
Dipdop.net – Jualan di Facebook masih laku di 2026? Di tengah ramainya TikTok Shop dan Instagram Reels, banyak pelaku UMKM mulai meragukan efektivitas Facebook sebagai kanal penjualan. Padahal, platform ini masih memiliki basis pengguna aktif yang besar di Indonesia, terutama untuk segmen usia 25 tahun ke atas dan pasar lokal.
Masalahnya bukan pada platformnya, melainkan pada strategi yang digunakan. Banyak pelaku usaha masih memakai pola lama: posting foto produk, tulis harga, lalu berharap ada yang membeli. Di 2026, pendekatan seperti ini sudah tidak cukup.
Kenapa Jualan di Facebook Masih Potensial?
Pertama, Facebook kuat di komunitas. Grup jual beli lokal, komunitas parenting, hingga forum warga perumahan masih aktif dan interaktif. Di sinilah kekuatan Facebook dibanding platform lain: relasi dan kedekatan.
Kedua, Facebook Marketplace masih menjadi tempat favorit untuk mencari produk kebutuhan harian. Banyak orang langsung mengetik barang yang dibutuhkan di Marketplace tanpa membuka Google.
Ketiga, tingkat kepercayaan di Facebook cenderung lebih tinggi jika akun terlihat real dan aktif. Profil personal yang kuat sering kali lebih meyakinkan dibanding akun bisnis baru.
Namun agar jualan di Facebook tetap laku di 2026, UMKM tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional.
Strategi UMKM Jualan di Facebook yang Jarang Dibahas
1. Bangun Personal Branding, Bukan Sekadar Akun Jualan
Di Facebook, orang membeli dari orang. Profil dengan foto jelas, aktivitas konsisten, dan interaksi nyata lebih dipercaya. Jangan hanya memposting produk. Sisipkan cerita, edukasi, atau pengalaman pelanggan.
2. Gunakan Pola Soft Selling
Alih-alih menulis “Ready stok, harga sekian,” coba gunakan pendekatan pertanyaan atau cerita. Misalnya:
“Bunda, kalau anak pulang sekolah biasanya suka ngemil apa? Kami baru restock camilan favorit yang sering repeat order.”
Pendekatan ini meningkatkan engagement sekaligus membuka ruang percakapan.
3. Optimasi Facebook Marketplace
Gunakan judul produk yang mengandung kata kunci, misalnya: “Frozen Food Homemade Sidoarjo – Tanpa Pengawet.” Tambahkan lokasi yang spesifik agar mudah ditemukan pembeli terdekat.
4. Manfaatkan Grup Facebook Secara Strategis
Jangan spam di banyak grup sekaligus. Pilih grup yang relevan dan aktif. Ikuti aturan grup, lalu bangun interaksi sebelum promosi.
5. Konsisten Posting Konten Bernilai
Facebook lebih menyukai akun yang aktif dan konsisten. Campurkan konten edukasi, testimoni, behind the scenes, hingga promo. Variasi konten membuat algoritma lebih ramah dan audiens tidak bosan.
Strategi Membangun Branding UMKM dari Nol agar Produk Mudah Dikenal dan Dipercaya Konsumen
Kesalahan UMKM Saat Jualan di Facebook
Banyak UMKM gagal bukan karena Facebook tidak efektif, tetapi karena:
- Terlalu fokus pada harga murah
- Tidak membangun kepercayaan
- Tidak membalas komentar dengan cepat
- Tidak memanfaatkan fitur Story dan Marketplace
Padahal, respons cepat dan komunikasi personal sering menjadi faktor penentu closing.
Kesimpulan
Jadi, jualan di Facebook masih sangat laku di 2026, terutama untuk UMKM yang menyasar pada lokal dan membangun relasi jangka panjang. Platform ini belum kehilangan pengguna, tetapi cara berjualannya memang harus berubah.
UMKM yang mampu membangun personal branding, menerapkan soft selling, dan mengoptimalkan Marketplace tetap memiliki peluang besar untuk mendapatkan order secara konsisten. Facebook bukan platform yang mati, hanya saja strategi lamanya yang sudah tidak relevan.
Bangun branding UMKM mu bersama DIPDOP (HS)
