Konten “Ragebait” Cepet Laku, Gimana Kelebihan, Kekurangan, dan Caranya?

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > Konten “Ragebait” Cepet Laku, Gimana Kelebihan, Kekurangan, dan Caranya?
Konten “Ragebait” Cepet Laku, Gimana Kelebihan, Kekurangan, dan Caranya?

Dipdop.net –  Pernah nggak, sih, kamu lagi scroll TikTok, terus nemu konten yang ngeselin banget pas awalnya, tapi eh tapi, ternyata dia lagi promosiin produk? Pasti greget, ‘kan? Tapi, akhirnya kamu klik tanda suka dan kirim komentar, atau kalau kamu nggak meninggalkan jejak apa pun, orang lain yang akan meninggalkan jejak sehingga konten semacam itu ramai.

Ada pula konten dengan konsep yang mirip. Kira-kira, isi kontennya dibuat ketika sedang membuat sesuatu, misalnya membuat mainan slime. Namun, si pembuat konten seakan-akan tidak mengetahui cara yang benar untuk membuat slime. Banyak yang memberikan komentar mengenai cara yang benar, kemudian dibalas dengan video oleh si pembuat konten, tetapi selalu saja ada tahap-tahap yang salah atau bahan yang tidak sesuai.

Jenis konten ini disebut dengan ragebait. Keduanya sama-sama menghasilkan output yang serupa, yakni jumlah tayangan, suka, dan komentar yang ramai sebab audiens kesal dengan konten yang kamu buat, meski sebenarnya kamu tidak sedang serius. Namun, belum tentu komentar yang muncul adalah komentar yang baik. Oleh sebab, konten video telah membuat audiens kesal, lantas banyak yang turut melampiaskan emosi melalui kolom komentar tersebut.

Konten ragebait semacam demiikian banyak diikuti oleh para content creator di medsos. Kamu mungkin juga tertariik untuk mengetahui konten ragebait lebih lanjut, seperti kelebihan, kekurangan, dan caranya. Berikut ini jawaban dari keresahanmu.

Baca Juga: Meme Kucing untuk Konten Digital Marketing, Kenapa Enggak?

Kelebihan Konten Ragebait

1. Cepet tembus KPI

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ragebait akan membantu konten untuk cepat tembus Key Performance Indicator atau KPI. Hal ini berlaku apabila konten kamu telah sukses membuat orang sebal sampai ingin memberikan komentar perihal cara yang benar atau masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah.

Dalam hal tersebut, kamu juga harus pintar untuk tetap mempromosikan produk, seperti senantiasa meletakkan CTA di akhir konten, menyematkan keranjang kuning untuk di TikTok, hingga meng-highlight keunikan dan keutamaan produk yang sedang kamu pasarkan pada konten.

2. Beberapa konten bisa rame

Konten yang berisi ragebait biasanya tidak hanya bisa dilakukan sekali, melainkan berkali-kali. Alasannya, karena kamu harus memanfaatkan momen dengan baik. Saat satu konten ragebait milikmu tembus KPI, maka kamu harus mengusahakan agar hal yang sama juga terjadi pada konten-konten lainnya. Disarankan untuk terus membuat konten ragebait ini 3-6 kali atau setara dengan 1-2 feeds.

3. Tidak perlu kesulitan menentukan banyak konsep konten

Kelebihan konten berisi ragebait lainnya adalah kamu tidak perlu kesulitan menentukan banyak konsep konten dalam satu waktu atau untuk konten yang akan datang. Singkatnya, kamu bisa menyederhanakannya menjadi beberapa konsep saja untuk konten 3-6 konten video. Tidak perlu juga kebingungan memikirkan value dari konten yang akan kamu buat. Kamu hanya perlu fokus pada mempertahankan momen yang membuat audiens kesal di awal saja.

4. Bisa dijadikan personal hook

Ketika konten ragebait yang kamu buat mencapai KPI, bisa saja itu adalah pertama kalinya banyak audiens baru mengenal brand atau produk kamu. Di medsos, mungkin setelahnya mereka akan mem-follow akunmu. Inilah waktu yang tepat kamu bisa menjadikan ragebait sebagai personal hook-mu.

Kekurangan Konten Ragebait

1. Timbul impresi negatif

Konten ragebait memang cepat menarik atensi publik agar tembus KPI, tetapi tidak semua audiens mampu menangkap isi konten yang sebenarnya. Dalam beberapa kesempatan, tidak jarang audiens akan meninggalkan impresi negatif untuk yang pertama kalinya saat melihat konten kamu. Untuk mengatasi hal ini, kamu bisa mencoba ragebait pada satu konten terlebih dahulu atau hanya menjadikannya sebagai hook.

2. Jika terus dilakukan akan merusak branding

Menjadikan konten ragebait sebagai personal hook bisa dilakukan, tetapi membuat konten yang seluruh isinya merupakan ragebait dan dilakukan secara terus-terusan hanya akan merusak branding. Orang akan mengingat kamu sebagai brand yang menyebalkan sehingga tidak ingin membeli produk yang kamu tawarkan sama sekali. Jadi, konten ragebait tidak bisa diterapkan untuk keseluruhan konten kamu, melainkan hanya sebagai hook, pada beberapa konten saja, dan tidak ditetapkan sebagai konten utama.

3. Bisa salah sasaran

Sering kali, konten ragebait salah sasaran karena perbedaan perspektif yang ada dari audiens. Jika demikian telah terjadi, maka kamu harus sesegera mungkin menghentikan konten ragebait-mu atau menghapusnya. Kamu bisa menghindarinya dengan mengonsep konten secara teliti, yakni dengan melihat risiko yang ada.

Cara Menyusun Konten Ragebait

  1. Tentukan target marketing yang sesuai.
  2. Pakai bahasa yang sopan dan tidak menyinggung SARA ataupun brand tertentu.
  3. Lakukan A/B testing. (Untuk mengetahui lebih lanjut, kamu bisa melihat artikel berikut: Apa itu A/B Testing? Penjelasan dan Contohnya
  4. Gunakan di opening untuk hook atau untuk konten selingan saja.
  5. Rencanakan konsep termasuk content value dan risiko konten.
  6. Jangan lupa untuk memberikan akses kepada audiens untuk melihat produkmu dengan menyematkan CTA di akhir konten.

Baca Juga: Benarkah Konten Viral Tak Selalu Meningkatkan Penjualan?

Kesimpulan

Konten ragebait sebenarnya sering muncul di FYP kita karena memiliki banyak impresi dan pada saat tertentu menjadi viral. Konten ragebait memang mudah menangkap perhatian audiens begitu saja. Akan tetapi, perlu banyak pertimbangan dalam membuat konten jenis ini. Selain itu, konten ragebait juga harus tetap fokus mempromosikan produk yang tengah dipasarkan. (WA)

Wafiq Azizah
of.wafiqazizah@gmail.com
Coordinator Admin DIPDOP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *