
Dipdop.net – Fenomena produk influencer yang dijual dengan harga lebih mahal dibandingkan produk UMKM kecil sering memunculkan pertanyaan di kalangan konsumen maupun pelaku usaha. Padahal, jika dilihat dari jenis produk, kualitas bahan, bahkan fungsi, terkadang tidak jauh berbeda. Namun nyatanya, produk milik influencer tetap laris meski harganya lebih tinggi. Lalu, apa sebenarnya yang membuat hal ini bisa terjadi?
1. Kekuatan Personal Branding Influencer
Salah satu faktor utama adalah personal branding. Influencer tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual persona. Kepercayaan audiens yang sudah terbangun melalui konten sehari-hari membuat rekomendasi influencer terasa lebih meyakinkan. Ketika seorang influencer meluncurkan produk, audiens merasa sedang membeli “bagian” dari sosok yang mereka kagumi, bukan sekadar barang.
UMKM kecil sering kali fokus pada produk, namun belum maksimal membangun cerita dan identitas brand. Inilah yang membuat nilai persepsi produk influencer menjadi lebih tinggi.
2. Storytelling yang Emosional
Produk influencer biasanya dibungkus dengan cerita: perjalanan membangun bisnis, proses riset produk, kegagalan, hingga visi besar di balik brand tersebut. Storytelling ini menciptakan ikatan emosional dengan konsumen. Harga yang lebih mahal pun terasa “wajar” karena konsumen merasa terlibat secara emosional.
Sebaliknya, banyak UMKM kecil belum memanfaatkan storytelling secara optimal. Padahal, cerita di balik usaha lokal sering kali jauh lebih kuat dan autentik.
3. Persepsi Eksklusivitas dan Gaya Hidup
Influencer sering memosisikan produknya sebagai bagian dari gaya hidup. Produk tidak hanya berfungsi, tetapi juga merepresentasikan status, selera, dan identitas sosial. Strategi ini membuat produk terlihat eksklusif dan premium, meski biaya produksinya tidak selalu lebih tinggi dari UMKM kecil.
UMKM umumnya menargetkan harga terjangkau agar bisa bersaing, namun tanpa disadari justru membangun persepsi “murah” di mata konsumen.
4. Strategi Pemasaran yang Konsisten dan Masif
Influencer memiliki keunggulan besar dalam akses pemasaran. Mereka bisa mempromosikan produk melalui berbagai platform—Instagram, TikTok, YouTube—secara konsisten dan berulang. Konten promosi pun terasa natural karena menyatu dengan keseharian mereka.
Sementara itu, UMKM kecil sering terkendala waktu, tenaga, dan biaya untuk pemasaran digital. Akibatnya, produk UMKM kalah dari segi visibilitas meski kualitasnya tidak kalah.
5. Kepercayaan dan Social Proof
Jumlah pengikut, testimoni publik figur, serta engagement tinggi menjadi social proof yang kuat. Konsumen cenderung percaya bahwa produk influencer “sudah pasti bagus” karena dipakai banyak orang dan sering muncul di media sosial.
UMKM kecil sering bergantung pada ulasan pembeli biasa yang jumlahnya terbatas, sehingga kepercayaan konsumen tumbuh lebih lambat.
6. Pelajaran Penting untuk UMKM Kecil
Fenomena ini bukan berarti UMKM kecil tidak bisa menjual produk dengan harga lebih tinggi. Justru, ada pelajaran penting yang bisa diambil:
- Bangun branding yang konsisten, bukan hanya fokus pada produk.
- Gunakan storytelling untuk mengangkat nilai dan perjuangan usaha.
- Manfaatkan media sosial secara strategis, meski dengan skala kecil.
- Ciptakan keunikan yang membedakan produk dari pesaing.
Baca juga : Fenomena Influencer: Menguntungkan atau Membakar Uang?
Kesimpulan
Produk influencer bisa dijual lebih mahal bukan semata-mata karena kualitas, tetapi karena nilai persepsi yang dibangun melalui branding, storytelling, pemasaran, dan kepercayaan audiens. UMKM kecil sebenarnya memiliki potensi besar untuk melakukan hal serupa. Dengan strategi yang tepat, produk UMKM pun bisa memiliki nilai jual tinggi dan bersaing secara sehat di pasar.
Bangun branding UMKM mu bersama DIPDOP sekarang juga! (HS)
