
Dipdop.net – Siapa yang menyangka, brand kopi lokal Fore Coffee yang dulu cuma bermula dari sebuah booth kecil di Jakarta, kini sudah menjelma jadi raksasa dengan ratusan outlet di berbagai kota bahkan sampai ke luar negeri. Dalam waktu singkat, Fore Coffee berhasil menembus pasar dan menjadi salah satu nama besar di industri kopi Indonesia. Tapi, sebenarnya apa sih rahasia di balik kesuksesan mereka?
Baca Juga:Affiliate Marketing Bukan Jalan Instan Jadi Kaya, Ini Fakta dan Strateginya!
Awal Perjalanan Fore Coffee
Fore Coffee berdiri pada tahun 2018 dengan CEO-nya, Vico Lomar. Gerai pertamanya dibuka di Kebayoran Baru, Jakarta, dan kini sudah punya lebih dari 200 outlet yang tersebar di 43 kota di Indonesia. Bahkan di tahun 2023, Fore sudah merambah pasar internasional dengan membuka cabang di Singapura. Tidak berhenti di situ, mereka menargetkan ekspansi hingga 140 outlet baru pada tahun 2026, dengan suntikan dana segar dari rencana IPO senilai Rp379 miliar.
Angka-angka tersebut tentu tidak muncul begitu saja. Di baliknya ada strategi matang yang membuat Fore Coffee berkembang sangat cepat, mulai dari konsep produk, kolaborasi, hingga pemanfaatan teknologi.
1. Produk Berkualitas dan Kolaborasi yang Cerdas
Fore Coffee sadar betul bahwa di industri kopi, kualitas adalah segalanya. Mereka menggunakan campuran biji kopi arabika terbaik dari Gayo, Toraja, dan Jawa Barat. Menu andalannya, Butterscotch Latte, jadi favorit banyak pelanggan.
Namun, Fore tidak hanya menjual rasa kopi. Mereka juga menjual experience dan brand personality. Caranya? Melalui kolaborasi kreatif dengan influencer, brand lain, bahkan figur publik. Salah satu contohnya adalah kerja sama mereka dengan brand parfum HMNS, yang sukses mencuri perhatian anak muda.
Kolaborasi seperti ini menciptakan efek berantai—exposure besar di media sosial dan rasa penasaran yang membuat orang ingin mencoba langsung. Dengan begitu, Fore tidak hanya menjual kopi, tapi juga gaya hidup.
2. Format Toko yang Fleksibel dan Nyaman
Kalau kamu sering nongkrong di Fore Coffee, mungkin pernah sadar kalau desain tiap tokonya berbeda-beda. Itu bukan kebetulan. Fore memang punya tiga format toko: flagship store, medium store, dan satellite store.
Pendekatan ini memungkinkan Fore menyesuaikan konsep toko dengan target pasar di tiap kota. Di kota besar, mereka buka flagship yang luas dan estetik untuk tempat nongkrong dan kerja. Sementara di daerah, mereka hadir dengan konsep yang lebih ringkas dan efisien.
Konsep ini menunjukkan bahwa Fore tidak hanya menjual kopi, tapi juga menjual suasana. Banyak orang datang ke Fore bukan semata-mata untuk ngopi, tapi juga buat nongkrong, kerja, atau sekadar santai bareng teman. Kenyamanan inilah yang jadi nilai jual utama.
3. Pemanfaatan Teknologi dan Loyalitas Pelanggan
Salah satu kekuatan besar Fore adalah kemampuan mereka memanfaatkan teknologi untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan. Fore punya aplikasi khusus yang sudah diunduh jutaan kali. Lewat aplikasi ini, pelanggan bisa memesan minuman secara online, mendapatkan poin, promo, hingga voucher.
Lebih dari sekadar alat transaksi, aplikasi ini menjadi sumber database pelanggan yang sangat berharga. Dengan data tersebut, Fore bisa memberikan promo yang lebih personal dan efisien. Ini yang membedakan mereka dari banyak UMKM lain yang masih bergantung pada marketplace atau media sosial saja.
Selain itu, Fore juga aktif mengadakan pelatihan dan kompetisi barista untuk meningkatkan kualitas layanan. Mereka tahu, barista yang punya nama dan keahlian bisa jadi daya tarik tersendiri untuk pelanggan.
4. Momentum yang Tepat dan Nilai Emosional
Menariknya, pertumbuhan Fore juga didorong oleh momentum sosial. Saat tren boikot terhadap beberapa brand asing muncul karena isu kemanusiaan di Palestina, banyak konsumen mencari alternatif kopi lokal. Fore menjadi salah satu pilihan utama karena dianggap brand lokal yang kuat dan relevan.
Timing ini dimanfaatkan dengan baik oleh Fore untuk memperluas pasar dan memperkuat identitasnya sebagai kopi lokal kebanggaan Indonesia. Kombinasi antara kualitas produk, strategi pemasaran, dan momentum sosial inilah yang membuat mereka tumbuh luar biasa cepat.
Baca Juga:Cara Jualan Tanpa Terlihat Jualan: Rahasia Soft Selling di Tahun 2025
Kesimpulan
Dari kisah Fore Coffee, ada beberapa hal penting yang bisa dipetik para pelaku UMKM.
Pertama, lakukan riset pasar sebelum ekspansi. Menentukan lokasi yang tepat bisa sangat berpengaruh pada penjualan.
Kedua, sesuaikan konsep bisnis dengan target pasar. Tidak semua lokasi cocok untuk model toko besar.
Ketiga, jangan takut untuk berkolaborasi, baik dengan brand lain maupun influencer.
Dan keempat, manfaatkan digital engagement untuk menjaga hubungan dengan pelanggan. Kalau belum mampu bikin aplikasi, gunakan WhatsApp atau media sosial untuk CRM sederhana.
Fore Coffee membuktikan bahwa bisnis lokal bisa bersaing dengan brand besar asal dijalankan dengan strategi yang matang. Dari booth kecil hingga ratusan outlet, semua dimulai dari visi besar dan eksekusi yang konsisten. Siapa tahu, kisah sukses Fore bisa jadi inspirasi untuk bisnis kamu berikutnya.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!
