
Dipdop.net – Pernah terbayang tidak, sebuah merek brownies legendaris dan brand elektronik besar mendadak “gelut” lucu di linimasa? Kalau kamu aktif di aplikasi X (Twitter), kamu pasti sempat melihat fenomena Brownies Amanda dan TV Toshiba yang viral gara-gara kisah romansa dadakan. Fenomena viral ini membuktikan kalau aplikasi X adalah tempat paling seru untuk urusan kontek organik yang meledak.
Meskipun interaksi netizen sangat tinggi, nyatanya banyak orang menyadari bahwa KOL jarang pakai X dibanding Instagram dan TikTok untuk urusan promosi atau endorsement. Padahal, secara jumlah pengguna, X memiliki pengguna yang sangat loyal dan aktif.
Lantas, apa yang membuat para kreator konten lebih memilih memakai ke platform sebelah saat urusan bisnis dimulai? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Alasan Utama KOL Lebih Memilih Instagram dan TikTok
Meskipun X unggul dalam hal kecepatan informasi, ada beberapa perbedaan karakter platform yang membuat brand dan KOL lebih nyaman menggunakan Instagram atau TikTok. Berikut beberapa faktor teknis dan psikologisnya.
1. Perbedaan Visual dan Estetika Konten
Alasan pertama kenapa KOL jarang pakai X dibanding Instagram dan TikTok berkaitan dengan jenis konten yang disajikan. Instagram dan TikTok adalah platform yang mengutamakan visual. Di sana, kreator bisa memamerkan kualitas produk dengan transisi video yang estetik dan beresolusi tinggi.
Sebaliknya, X adalah platform berbasis teks. Meskipun bisa mengunggah video, audiens di X cenderung lebih menyukai diskusi atau opini singkat. Produk yang diiklankan sering kali hanya menjadi “tempelan” dalam sebuah utas atau thread, sehingga visual brand kurang menonjol dibandingkan di Instagram atau TikTok.
Baca juga: 10 Checklist Wajib Biar FYP di TikTok & Instagram Reels: Strategi Konten Efektif
2. Algoritma dan Umur Aktif Konten
Salah satu alasan kenapa KOL jarang pakai Twitter untuk promosi adalah pendeknya umur sebuah tweet. Sebuah unggahan di X bisa viral dalam hitungan jam, tetapi bisa langsung tenggelam dalam hitungan hari. Di Twitter, umur konten sebuah unggahan sangat singkat karena informasi yang cepat berganti.
Berbeda halnya dengan TikTok yang memiliki algoritma long-tail. Sebuah video lama bisa saja viral kembali jika relevan dengan minat pengguna. Sementara itu, Instagram menyediakan profil yang rapi sebagai portofolio permanen bagi KOL. Perbedaan masa aktif konten inilah yang membuat nilai investasi iklan di X dianggap kurang efisien oleh sebagian brand.
3. Budaya Kritik Netizen X
Selain masalah visual, faktor mentalitas audiens juga sangat berpengaruh. Netizen di X dikenal sangat kritis, skeptis, dan memiliki kemampuan detektif yang luar biasa. Jika sebuah promosi terasa dipaksakan atau tidak jujur, pengguna X tak segan untuk memberikan kritik.
Risiko terkena hujatan inilah yang sering kali membuat para kreator merasa was-was. Oleh karena itu, mereka lebih memilih platform seperti Instagram atau TikTok yang kolom komentarnya cenderung lebih positif dan mudah dikelola. Inilah alasan psikologis mengapa KOL jarang pakai X dibanding Instagram dan TikTok.
4. Fitur Bisnis dan Konversi Penjualan
Dari sisi infrastruktur, Instagram dan TikTok sudah memiliki fitur bisnis yang sangat matang. Adanya fitur “keranjang kuning” atau toko belanja memudahkan audiens untuk langsung membeli produk. Fitur-fitur ini sangat membantu KOL dalam menunjukkan hasil kerja mereka kepada brand secara nyata.
Sementara di X, fitur pendukung konversi penjualan masih sangat terbatas. Meski tidak ada fitur belanja terintegrasi, strategi affiliate di X tetap berjalan kencang. Biasanya dalam bentuk reply di akhir sebuah thread. Namun, karena bentuknya yang hanya berupa link teks, efektivitas konversinya sering kali dianggap tidak semudah klik langsung di TikTok Shop.
Platform Mana yang Paling Efektif untuk Promosi?
Memilih platform sebenarnya kembali lagi pada tujuan kampanye. Jika tujuannya adalah memancing percakapan publik secara organik seperti fenomena Brownies Amanda dan TV Toshiba, maka X adalah juaranya. Namun, jika tujuannya adalah konversi penjualan dan estetika visual, Instagram dan TikTok masih sulit dikalahkan.
Kesimpulan
Itulah alasan kenapa KOL jarang pakai X dibanding Instagram dan TikTok meski jumlah penggunanya sangat melimpah. Memahami karakter setiap media sosial akan sangat membantu brand dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat.
Kunjungi Dipdop.net untuk referensi lain seputar bisnis, strategi konten, dan digital marketing yang relevan buat kamu. (RP)
Baca juga: 10 Strategi Mengatasi Persaingan Bisnis Agar Jualan Makin Laris
