahan digital marketing yang paling sering dilakukan UMKM. Tujuannya agar pelaku usaha bisa mengevaluasi strategi, memperbaiki pendekatan, dan mulai melihat hasil yang lebih optimal.

Terlalu Fokus Jualan, Minim Membangun Relasi

Kesalahan paling umum UMKM adalah menjadikan media sosial seperti etalase jualan. Hampir semua konten berisi promosi produk, harga, dan ajakan beli. Akibatnya, audiens merasa hanya “dijadikan target”, bukan diajak berinteraksi. Di era digital, audiens tidak langsung membeli hanya karena melihat produk bagus. Mereka ingin merasa dekat dan percaya terlebih dahulu. Konten yang terlalu hard selling cenderung di-skip dan tidak memicu interaksi.

Algoritma media sosial membaca perilaku ini sebagai sinyal negatif. Konten yang jarang ditonton sampai selesai atau minim interaksi akan jarang direkomendasikan. Inilah alasan mengapa konten promosi UMKM sering tenggelam. Solusinya adalah menyeimbangkan konten. UMKM perlu membangun relasi lewat storytelling, edukasi, atau konten ringan yang relevan dengan audiens. Ketika kepercayaan terbentuk, promosi justru lebih mudah diterima.

Tidak Memahami Target Audiens

Banyak UMKM membuat konten berdasarkan selera pribadi. Mulai dari gaya bahasa, visual, hingga topik, semuanya mengikuti apa yang disukai pemilik usaha. Padahal, yang terpenting adalah apa yang dibutuhkan audiens. Tanpa memahami target audiens, konten akan terasa tidak nyambung. Audiens tidak merasa relate sehingga memilih untuk scroll tanpa berinteraksi. Konten pun terlihat sepi meski rutin diunggah.

Kesalahan ini juga berdampak pada pesan yang disampaikan. Produk yang sebenarnya bermanfaat tidak tersampaikan dengan bahasa yang tepat. Akhirnya, value produk tidak terasa di mata calon pembeli. UMKM perlu mulai mengenali audiensnya secara sederhana. Siapa mereka, apa masalahnya, dan konten apa yang sering mereka konsumsi. Dengan begitu, konten akan terasa lebih relevan dan menarik perhatian.

Mengabaikan Kualitas Hook dan Storytelling

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah lemahnya pembuka konten. Banyak UMKM langsung masuk ke penjelasan produk tanpa hook yang menarik. Padahal, 3 detik pertama sangat menentukan nasib sebuah konten. Tanpa hook yang kuat, audiens tidak punya alasan untuk bertahan. Algoritma pun mencatat rendahnya watch time sebagai sinyal bahwa konten kurang menarik. Akibatnya, jangkauan semakin terbatas.

Storytelling juga sering diabaikan. Konten disajikan datar, tanpa alur cerita atau emosi. Padahal, cerita membuat audiens lebih terhubung dan mau mengikuti konten sampai akhir. UMKM bisa mulai dengan hook sederhana. Misalnya pertanyaan, masalah umum, atau pernyataan yang relate. Lalu, bangun cerita perlahan sebelum mengenalkan produk sebagai solusi.

Tidak Konsisten dan Mudah Menyerah

Banyak UMKM berhenti membuat konten karena merasa “tidak ada hasil”. Padahal, algoritma membutuhkan waktu untuk mengenali akun dan pola konten. Konsistensi adalah kunci yang sering diremehkan. Posting tidak teratur membuat algoritma sulit membaca performa akun. Audiens pun kehilangan ekspektasi karena tidak tahu kapan konten baru akan muncul. Akibatnya, engagement semakin menurun.

Kesalahan ini diperparah dengan ekspektasi instan. Banyak UMKM berharap langsung ramai dalam beberapa postingan. Ketika tidak sesuai harapan, motivasi langsung turun. Solusinya adalah membuat jadwal yang realistis. Tidak harus setiap hari, yang penting konsisten. Dengan konsistensi, akun akan perlahan membangun kepercayaan baik di mata algoritma maupun audiens.

Tidak Mengevaluasi Data dan Insight Konten

Sebagian UMKM membuat konten tanpa pernah melihat data. Insight seperti reach, watch time, atau engagement jarang diperhatikan. Padahal, data ini adalah petunjuk penting untuk perbaikan strategi. Tanpa evaluasi, UMKM tidak tahu konten mana yang bekerja dan mana yang tidak. Kesalahan yang sama pun terus diulang. Konten tetap sepi meski sudah banyak usaha dikeluarkan.

Algoritma sebenarnya sudah “berbicara” lewat data. Konten dengan watch time tinggi atau banyak disimpan bisa dijadikan acuan. Dari sini, UMKM bisa memahami apa yang disukai audiens. Mulailah dengan evaluasi sederhana. Lihat konten yang performanya paling baik, lalu ulangi polanya. Dengan pendekatan berbasis data, strategi digital marketing akan jauh lebih efektif.

Baca juga : Mengapa Konten Sepi? 10 Alasan Umum dan Cara Mengatasinya

Penutup              

Konten sepi bukan berarti produk tidak layak jual. Sering kali, masalahnya ada pada strategi digital marketing yang belum tepat. Mulai dari terlalu fokus jualan, tidak memahami audiens, hingga kurang konsisten.

Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, UMKM punya peluang besar untuk berkembang. Digital marketing bukan soal instan, tetapi soal proses, adaptasi, dan kemauan belajar. Ketika strategi tepat, produk bagus tidak akan lama-lama sepi.

Bangun branding UMKM mu bersama DIPDOP sekarang juga! (HS)

Hilda Sania
iyahildasania@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *