Copywriting, Seni Marketing yang Nggak Cuma Bermain Diksi

DIPDOP > Ceative Agency > Digital Marketing > Copywriting > Copywriting, Seni Marketing yang Nggak Cuma Bermain Diksi
Copywriting, Seni Marketing yang Nggak Cuma Bermain Diksi

Dipdop.net – Pernahkah kamu langsung tertarik membeli suatu produk karena membaca iklan di brosurnya? Atau sering nggak, sih, kalau disebutkan slogan suatu produk, kamu langsung bisa menebak produk apa itu? Fix, deh, sesungguhnya kamu lagi kecipratan kekuatan copywriting.

Copywriting memang punya efek yang nggak main-main. Oleh karenanya, teknik marketing yang satu ini sangat penting buat selalu ada kalau kamu mau meningkatkan penjualan dan brand awareness. Copywriting menjadi impresi utama brand kamu ketika pertama kalinya menjangkau konsumen baru atau mempertahankan presensi pada konsumen yang telah memercayainya.

Lantas, gimana jadinya kalau copywriting kamu nggak punya kekuatan yang “seharusnya”? Well, bisa jadi copywriting yang kamu buat nggak meninggalkan kesan yang mengunggahkan audiens. Ujung-ujungnya, hanya jadi angin lewat semata dan gagal meningkatkan brand awareness apalagi penjualan. Jadi bagaimana cara menghindarinya?

Baca Juga: 5 Elemen Penting dalam Copywriting yang Wajib Ada!

Jangan cuma mainkan diksi

Membuat copywriting jadi tulisan yang kuat itu perlu memahami konsepnya terlebih dahulu nada dan suasana pada tulisanmu nanti. Hal ini bukan berarti copywriting itu hanya sekadar memainkan diksi atau pilihan kata. Lebih daripada itu, mesti ada kesinambungan yang ditonjolkan dan setidaknya bisa menyentuh emosi audiens.

Dalam copywriting, kita tidak hanya akan bilang, “Dekorasi mini, diskon 20% hari ini.” Akan tetapi, kita akan bilang, “Percantik kamar Anda dengan dekorasi mini X dan dapatkan diskon 20% hanya hari ini!”

Pada kalimat pertama, terkesan singkat dan berirama dari adanya kata “mini” dan “ini”. Namun, audiens mungkin akan melihat produk yang sama di toko lain dengan diskon hampir serupa sehingga mereka malah bingung dan tidak jadi membeli produk pertama atau bahkan tidak keduanya.

Berbeda dengan kalimat kedua yang meskipun terlihat lebih panjang dengan inti yang sama dengan kalimat pertama, tetapi terdapat value yang imperatif terhadap audiens. “Percantik kamar Anda,” akan membuat audiens berpikir dan mengantisipasi bahwa kamarnya bisa lebih cantik dengan produk. Kata “hanya” juga memberikan penegasan bahwa audiens tidak bisa menunggu besok untuk membeli produk dengan diskon 20%.

Coba buat kesan familier

Target utama dari copywriting adalah mencoba sebisa mungkin dekat dengan audiens, termasuk ketertarikan mereka. Untuk melakukannya kamu bisa dengan mengikuti trend atau riding the wave. Kamu bisa juga mengadaptasi peribahasa atau pepatah yang telah diketahui khalayak.

Kalau kamu mau lebih eksklusif, langkah yang tepat adalah dengan meriset segmen pasar tertentu dan melihat trend atau kata-kata yang sudah akrab dengan audiens pada segmen pasar tersebut. Segmen pasar bola coba pakai istilah bola, segmen pasar anime coba pakai istilah anime, begitu juga untuk segmen pasar lainnya.

Utamakan kebutuhan audiens

Berbagai brand memiliki peluang besar dalam menjual produk, harga, dan bentuk yang hampir serupa antara satu dengan lainnya. Mungkin terdapat banyak hal yang membedakannya, tetapi yang pertama kali terlihat oleh audiens adalah tampilan saat produk itu dipasarkan dan itu berarti mencakup copywriting produk. Ini adalah kesempatan brand bisa menonjolkan ciri khas dan membedakan produknya dengan produk serupa dari brand lain.

Selain mesti harus menyentuh emosi audiens dan berusaha familier di tengah-tengah mereka, copywriting juga harus dapat memenuhi ekspektasi dari kebutuhan audiens. Hasilnya, audiens akan membeli produk bukan karena keinginan atau terkesan impulsif, tetapi di baliknya ada kepercayaan terhadap produk yang suatu saat akan berguna melalui pemenuhan kebutuhan yang ditawarkan pada copywriting.

Dibanding mengatakan, “Beli botol minum dengan desain lucu berikut,” akan lebih bagus jika mengatakan, “Penuhi kebutuhan air putih setiap hari sambil tetap tampil modis dengan botol minum berikut.”

Lakukan A/B Testing

A/B Testing adalah teknik mengetes atau mencoba dua versi yang berbeda dari suatu rancangan tertentu untuk membandingkan tingkat keberhasilan dan menetapkannya sebagai pilihan utama. A/B Testing bisa kamu aplikasikan untuk kebutuhan marketing atau brand kamu, seperti halaman website, desain iklan, bahkan copywriting.

A/B Testing ini bisa kamu gunakan apabila kamu memiliki banyak opsi copywriting dan kebingungan memilih yang akan dijadikan sebagai yang utama. Misalnya, kamu punya copy A dan copy B, kamudian untuk memilihnya kamu bisa mengirimkan keduanya kepada audiens secara langsung melalui SMS atau newsletter di e-mail. Selanjutnya, kamu bisa membandingkan mana copywriting yang lebih banyak dibuka oleh audiens ketika menerimanya.

    Baca Juga: Menggunakan A/B Testing dalam Meningkatkan Konversi Penjualan

    Kesimpulan

    Faktanya, meski copywriting terlihat sepele dengan hanya menggunakan kata-kata, ternyata perancangannya nggak sepele sama sekali, loh. Untuk itu, kamu perlu membuat copywriting yang kuat di mata audiens. Copywriting yang kuat bukan hanya mengandalkan permainan diksi saja, tetapi juga ada usaha untuk menyentuh emosi audiens, menjadi familier, menutupi kebutuhan audiens, serta mengetesnya sesuai pandangan audiens. (WA)

    Wafiq Azizah
    of.wafiqazizah@gmail.com
    Coordinator Admin DIPDOP.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *