Ironi Genting: Judi Malaysia, Listrik Indonesia, dan Saham yang Ambruk

DIPDOP > Uncategorized > Ironi Genting: Judi Malaysia, Listrik Indonesia, dan Saham yang Ambruk

Dipdop.net – Sahabat DIPDOP, tahukah kamu kalau sebagian listrik yang menyalakan rumah, kantor, dan bisnis di Jabodetabek dan sebagian Jawa ternyata berasal dari investasi perusahaan judi terbesar di Malaysia, Genting? Selama ini nama Genting lebih dikenal sebagai kerajaan kasino dan resort, padahal gurita bisnis mereka jauh lebih dalam: energi, properti, minyak & gas, sampai ekspansi ke Eropa dan Amerika Serikat.​​

Yang bikin banyak orang kaget, Genting ikut masuk ke bisnis pembangkit listrik di Indonesia. Salah satunya melalui proyek PLTU di Banten yang menyuplai sistem Jawa–Bali dengan kapasitas besar dan nilai investasi mencapai sekitar US$1 miliar. Jadi, tanpa disadari, listrik yang kita pakai tiap hari ikut ditopang oleh modal yang asal-muasalnya dari bisnis judi.​

Genting: Dari Kasino ke Pembangkit Listrik

Genting selama bertahun‑tahun membangun image sebagai pemain global di dunia hiburan, resort, dan kasino. Namun, sejalan waktu, mereka makin agresif masuk sektor energi.
Beberapa langkah penting mereka antara lain:

  • Investasi di pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan gas di berbagai negara, termasuk Indonesia dan China.​
  • Proyek fasilitas LNG terapung (FLNG) dan pengembangan blok gas Kasuri yang dikaitkan dengan pasokan energi ke Indonesia.​

Buat Indonesia, kehadiran Genting di sisi energi punya dua wajah. Positifnya, proyek besar seperti PLTU Banten membantu memenuhi kebutuhan listrik Jawa–Bali tanpa pemerintah harus keluar modal langsung dalam jumlah masif. Negatifnya, ada pertanyaan soal ketergantungan energi terhadap investor asing yang core bisnisnya adalah judi.​

Saham Genting Malah Ambruk: Kok Bisa?

Di tengah ekspansi agresif, kondisi saham Genting dan Genting Malaysia justru lagi babak belur. Dalam beberapa tahun terakhir, harga sahamnya turun tajam, bahkan pemberitaan menyebut penurunan puluhan persen hingga mendekati 70% jika dihitung dari puncak harga beberapa tahun lalu.​​

Beberapa faktor utama yang menekan saham Genting dan entitas terkait:

  • Peningkatan pajak dan bea permainan oleh pemerintah di negara asal, yang menekan margin bisnis kasino.​
  • Akuisisi aset bermasalah seperti Empire Resort di AS, yang menimbulkan kekhawatiran tata kelola dan beban utang.​
  • Kinerja keuangan yang melambat, termasuk penurunan laba bersih hingga puluhan persen dan bahkan kembali rugi di beberapa kuartal.​
  • Dikeluarkannya Genting dan Genting Malaysia dari indeks utama bursa, memaksa banyak fund besar menjual saham mereka dan menekan harga lebih jauh.​

Jadi, di permukaan Genting seperti raksasa yang menggurita ke banyak sektor, tapi di lantai bursa mereka justru sedang tersandung.

Ironi buat Indonesia: Listrik Strategis, Pemiliknya Goyah

Di sinilah letak ironi yang disorot:

  • Infrastruktur strategis seperti pembangkit listrik di Jawa–Bali ikut bergantung pada perusahaan asing yang inti bisnisnya judi dan sedang menghadapi tekanan finansial serius.​​
  • Kalau kinerja Genting makin memburuk, potensi efek ke Indonesia bisa bermacam‑macam, mulai dari kebutuhan refinancing proyek sampai kemungkinan perubahan kepemilikan aset energi di dalam negeri.

Dari sudut pandang kedaulatan energi, kondisi ini memunculkan pertanyaan penting:

  • Sejauh apa Indonesia nyaman membiarkan pemain judi internasional punya posisi signifikan di sektor vital?
  • Apakah ke depan negara perlu menyiapkan strategi ambil alih atau minimal menata ulang porsi kepemilikan di sektor listrik strategis jika Genting makin goyah?​​

Pelajaran buat Investor & Pelaku Usaha

Bagi investor ritel dan pelaku usaha di Indonesia, kasus Genting memberi beberapa pelajaran:

  • Jangan cuma lihat “nama besar” dan skala global; cek juga kualitas fundamental, beban utang, dan risiko regulasi sektor inti.​
  • Diversifikasi bisnis ke sektor energi tidak otomatis membuat perusahaan stabil jika core business‑nya sendiri bermasalah.
  • Negara penerima investasi (seperti Indonesia) perlu hati‑hati memilih mitra di sektor strategis agar tidak terlalu bergantung pada entitas yang volatile

Kesimpulan

Genting adalah contoh nyata betapa rumitnya hubungan antara modal global, bisnis judi, dan infrastruktur strategis seperti listrik. Indonesia mendapat manfaat jangka pendek berupa tambahan pasokan energi dan investasi besar, tetapi di sisi lain harus waspada karena pemilik salah satu aset penting ini sedang mengalami tekanan berat di pasar modal.

Baca juga: Cara Menentukan Harga Produk Digital yang Tepat agar Tidak Merugi

Steven Chen
chensteve96@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *