
Dipdop.net – Banyak pelaku UMKM berpikir kalau yang penting hanya produk bagus dan harga bersaing. Padahal, bisnis yang sukses bukan cuma soal itu. Mengetahui siapa kompetitor dan bagaimana mereka bekerja bisa bikin strategi bisnis kamu jauh lebih tepat sasaran. Analisa kompetitor bukan untuk meniru, tapi untuk belajar dan menemukan cara agar bisnis kamu bisa menonjol di pasar.
Sebelum membuat strategi, ada baiknya kenali dulu siapa pesaingmu, apa yang mereka tawarkan, dan bagaimana pelanggan berinteraksi dengan produk mereka. Dengan begitu, keputusan bisnis kamu nggak sekadar tebakan, tapi berdasar informasi nyata.
Baca juga: Strategi Otomatisasi Keuangan UMKM agar Bisnis Tidak Jalan di Tempat
Kenali Kompetitor yang Relevan
Tidak semua yang menjual produk serupa otomatis kompetitor. Kompetitor utama adalah mereka yang menjual produk mirip dengan target pasar yang sama. Misalnya, kalau kamu menjual sendal santai elegan untuk wanita muda, sendal olahraga atau merek premium impor mungkin bukan pesaing langsung. Fokus pada 3–5 bisnis lokal yang menjual produk mirip agar perbandingan lebih relevan.
Cara gampang menemukannya adalah dengan berpikir seperti pelanggan. Bayangkan kamu mencari produk sendiri, lalu cek toko mana yang muncul di marketplace, Instagram, atau media sosial. Dari situ, mulai buat daftar pesaing utama.
Bandingkan Produk dan Nilai Tambah
Setelah menentukan kompetitor, lihat apa yang mereka tawarkan dan apa yang tidak. Misalnya, kompetitor A menjual sendal dengan banyak pilihan warna dan ukuran serta bisa retur, tapi bahannya agak kaku. Kompetitor B fokus pada sendal sporty yang nyaman dipakai jarak jauh, tapi modelnya terbatas. Bisnis kamu bisa menonjolkan desain elegan dengan heels rendah dan bahan kokoh tapi tetap nyaman.
Selain itu, perhatikan hal pendukung seperti kemasan, layanan tambahan, garansi, atau opsi retur. Terkadang hal kecil ini justru menjadi alasan pelanggan memilih satu produk dibanding yang lain.
Pelajari Kelebihan dan Kekurangan Kompetitor
Mengetahui kelebihan kompetitor bisa jadi inspirasi, sementara kelemahan mereka bisa menjadi peluang. Salah satu cara sederhana adalah melihat review pelanggan di marketplace atau media sosial. Keluhan umum seperti ukuran tidak pas atau bahan cepat rusak bisa menjadi titik diferensiasi kamu.
Sebagai contoh, jika banyak pelanggan mengeluh soal ukuran terbatas, kamu bisa menawarkan ukuran lebih lengkap atau panduan ukuran yang jelas. Strategi kecil ini seringkali membuat pelanggan merasa lebih diperhatikan dan memilih produk kamu.
Strategi Harga yang Tepat
Harga bukan sekadar murah atau mahal, tapi juga soal strategi. Amati kisaran harga kompetitor dan bagaimana mereka menyesuaikannya. Misalnya, kompetitor A menjual sendal dengan harga Rp70.000–150.000 dan menawarkan diskon untuk menarik pelanggan baru, sementara kompetitor B lebih mahal tapi sering mengadakan promo di momen tertentu.
Bisnis kamu bisa menyesuaikan strategi harga sesuai posisi brand, misalnya harga menengah plus promo khusus atau bundling produk yang memberikan nilai tambah. Dengan begitu, pelanggan merasa mendapat lebih dari sekadar produk.
Perhatikan Cara Mereka Memasarkan
Lihat bagaimana kompetitor memasarkan produk mereka. Platform apa yang mereka gunakan? Seberapa sering mereka posting? Jenis konten apa yang dibuat—foto, video, testimoni, atau tips? Misalnya, kompetitor A aktif di Instagram dan TikTok, kontennya santai dan girly dengan banyak video review produk. Kompetitor B jarang posting, tapi kontennya storytelling dan testimoni pelanggan.
Dari sini, bisnis kamu bisa menentukan strategi konten sendiri, misalnya gabungan foto produk, tips gaya, dan testimoni pelanggan. Dengan kombinasi ini, konten kamu tetap relevan dan menarik bagi target pasar.
Amati Perjalanan Pelanggan
Memahami perjalanan pelanggan dari melihat produk sampai membeli sangat penting. Apakah mereka membeli lewat marketplace, website, atau toko offline? Apakah perlu konsultasi dulu? Dengan memahami ini, kamu bisa membuat proses beli lebih mudah dan nyaman.
Sebagai contoh, kalau kompetitor hanya jual online, kamu bisa menambahkan opsi konsultasi via chat untuk membantu pelanggan memilih ukuran dan model yang tepat. Langkah ini membuat pengalaman belanja lebih personal dan meningkatkan kemungkinan pelanggan membeli produk kamu.
Baca juga: Psikologi Marketing UMKM: Kunci Relevan Value for Money di Era Sekarang
Kesimpulan
Analisa kompetitor bukan untuk iri atau meniru, tapi untuk belajar. Dengan mempelajari produk, harga, strategi pemasaran, dan perjalanan pelanggan kompetitor, UMKM bisa menemukan peluang unik untuk menonjol di pasar. Strategi yang tepat bukan soal menyalin, tapi memanfaatkan informasi untuk memperkuat keunggulan bisnis sendiri.
Untuk UMKM, analisa ini sebaiknya dilakukan saat memulai bisnis dan diperbarui secara berkala, misalnya setiap 6–12 bulan. Dengan cara ini, bisnis tetap adaptif terhadap perubahan pasar, tetap kreatif, dan mampu menawarkan nilai lebih bagi pelanggan. Belajar dari kompetitor membuat UMKM tidak hanya bisa bersaing, tapi juga berkembang lebih kuat dan berkelanjutan.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)
