
Dipdop.net – Pengen audiens berhenti gulir layar bahkan tertarik buat kepoin produk kamu waktu iklannya lewat? Sebaiknya, patut dihindari yang namanya click bait. Wait, kenapa tuh?
Metode click bait udah ketinggalan jaman banget! Alasannya? Click bait cuma mampu buat audiens penasaran sebentar, kemudian waktu tahu hal yang sebenarnya ternyata nggak sesuai, mereka malah kecewa dan sebel sama brand kamu karena terlalu melebih-lebihkan.
Lantas kalau bukan dengan click bait, pakai apa dong? Namanya hook konten! Yap, gampangnya hook konten itu adalah unsur atau elemen interaktif yang bisa menarik minat orang lain untuk berhenti sebentar dan menyimak isinya. Sesuai dengan namanya, hook konten ini bisa kamu pakai di beragam konten, seperti video Instagram reels, TikTok, YouTube shorts, unggahan di media sosial, hingga tulisan di situs web.
Bedanya dengan click bait, hook konten tentang suatu produk nggak ngasih harapan palsu sehingga nggak akan bikin orang kecewa ketika kurang sesuai dengan ekspektasi. Kuncinya, kamu hanya perlu “mengajak” audiens memulai interaksi. Bisa dengan hal yang familier dengan audiens, maupun yang unik!
Hook konten pun bisa kamu jadikan sebagai gaya khas dari brand kamu. Kalau digunakan dengan konsisten, audiens lama-kelamaan akan ingat dengan baik hook yang bagaimana punya brand kamu atau brand mana yang punya hook seperti demikian.
Baca Juga: Cara Membangun Online Presence Bisnis Kamu di Media Sosial!
Jenis Hook Konten yang Bisa Kamu Tiru
1. Question Hook
Buat hook ini, kamu bisa mengajukan pertanyaan yang mungkin menjadi minat atau keinginan audiens yang belum terpenuhi. Contohnya:
- “Apa, sih, sambel terenak menurut kamu?”
- “Pernah kepikiran, bagaimana proses pembuatan coklat sampai jadi?”
- “Di mana, ya, tempat makan paling nyaman untuk keluarga?”
2. Listing Hook
Kunci dari hook yang satu ini, adalah total poin atau isi daftar (list) yang bisa ngasih tau langsung ada berapa banyak unsur yang mau kamu bahas. Hook ini cocok dipakai kalau isi konten kamu berupa daftar produk rekomendasi, tips-tips, dan pilihan yang bisa ditunjukkan kepada audiens. Contohnya:
- “Ini 5 rekomendasi kacamata biar jadi keren!”
- “Nentuin OOTD jadi gampang pakai 7 cara ini!”
- “Belum afdol kalau kamu belum cobain 3 menu andalan berikut!”
3. Shocking Hook
Inti dari shocking hook adalah bikin audiens kaget dan berhenti sebentar mengikuti perintah atau larangan yang sifatnya nggak begitu serius. Supaya tetap efektif, usahakan hindari seruan yang terlalu berlebih-lebihan. Contohnya:
- “Jangan lanjut scroll dulu! Brand kami punya ….”
- “Stop stop stop! Darurat parfum awet seharian!”
- “Oops! Kaget banget sama model outfit satu ini!”
4. Negative Hook
Kamu bisa mencoba berani dan nggak main aman kalau pakai hook ini. Namanya, negative hook. Dengan bermain kata-kata penuh emosi, kamu bisa langsung menggaet atensi audiens dalam sekali gulir layar. Contohnya:
- “Benci banget baru cobain skincare ini sekarang.”
- “Nggak suka karena makanannya terlalu enak ….”
- “Hadeh, bikin sebel aja sama maskara sebagus ini!”
5. FOMO Hook
Mengambil konsep Fear of Missing Out (FOMO) alias nggak mau ketinggalan yang nge-trend sama sekali, FOMO bisa kamu pakai juga di dalam hook konten. Efeknya? Audiens merasa tergugah karena diajak duluan, dan punya semacam kekhawatiran akan ketinggalan karena nggak kompak dan ngikutin ajakan kamu.
- “Siapa nih yang belum cobain cookies dari .…”
- “Rugi banget kalau belum kepoin bahan hijab ini!”
- “Belum skena namanya semisal kamu belum pakai celana baggy ini!”
6. Procedure Hook
Procedure hook punya kemampuan untuk seolah-olah memberikan pengetahuan baru yang bisa diikuti oleh audiens secara bertahap. Procedure hook menampilkan prosedur, cara-cara, dan teknis yang bermacam-macam. Contohnya:
- “Mau tau caranya pakai outfit Y2K style? Sini aku ajarin!”
- “Simak video ini kalau kamu mau tau cara milih menu hidden gem dari ….”
- “Ternyata ini loh cara cepat buat dapetin tubuh sehat!”
7. Storytelling Hook
Soal hook ini, kamu nggak perlu repot-repot mikirin konsep, loh. Cukup satu, bercerita! Yap, cara ini paling mudah dan paling menarik untuk menggaet rasa penasaran audiens. Bukan tanpa alasan, sebab audiens sudah terbiasa mendengarkan cerita maupun bercerita terhadap sesama di kehidupan sehari-hari. Suasana dalam bercerita juga bisa disesuaikan dengan gaya brand kamu. Contohnya:
- “Guys, aku punya cerita yang lucu banget waktu pakai body mist ini!”
- “Mau aku ceritain nggak apa gimana proses otentik pembuatan kopi ini?”
- “Hampir gagal, tapi akhirnya berhasil buka outlet ini. Jadi ceritanya, ….”
Kesimpulan
Selain ke-7 hook di atas, kamu juga bisa membuat hook sekreatif mungkin dan sekiranya bisa bikin audiens mengenali brand kamu. Supaya kamu bisa tahu berhasil atau tidaknya hook yang kamu buat, kamu perlu membuat target KPI (Key Performance Indicator) sebagai kunci bahwa konten yang kamu buat berhasil di mata audiens. Setelah kamu menemukan hook konten yang mendefinisikan brand kamu banget, kamu bisa mulai untuk konsisten. (WA)
Baca Juga: Masih Ragu? Begini Cara Digital Marketing Meningkatkan Penjualan UMKM!
