
Sahabat DIPDOP – Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bicara blak-blakan soal lambatnya penyaluran kredit dari bank-bank milik negara (Himbara) ke pelaku UMKM dan koperasi.
Ia mengaku awalnya yakin penyaluran kredit dari Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN akan berjalan cepat. Karena keyakinan itu, pemerintah bahkan berani menempatkan dana Sisa Lebih Anggaran (SAL) sebesar Rp 200 triliun di Himbara.
Tapi ternyata, hasilnya tak seindah harapan.
“Rupanya kalau dari Bank Mandiri dan lain-lain itu, Bank Himbara nggak langsung menyebar ke sana, masih lama. Saya pikir tadinya market-marketnya cepat, tapi ternyata lama,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan, 7 Oktober 2025.
Kalimat itu sederhana, tapi dalam maknanya. Ia bukan hanya bicara soal bank, tapi tentang mentalitas kecepatan — sesuatu yang sangat relevan buat pelaku usaha kecil.
Modal Besar Bukan Jaminan Bergerak Cepat
Bayangkan: pemerintah sudah menaruh dana triliunan, bunga penempatan dananya lebih murah dari pasar, dan niatnya jelas untuk mendukung UMKM. Tapi tetap saja, prosesnya lambat.
Kenapa? Karena sistem besar sering kali terjebak pada prosedur panjang dan rasa aman yang berlebihan.
Hal ini mengingatkan pada banyak pelaku UMKM yang berpikir, “Kalau nanti sudah punya modal, baru mulai.”
Padahal, kalau pola pikirnya masih menunggu semuanya siap, maka uang sebesar apa pun tidak akan cukup.
Dana Rp 200 triliun bisa diam tak berguna kalau tidak dijalankan.
Begitu juga ide bisnis, strategi marketing, atau rencana besar — semua cuma wacana kalau tidak dieksekusi.
Kadang masalahnya bukan di sumber daya, tapi di speed of execution.
Ketika Sistem Lambat, Kesempatan Pindah ke yang Gesit
Karena melihat Himbara lambat menyalurkan pembiayaan, pemerintah kini menyiapkan langkah intervensi langsung untuk mempercepat penyaluran kredit UMKM melalui bank pembangunan daerah (BPD) seperti Bank DKI dan Bank Jatim.
Menurut Purbaya, kedua bank itu sudah menyatakan minat untuk menerima tambahan dana pemerintah agar bisa memperluas penyaluran kredit ke sektor produktif — termasuk koperasi, universitas, dan pelaku UMKM.
Jumlah dana tahap awal yang disiapkan pemerintah bisa mencapai Rp 5–10 triliun.
Langkah ini menarik. Artinya, ketika yang besar bergerak lambat, peluang berpindah ke yang kecil tapi cepat.
BPD memang tidak sebesar Himbara, tapi mereka lebih dekat ke masyarakat, lebih fleksibel dalam memahami konteks lokal, dan lebih berani mengambil keputusan cepat.
Sama seperti dunia bisnis: kadang bukan yang paling besar yang menang, tapi yang paling gesit membaca peluang.
Pelajaran untuk UMKM: Jangan Tunggu Sistem Bergerak
Kalau pemerintah saja harus memutar arah agar uang bisa mengalir ke sektor riil, artinya satu hal: menunggu sistem sempurna tidak akan pernah efektif.
Sama seperti pelaku UMKM yang menunggu “ekonomi membaik,” atau menunggu “ada modal dulu baru jalan.”
Kenyataannya, justru yang paling cepat menyesuaikan diri yang akan bertahan.
Ketika sistem besar sedang tersendat, pelaku kecil bisa mencari jalannya sendiri.
Lihatlah bagaimana banyak bisnis kecil bertahan di tengah inflasi dan kenaikan biaya hidup.
Bukan karena mereka punya dana besar, tapi karena mereka lincah — tahu kapan harus ubah strategi, tahu kapan harus berhenti promosi dan kapan harus gencar lagi.
Keunggulan UMKM bukan di ukuran, tapi di kelincahan.
Momentum Itu Bukan Ditunggu, Tapi Diciptakan
Dalam dunia investasi, kita sering dengar istilah timing is everything.
Tapi dalam dunia usaha, timing bukan tentang menunggu waktu yang tepat, melainkan tentang menciptakan waktu yang tepat.
Bayangkan kalau pemerintah cuma menunggu Himbara mempercepat kredit, mungkin dana Rp 200 triliun itu tetap diam. Tapi karena ada langkah intervensi, dana itu akhirnya bisa dialirkan lewat bank daerah.
Begitu juga dengan bisnis kecil.
Kalau menunggu semua hal ideal — modal cukup, pasar stabil, algoritma aman — mungkin kita tidak akan mulai apa-apa.
Momentum bukan hadiah, tapi hasil dari keberanian bergerak duluan.
Dari Dana Rp 200 Triliun ke Mentalitas Rp 200 Persen
Bagi pelaku UMKM, kisah ini bisa jadi cermin yang sangat relevan.
Bukan soal angka besar yang sulit dicapai, tapi tentang cara berpikir yang bisa diterapkan hari ini juga.
Pemerintah bisa punya Rp 200 triliun, tapi yang dibutuhkan sebenarnya bukan hanya uang — melainkan kemauan untuk menyalurkan dengan cepat.
Begitu juga pelaku usaha: punya ide hebat tidak cukup kalau tidak dijalankan dengan kecepatan dan konsistensi.
Karena pada akhirnya, mentalitas “200 persen” lebih penting daripada dana Rp 200 triliun.
Mentalitas yang berani bergerak, cepat beradaptasi, dan tidak takut berubah arah ketika situasi menuntut.
Peluang Selalu Datang untuk yang Siap
Langkah pemerintah mengalihkan dana ke bank daerah menunjukkan satu hal penting: peluang tidak hilang, hanya berpindah tempat.
Ketika yang besar terlalu sibuk berhitung, yang kecil justru bisa bergerak cepat dan mengambil posisi.
Pelaku UMKM bisa belajar banyak dari situ.
Kadang kita berpikir peluang sudah habis, padahal sebenarnya kita hanya kalah cepat.
Yang pertama bergerak akan lebih dulu dikenal, lebih dulu dipercaya, dan lebih dulu mendapat hasil.
Kesimpulan
Apa yang terjadi dengan Himbara adalah gambaran sederhana dari dunia bisnis yang lebih luas: besar tidak selalu berarti gesit, dan kecil tidak selalu berarti lemah.
Pemerintah akhirnya menyalurkan dana lewat bank daerah karena tahu, kecepatan kadang lebih berharga daripada ukuran.
Hal yang sama berlaku untuk UMKM.
Jangan menunggu sistem bergerak untuk mulai beraksi.
Jangan menunggu modal datang untuk mulai berkarya.
Karena setiap menit yang terbuang bisa jadi kesempatan emas yang direbut orang lain.
Ketika bank besar jalan di gigi satu, pelaku usaha kecil bisa tancap gas di gigi empat.
Dan ketika yang lain masih menunggu aba-aba, yang sudah berlari akan tiba lebih dulu di garis akhir.
Karena dalam dunia usaha, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling cepat belajar dan paling berani mengambil langkah pertama.
Baca juga: Menkeu Baru Purbaya: Peluang Baru untuk UMKM lewat Kebijakan Fiskal Pro-Growth
