
Dipdop.net – Pernah merasa omzet bisnis tiba-tiba turun? Restoran mulai sepi, toko fashion makin jarang closing, atau pelanggan yang dulu ramai kini beralih ke tempat lain? Tenang, kamu tidak sendirian.
Banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) sedang menghadapi hal yang sama.
Tapi kabar baiknya, ini bukan akhir—justru bisa jadi awal baru kalau kamu mulai melirik bisnis produk digital.
Perilaku Konsumen Sudah Berubah
Dunia bisnis berubah cepat, dan perilaku belanja masyarakat pun ikut bergeser.
Menurut riset Google dan Temasek tahun 2023, nilai ekonomi digital Indonesia sudah tembus 2 miliar dolar dan diprediksi akan naik hingga 124 miliar dolar di tahun 2025.
Angka ini jelas menunjukkan bahwa pasar digital bukan sekadar tren, tapi masa depan.
Bahkan, survei McKinsey 2022 menurut sumber youtube menyebut bahwa 67% konsumen Indonesia kini lebih suka berbelanja online daripada datang ke toko fisik.
Artinya, toko offline mungkin sepi, tapi toko online justru ramai.
Jadi, kalau kamu masih mengandalkan bisnis fisik sepenuhnya, saatnya mulai berpikir untuk membawa produkmu ke ranah digital.
Biaya Operasional Tinggi, Tapi Trafik Menurun
Salah satu alasan utama bisnis fisik makin berat adalah tingginya biaya operasional.
Sewa tempat, listrik, gaji karyawan, dan perawatan toko semuanya butuh biaya besar setiap bulan.
Sementara itu, jumlah pengunjung makin menurun karena orang-orang kini lebih memilih belanja lewat smartphone.
Transaksi digital juga terus meningkat.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan transaksi digital hingga 30,84% di tahun 2023.
Dari warung kopi sampai supermarket, semuanya sudah menyediakan pembayaran via QRIS.
Dunia sudah berubah ke arah cashless society, dan ini pertanda bahwa perilaku konsumen makin digital-minded.
Produk Digital: Murah Produksi, Margin Tinggi
Nah, di sinilah peluang besar itu muncul.
Produk digital bisa jadi solusi menarik karena biaya produksinya rendah, tapi keuntungannya tinggi.
Sekali bikin, bisa dijual berkali-kali.
Misalnya, kamu membuat e-book resep masakan, kursus online, template desain, atau alat digital (tools) — semuanya bisa dijual berulang tanpa perlu stok fisik.
Menurut data dari Statista (2024), industri e-learning global tumbuh sekitar 14,6% setiap tahun.
Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap konten digital seperti kursus online dan edukasi daring semakin meningkat.
Artinya, produk digital memiliki potensi besar untuk menciptakan pendapatan pasif.
Selain itu, pasar digital tidak terbatas lokasi.
Produk fisik mungkin hanya bisa dijual di satu kota, tapi produk digital bisa dijangkau oleh siapa pun,dari Sabang sampai Merauke, bahkan ke luar negeri.
Dengan lebih dari 185 juta pengguna internet di Indonesia (data 2024), potensi pasarnya benar-benar luas.
Langkah Awal Memulai Produk Digital
Kamu mungkin berpikir, “Oke, menarik! Tapi saya harus mulai dari mana?” Tenang, berikut langkah sederhana yang bisa kamu ikuti:
– Identifikasi keahlianmu.
Coba pikirkan apa yang kamu kuasai. Kalau kamu suka masak, kamu bisa buat e-book resep. Kalau kamu jago nulis, buat panduan atau e-course menulis. Kalau kamu suka berbagi pengalaman, buat kelas atau video tips.
– Pilih format produk digital.
Produk digital bisa berbentuk banyak hal: e-book, e-course, webinar, template, video tutorial, hingga platform digital. Pilih format yang paling cocok dengan kontenmu dan mudah kamu kerjakan.
– Tentukan platform penjualan.
Kamu bisa menjualnya lewat marketplace digital, website pribadi, atau bahkan lewat media sosial. Beberapa platform populer yang bisa digunakan misalnya Tribalio, SkillUp, atau Linkit.
– Promosikan dengan konten kreatif.
Gunakan video pendek seperti Reels, TikTok, atau YouTube Shorts untuk menceritakan manfaat produkmu. Jangan hard selling, tapi buat konten yang menghibur dan informatif agar orang tertarik dengan natural.
– Mulai dari produk sederhana.
Tidak perlu langsung bikin e-course besar. Mulai saja dengan e-book, template, atau video sederhana. Jual dengan harga terjangkau dulu, kumpulkan feedback, lalu kembangkan dari sana.
Adaptasi Adalah Kunci Bertahan
Dalam dunia bisnis, bukan yang terbesar yang bertahan, tapi yang paling cepat beradaptasi.
Kata Bill Gates pun tegas: “Jika bisnis Anda tidak ada di dunia digital, maka bersiaplah untuk tertinggal.”
Kamu tidak harus meninggalkan bisnis fisik sepenuhnya.
Banyak pengusaha sukses menjalankan dua jalur sekaligus: tetap jual produk fisik sambil membangun lini produk digital.
Contohnya, penjual donat bisa menjual kursus membuat donat rumahan, atau pemilik toko fashion bisa membuat panduan membangun brand pakaian.
Dengan produk digital, kamu bisa memperluas jangkauan, menambah pemasukan, dan membangun bisnis yang lebih tahan terhadap perubahan zaman.
Baca juga :Produk Bagus Tapi Gak Laku? Mungkin Ini Masalahnya
Kesimpulan
Bisnis fisik mungkin sedang sepi, tapi itu bukan akhir dari segalanya.
Justru sekarang adalah waktu terbaik untuk berinovasi dan mulai menjelajah dunia digital.
Dengan sedikit kreativitas, ketekunan, dan kemauan belajar, siapa pun bisa menciptakan produk digital yang laku keras di pasaran.
Jadi, jangan tunggu sepi makin parah — mulai sekarang ubah strategi dan siapkan langkah menuju bisnis digital yang lebih adaptif, efisien, dan menguntungkan.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!
