Cara Menentukan Harga Produk Digital yang Tepat agar Tidak Merugi

DIPDOP > Ceative Agency > Digital Marketing > Pengembangan Diri & Skill > Cara Menentukan Harga Produk Digital yang Tepat agar Tidak Merugi
Cara Menentukan Harga Produk Digital yang Tepat agar Tidak Merugi

Dipdop.net – Banyak orang yang membuat produk digital seperti e-book, e-course, materi pelatihan, template desain, atau tools tertentu biasanya terjebak pada satu masalah yang sama: bingung menentukan harga jualnya. Fenomena ini sering terjadi terutama pada kreator pemula, yang sudah menghabiskan waktu lama membuat produk, tetapi ketika sampai pada tahap pricing justru ragu harus menetapkan harga berapa.

Ketakutan umum biasanya ada dua: kalau harga terlalu tinggi takut tidak laku, tapi kalau terlalu rendah khawatir tidak sesuai dengan usaha yang sudah dikeluarkan. Ini wajar, tetapi sebenarnya ada pendekatan praktis yang bisa membantu kita membuat keputusan harga dengan lebih percaya diri.

Baca Juga: Pola Kerja Sama Bisnis yang Sehat: Jangan Mulai Tanpa Fondasi yang Jelas

Produk Digital Tidak Memiliki HPP

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa produk digital itu tidak memiliki biaya produksi fisik. Tidak ada biaya bahan baku, tidak ada biaya gudang, tidak ada ongkos cetak, dan tidak ada distribusi fisik. HPP (harga pokok penjualan) dalam produk digital itu hampir nol. Semua biaya yang mungkin muncul biasanya berupa biaya marketing, biaya operasional tim, atau biaya pembuatan konten. Namun dalam elemen HPP secara teknis, ia tidak ada.

Karena itu, dalam produk digital, harga tidak ditentukan dari biaya produksi, tetapi dari nilai yang ditawarkan kepada pembeli  atau dalam istilah marketing dikenal sebagai value-based pricing. Inilah mengapa penting untuk mengubah cara berpikir: jangan menentukan harga berdasarkan berapa lama waktu yang kita habiskan dalam membuat produk, tetapi tentukan harga berdasarkan transformasi atau perubahan seperti apa yang akan dialami pelanggan setelah menggunakan produk kita.

Menjual Transformasi, Bukan Produk

Ketika orang membeli produk digital, mereka tidak membeli file PDF, tidak membeli file video, tidak membeli sekumpulan teks, tetapi membeli hasil atau perubahan, entah itu peningkatan pendapatan, peningkatan kemampuan, peningkatan wawasan, atau perubahan mindset. Inilah nilai sebenarnya dari produk digital.

Sebagai contoh, sebuah ebook yang menawarkan formula untuk menghasilkan 100 juta per bulan jelas memiliki nilai transformasi yang besar. Kalau dijual dengan harga 200 ribu rupiah saja, itu sebenarnya masih sangat murah jika dibandingkan dengan hasil yang mungkin didapatkan pembelinya. Bahkan kalau hanya mengambil value 1% dari hasil bulanan seperti dalam contoh tadi, harga tersebut cukup wajar.

Inilah pendekatan pertama dalam menentukan harga: mengukur nilai transformasi. Kita perlu menilai, kira-kira berapa potensial hasil yang bisa diperoleh user. Bisa berupa uang, waktu, pengalaman, jaringan, akses, atau pengetahuan praktis.

Menyesuaikan dengan Harga Pasar

Langkah kedua adalah membandingkan harga kita dengan harga pasar. Ini bukan berarti harus mengikuti harga kompetitor, tetapi perlu mengetahui rentang harga yang wajar untuk produk sejenis. Misalnya, jika produk kategori serupa dijual di pasaran dengan kisaran 50 ribu sampai 250 ribu rupiah, lalu kita langsung memasang harga satu juta tanpa reputasi atau bukti kredibilitas yang kuat, itu akan terasa tidak masuk akal bagi calon pembeli. Orang perlu penjelasan mengapa harganya tinggi  dan penjelasan itu harus kembali berbasis kepada transformasi yang dijanjikan, bukan sekadar fitur.

Menggunakan Strategi Pricing Tier & Decoy Effect

Langkah ketiga adalah teknik psikologis dalam pricing, yaitu menyajikan beberapa pilihan harga  misalnya tiga tier harga berbeda. Ini dikenal sebagai decoy effect, yaitu ketika orang cenderung memilih pilihan tengah karena merasa itu opsi paling seimbang antara harga dan manfaat. Teknik ini sering digunakan dalam industri makanan, minuman, hingga langganan software.

Dengan memberi tiga opsi  misalnya basic, regular, dan premium, konsumen cenderung memilih yang tengah, yang biasanya merupakan opsi yang paling kita targetkan untuk dibeli.

Fokus pada Dampak, Bukan Upaya Produksi

Selain menentukan harga, hal penting lainnya adalah bagaimana menawarkan produk digital itu sendiri. Jangan hanya menjual bentuk  misal ebook 30 halaman, kelas online 10 video, workshop 2 jam  tetapi jual hasilnya. Orang perlu membayangkan perubahan yang mereka dapat setelah membeli produk tersebut. Makin jelas transformasinya, makin wajar harga yang lebih tinggi.

Contohnya:
Bukan ebook 60 halaman, tetapi panduan lengkap yang bisa membuat kamu memulai bisnis freelance dan menghasilkan klien pertama dalam 30 hari.

Bukan kelas 8 modul, tetapi program pelatihan yang membuat kamu bisa membuat brand personal profesional dan meningkatkan kredibilitasmu di mata klien.

Baca Juga: Cara Hitung HPP Biar Jualan Gak Cuma Laris, Tapi Juga Bikin Dompet Aman

Kesimpulan

Dengan memahami mindset ini, kreator produk digital tidak lagi terjebak dalam perhitungan jam kerja, perasaan capek saat membuat produk, atau lamanya proses produksi. Itu semua tidak relevan bagi customer. Yang mereka pedulikan hanyalah: Apa yang saya dapat setelah membeli produk ini?

Keberhasilan dalam pricing produk digital adalah kombinasi antara pemahaman nilai transformasi, kesesuaian dengan kondisi pasar, dan penyajian pilihan harga yang strategis. Kalau pendekatan ini dilakukan dengan tepat, harga produk digital dapat ditentukan dengan percaya diri tanpa rasa ragu atau takut tidak laku.

Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)

Bramantyo Rahardyan Firmansyah
tyobraman30@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *