IHSG Menguat, Big Bank Jadi Pemberat: UMKM Harus Belajar Apa?

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > IHSG Menguat, Big Bank Jadi Pemberat: UMKM Harus Belajar Apa?

Hello Sahabat DIPDOP, pernahkah Anda membaca berita pasar saham yang terasa membingungkan? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat menguat, namun di sisi lain saham-saham besar — terutama bank-bank raksasa — justru melemah dan menjadi pemberat indeks.

Hingga akhir September 2025, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat:

BBCA melemah -21,19% year to date (ytd).

BMRI turun -22,81%.

AMRT terkoreksi -32,28%.

Saham tambang seperti AMMN, ADRO, BYAN juga ikut melemah.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: jika perusahaan-perusahaan besar bisa tertekan, apa pelajaran yang bisa diambil oleh pelaku UMKM di Indonesia?

Mengapa Saham Big Caps Menjadi Pemberat?

1. Perbankan Tertekan Kredit Lesu

Bank besar biasanya menjadi penggerak utama IHSG. Namun, tahun ini justru berbalik arah. Penyebab utamanya adalah:

Penyaluran kredit belum terserap optimal.

Net Interest Margin (NIM) tertekan akibat tingginya beban bunga.

Investor asing menarik dana karena menunggu kepastian arah perekonomian dan kebijakan suku bunga.

2. Sektor Pertambangan Kehilangan Momentum

Harga batubara mengalami pelemahan, permintaan dari Tiongkok belum pulih, sementara tren global mulai beralih ke emas dan energi terbarukan. Akibatnya, saham-saham tambang juga tertekan.

3. Sektor Konsumsi Masih Lemah

Saham ritel seperti AMRT, MAPA, dan ICBP terkoreksi karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

4. Arus Keluar Investor Asing

Tekanan arus keluar dana dari investor asing, khususnya di sektor perbankan, memperburuk pelemahan harga saham big caps.

Mengapa IHSG Tetap Menguat?

Meskipun banyak saham besar tertekan, IHSG masih menunjukkan penguatan. Hal ini karena ada saham lain yang menopang indeks, misalnya perusahaan konglomerasi seperti DCII, BRPT, DSSA, dan CDIA yang mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun.

Artinya, angka IHSG sebagai agregat bisa menutupi kondisi sebenarnya di lapangan. Warna hijau pada layar belum tentu mencerminkan kesehatan seluruh saham besar.

Pelajaran untuk Investor Ritel

Dari fenomena ini, investor ritel bisa menarik beberapa pelajaran penting:

Blue chip tidak selalu aman. Nama besar bukan jaminan terbebas dari koreksi.

Diversifikasi sangat penting. Jangan hanya bergantung pada satu sektor atau emiten besar.

Amati tren makro. Faktor eksternal seperti suku bunga, harga komoditas, dan daya beli masyarakat punya pengaruh besar.

Pelajaran untuk UMKM

Baca juga: UMKM Jadi Salah Satu Prioritas di APBN 2026, Terus UMKM Harus Apa?

Bagaimana dengan UMKM?

Fenomena big caps ini menunjukkan bahwa perusahaan besar bisa saja terhambat oleh faktor struktural, sementara UMKM justru memiliki keunggulan dalam hal kelincahan.

Beberapa poin penting yang bisa dipelajari:

  • Jangan pasif. Ketika bank besar terhambat penyaluran kredit, UMKM bisa lebih proaktif mencari peluang.
  • Beradaptasi dengan cepat. Jika tren pasar berubah, UMKM lebih fleksibel menyesuaikan produk dan layanan.
  • Diversifikasi saluran penjualan. Sama seperti investor yang tidak boleh bergantung pada satu saham, UMKM juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu kanal penjualan.
  • Bangun narasi brand. Konglomerasi bisa menopang IHSG karena memiliki pertumbuhan cerita bisnis. UMKM pun bisa memperkuat posisinya dengan membangun narasi produk yang kuat dan relevan.

Peran Ekosistem Pendukung

UMKM tidak bisa berjalan sendirian. Sama seperti investor yang membutuhkan sekuritas untuk analisis, UMKM juga membutuhkan ekosistem pendukung agar tetap kompetitif.

Di sini, DIPDOP hadir dengan beberapa peran strategis:

  • Menyediakan edukasi digital marketing, copywriting, dan branding.
  • Menjadi wadah komunitas untuk saling mendukung dan berkolaborasi.
  • Memberikan pendampingan praktis agar UMKM tidak bingung menghadapi perubahan tren.
  • Menjembatani networking dan peluang kerja sama baru.

Dengan ekosistem semacam ini, UMKM memiliki kesempatan untuk berkembang lebih cepat meskipun kondisi makro tidak sepenuhnya mendukung.

Kesimpulan

IHSG yang terlihat menguat meski saham big caps melemah adalah pengingat bahwa angka besar tidak selalu menggambarkan kenyataan di lapangan.

Bagi investor, ini adalah pelajaran tentang pentingnya diversifikasi dan membaca tren makro.
Bagi UMKM, ini adalah dorongan untuk tidak menjadi “raksasa yang lambat bergerak,” melainkan pelaku usaha yang lincah, adaptif, dan berani mengambil peluang ketika perusahaan besar masih berhitung.

Dengan dukungan ekosistem yang tepat seperti DIPDOP, UMKM bisa melangkah lebih gesit, menemukan ceruk pasar baru, dan memperkuat posisinya di tengah dinamika ekonomi yang penuh tantangan.

Karena dalam dunia bisnis, yang bertahan bukanlah yang terbesar, melainkan yang paling cepat beradaptasi.

Steven Chen
chensteve96@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *