
Dipdop.net – Membuat konten marketing memang tidak mudah, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Membuat konten tidak hanya sekadar membuat video atau gambar hiburan belaka. Bahkan meskipun konten tersebut mengandung hiburan, perlu juga dipertimbangkan risiko yang “mungkin” muncul. Dikatakan mungkin karena risiko atau dampak buruk tidak selalu muncul, tetapi bisa diantisipasi.
Selain memikirkan risiko yang mungkin ada, membuat konten juga mestinya mengedepankan pengalaman pelanggan. Audiens atau pelanggan akan meninggalkan impresi pertama ketika melihat konten marketing sebelum benar-benar yakin untuk membeli produk. Barulah perbandingan antara impresi pertama dan pengalaman menggunakan produk yang akan menentukan persepsi pelanggan selanjutnya.
Kalau begitu, apa yang seharusnya dilakukan dalam membuat konten agar bisa mempertahankan impresi maupun ekspektasi pelanggan saat melihat konten sampai membeli produknya? Jawabannya cukup simpel, kamu hanya perlu membuat konten yang tidak misleading. Nah, kamu perlu mengetahui apa itu misleading dan mengapa sebaiknya kamu harus berhenti membuat konten yang misleading ini.
Baca Juga: 7 Strategi Live Shopping yang Terbukti Meningkatkan Interaksi dan Penjualan
Apa yang dimaksud dengan konten marketing yang misleading?
Secara harfiah, misleading berarti menyesatkan. Konten marketing kamu akan dianggap menyesatkan kalau tidak sesuai dengan hasil di produk aslinya, memberikan informasi yang salah, hingga membuat teori baru yang mendukung hasil produk. Misalnya, dalam konten kamu menyebutkan bahwa bisa mengurangi berat badan dalam waktu 3 hari saja dengan sehat dan tanpa efek samping. Namun, saat audiens mencobanya, produk itu tidak benar-benar bekerja selama 3 hari, melainkan satu bulan sampai beberapa kali pembelian. Audiens juga ternyata mendapat efek samping, seperti jerawatan, pencernaan sulit, dan efek samping lainnya.
Pengalaman yang dirasakan audiens memang tidak muncul dalam konten, tetapi audiens bisa memunculkan opininya di berbagai platform. Terutama di zaman yang memiliki dinamika jaringan internet yang luas, bukan tak mungkin audiens akan memviralkan toko pemilik produk begitu saja. Kalau tidak sesuai akan dibilang overclaim, tidak jujur, melebih-lebihkan, dan ujaran kekesalan lainnya.
Apakah konten misleading sama dengan click bait?
Lalu, jika konten yang misleading akan membuat orang kesal karena berbeda jauh dengan klaim yang diberikan, apa bedanya dengan click bait?
Click bait biasanya diletakkan sebelum audiens menonton atau melihat secara keseluruhan isi konten. Biasanya diletakkan di judul atau di thumbnail. Click bait memiliki tujuan agar audiens berbondong-bondong menonton atau melihat isi konten tersebut. Sementara itu, bagian yang menyesatkan pada konten misleading akan muncul di awal, tengah, akhir, bahkan sepanjang video. Dari sini bisa dilihat perbedaan antara konten misleading dengan konten yang menggunakan click bait.
Risiko konten marketing yang misleading
Risiko yang paling sering ditemukan karena konten marketing yang misleading adalah pengalaman pelanggan yang merasa ditipu. Jika berdasarkan risiko yang dihasilkan, biasanya audiens akan lebih lapang menerima kekurangan dalam skala kecil. Namun, bagaimana jika yang ditimbulkan adalah kerugian dalam skala besar?
Produk yang kita pasarkan merupakan opsi pemenuhan ekspektasi bagi audiens. Ada yang berfungsi terhadap kebutuhan rohani, dan ada juga yang berfungsi terhadap kebutuhan jasmani. Risiko yang paling besar, yakni yang menyangkut kebutuhan jasmani. Dengan kontak langsung dengan tubuh (diminum, dimakan, dipakai sebagai skincare) bisa menghadirkan respons tubuh yang berbeda-beda.
Karena konten misleading, seseorang bisa saja masuk rumah sakit karena sang penjual tidak menyebutkan bahwa biskuitnya mengandung alergen. Dalam beberapa kasus, karena konten yang misleading itu sebuah brand akhirnya dibawa ke jalur hukum.
Selain dari sudut audiens atau pelanggan, konten misleading juga memicu tersebarnya hoaks. Hoaks lebih susah dikendalikan dibanding dengan konten yang organik. Jadi, bukan tidak mungkin hoaks juga akan berbalik ke brand yang mengunggah konten penuh misleading.
Baca Juga: Affiliate Marketing Bukan Jalan Instan Jadi Kaya, Ini Fakta dan Strateginya!
Cara menghindari membuat konten marketing yang misleading
- Riset konsep konten yang ingin dipakai terlebih dahulu.
- Tonjolkan keunikan produk
- Hindari frasa hiperbola atau terlalu melebih-lebihkan
- Bangun suasana yang tidak dramatis
- Tanamkan mindset bahwa tidak hanya konten yang ramai, tetapi penjualan juga.
Baca Juga: Bukan Click Bait, Ini yang Bikin Audiens Tertarik sama Konten Brand Kamu!
Kesimpulan
Konten marketing yang misleading memiliki banyak risiko buruk. Konten semacam ini hanya akan membawa penjualan produk menurun. Hal ini karena konten misleading memberikan ekspektasi yang gagal bagi para audiens setelah mencobanya. Oleh karenanya, penting bagi kamu untuk menghindarinya agar tidak terjadi risiko dalam skala kecil maupun besar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, tetapi salah satunya adalah riset kosep konten terlebih dahulu.
Ingin membangun bisnis UMKM, tetapi membutuhkan banyak persiapan sebelum memulai dan bingung mengenai caranya? Kunjungi Dipdop.net untuk temukan solusinya. (WA)
