
Dipdop.net – Pernah enggak sih kamu lagi santai scrolling di media sosial, enggak niat beli apa-apa, tapi tiba-tiba kepo dan berakhir beli sesuatu?
Nah, itulah kekuatan soft selling — seni jualan yang halus, enggak terasa seperti jualan, tapi justru bikin orang tertarik dan percaya.
Di era 2025 ini, cara jualan seperti itu semakin penting,menurut Forester Research dan sumber Youtube, 74% konsumen lebih percaya rekomendasi non-iklan dibanding promosi langsung.
Jadi, kalau kamu terlihat terlalu “jualan banget”, orang bisa langsung ilfeel.
Sebaliknya, ketika promosi dibungkus lewat cerita, edukasi, dan emosi, hasilnya bisa jauh lebih efektif.
1. Jual Cerita, Bukan Produk
Inilah prinsip pertama dan paling penting dalam soft selling: cerita lebih kuat dari barangnya.
Orang bukan cuma beli produk, tapi beli makna dan alasan di baliknya.
Steve Jobs juga pernah bilang, “People don’t buy what you do, they buy why you do it.”
Artinya, yang membuat orang tertarik adalah cerita di balik produkmu.
Misalnya, kamu jual makanan rumahan.
Daripada langsung ngomong “Cemilan kami enak dan renyah!”, lebih baik ceritakan asal-usulnya: “Saya bikin ini karena kangen masakan ibu di rumah.
Saya pengin orang lain juga bisa ngerasain kehangatan itu.
Cerita seperti ini jauh lebih mengena dan membangun koneksi emosional dengan audiens.
Jadi, ubah cara pandangmu: bukan cuma jual barang, tapi bagikan cerita yang punya makna.
2. Tunjukkan Manfaat Tanpa Ngegas
Banyak orang salah kaprah, mengira jualan harus agresif.
Padahal, soft selling justru sebaliknya — kamu menunjukkan manfaat dengan cara halus.
Misalnya, daripada bilang, “Produk ini wajib kamu punya!”, lebih baik sampaikan lewat contoh cerita:
“Ada teman saya yang awalnya kesulitan mengatur waktu kerja dan keluarga, tapi setelah pakai produk ini, dia jadi lebih seimbang.”
Teknik ini disebut third-person storytelling — bercerita lewat sudut pandang orang lain agar kesannya lebih natural dan tidak memaksa.
Audiens jadi merasa tidak dijualin, padahal sebenarnya mereka sedang diarahkan untuk tertarik.
3. Bikin Audiens Relate dan Relevan
Kunci berikutnya adalah membuat orang merasa gue banget.
Kalimat seperti “Mungkin kamu pernah ngerasain…” atau “Pernah enggak kamu ngalamin…” bisa bikin audiens merasa dekat.
Karena ketika mereka merasa kamu paham masalahnya, otomatis kepercayaan muncul.
Untuk bisa melakukan ini, kamu harus tahu siapa target audiensmu — masalahnya, kebutuhannya, sampai impiannya.
Ini disebut buyer persona.
Contohnya, kalau targetmu ibu rumah tangga yang pengin bantu ekonomi keluarga, maka ceritamu bisa mengangkat keresahan mereka soal waktu, anak, dan penghasilan.
Begitu mereka merasa “kok bisa sih dia tahu banget perasaanku?”, di situlah koneksi emosional terbentuk.
4. Bangun Kepercayaan Lewat Edukasi
Di dunia digital, kepercayaan adalah mata uang paling mahal.
Dan cara terbaik membangunnya adalah dengan memberi edukasi yang bernilai.
Bukan sekadar omong besar, tapi benar-benar berbagi pengalaman dan pengetahuan yang relevan.
Misalnya, kamu bisa bikin konten tips, behind the scene, atau cerita pengalaman pribadi.
Tunjukkan juga kompetensi dan reputasimu.
Orang akan lebih percaya kalau kamu punya bukti nyata — entah itu testimoni, prestasi, atau hasil kerja yang bisa divalidasi.
Semakin banyak nilai yang kamu berikan tanpa pamrih, semakin besar peluang orang percaya padamu.
Dan begitu mereka percaya, menjual jadi jauh lebih mudah.
5. CTA yang Halus, tapi Menggoda
Soft selling bukan berarti tanpa ajakan.
Hanya saja, ajakannya dibungkus dengan halus.
Daripada bilang “Klik link di bawah sekarang!”, kamu bisa pakai covert statement seperti:
“Kamu enggak perlu buru-buru, tapi kalau penasaran gimana cara kerjanya, bisa cek di link ini.”
Terdengar santai, tapi tetap mengundang rasa ingin tahu, teknik ini menjaga kesan natural dan tidak memaksa audiens mengambil keputusan.
6. Format Konten Soft Selling yang Efektif
Kalau kamu mau mulai menerapkan teknik ini, ada beberapa jenis konten yang bisa dicoba:
– Video POV (Point of View): mini drama atau skenario ringan yang menampilkan dua orang ngobrol santai tapi mengandung pesan jualan di baliknya.
– Tutorial Before–After: tunjukkan perubahan sebelum dan sesudah menggunakan produkmu.
– Behind the Scene: tampilkan proses pembuatan produk. Orang suka tahu “di balik layar” karena terasa jujur dan menarik.
– Testimoni Naratif: bukan cuma screenshot review, tapi ceritakan pengalaman nyata pelanggan dengan gaya bercerita.
Semua format ini bekerja karena satu hal: bikin orang kepo dulu, baru beli kemudian.
Baca juga :Produk Bagus Tapi Gak Laku? Mungkin Ini Masalahnya
Kesimpulan
Di dunia digital yang makin ramai promosi, orang cenderung menolak iklan yang terlalu terang-terangan.
Tapi lewat soft selling dan storytelling, kamu bisa menembus benteng itu dengan cara yang lebih manusiawi — lewat emosi, empati, dan cerita yang autentik.
Jadi, kalau kamu ingin jualanmu tetap laris di 2025 tanpa terlihat jualan banget, ingat lima hal ini: jual cerita, tunjukkan manfaat, bangun kedekatan, edukasi dengan tulus, dan tutup dengan ajakan yang halus.
Karena pada akhirnya, orang tidak membeli produkmu — mereka membeli perasaan yang kamu ciptakan.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!
