Bisnis Bareng Suami atau Istri? Wajib Tahu 7 Aturan Ini Agar Rumah Tangga Tetap Harmonis

DIPDOP > Marketing > Bisnis > Bisnis Bareng Suami atau Istri? Wajib Tahu 7 Aturan Ini Agar Rumah Tangga Tetap Harmonis

Menjalankan bisnis bersama pasangan—baik suami maupun istri, sering kali terdengar ideal. Bisa bekerja bersama orang yang paling dipercaya, saling mendukung, dan mengejar tujuan yang sama. Namun kenyataannya, tidak sedikit rumah tangga yang justru retak karena bisnis yang dijalankan bersama tidak dikelola dengan benar. Bahkan ada yang awalnya harmonis sebagai pasangan, tetapi hancur karena konflik bisnis. Sebaliknya, ada pula yang bercerai lalu bisnisnya ikut bubar.

Agar hal tersebut tidak terjadi, ada tujuh aturan penting yang wajib dipahami oleh pasangan yang ingin atau sedang menjalankan bisnis bersama. Aturan ini disusun berdasarkan pengalaman nyata dalam mendampingi banyak pasangan pebisnis selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Pola Kerja Sama Bisnis yang Sehat: Jangan Mulai Tanpa Fondasi yang Jelas

Samakan Tujuan dan Visi Sejak Awal

Aturan pertama dan paling fundamental adalah menyamakan tujuan bisnis. Bisnis ini mau dibawa ke mana? Apakah hanya sebagai penghasilan tambahan, sumber nafkah utama, atau ingin dibangun menjadi bisnis besar yang diwariskan ke anak cucu?

Tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tujuan penggunaan uangnya. Ketika bisnis menghasilkan keuntungan, apa yang akan diprioritaskan? Membeli rumah, kendaraan, sedekah, umrah, haji, atau investasi jangka panjang? Semua ini harus dibicarakan secara terbuka sejak awal. Kunci utamanya adalah komunikasi jujur dan santai, bisa sambil jalan, makan, atau ngobrol di mobil. Tanpa visi yang sama, konflik hanya tinggal menunggu waktu.

Bagi Tugas dengan Jelas

Masalah klasik dalam bisnis pasangan adalah pembagian peran yang tidak jelas. Siapa yang mengurus operasional harian? Siapa yang bertanggung jawab atas keuangan? Siapa yang fokus pada strategi dan pengembangan?

Semua harus jelas dan tertulis, idealnya dalam bentuk job description, SOP, dan KPI. Jika tidak jelas, konflik kecil bisa merembet ke urusan rumah tangga. Contoh sederhana, ketika ada pekerjaan yang tidak dikerjakan, masing-masing merasa itu tanggung jawab pasangannya. Akhirnya bukan hanya bisnis yang kacau, tetapi suasana rumah pun ikut panas.

Pisahkan Uang Bisnis dan Uang Pribadi

Ini adalah kesalahan yang paling sering terjadi: menganggap uang bisnis sebagai uang rumah tangga. Padahal, ini sangat berbahaya. Solusinya, pisahkan rekening bisnis dan rekening pribadi.

Tentukan sejak awal, apakah pasangan mengambil gaji bulanan atau hanya mengambil profit. Jika gaji, tetapkan nominal gaji suami dan istri dengan jelas. Jika profit, tentukan berapa yang boleh diambil dan kapan. Jangan pernah mengambil uang kas bisnis secara sembarangan untuk kebutuhan pribadi. Gunakan juga software keuangan agar laporan neraca, laba rugi, dan arus kas bisa dipantau dengan baik.

Jaga Komunikasi Bisnis Harian

Komunikasi yang buruk bisa melumpuhkan bisnis. Jangan sampai ada masalah lalu saling diam, tidak saling menghubungi, atau mencampuradukkan urusan bisnis dengan emosi pribadi.

Buat sistem komunikasi yang jelas: meeting harian, mingguan, atau bulanan. Gunakan grup khusus untuk urusan bisnis agar tidak tenggelam oleh chat pribadi. Hal ini membantu menjaga profesionalitas dan mencegah kesalahpahaman yang tidak perlu.

Siapkan Exit Plan dan Role Switch

Bisnis tidak selalu berjalan mulus. Karena itu, pasangan harus menyiapkan rencana cadangan. Jika bisnis gagal, apa langkah berikutnya? Siapa yang kembali bekerja? Siapa yang tetap menjaga bisnis?

Diskusikan plan A, B, C, dan seterusnya. Mindset yang perlu dibangun adalah bukan soal siapa yang menang, tetapi bagaimana keluarga tetap bisa bertahan dan survive. Semua ini sebaiknya dibicarakan saat kondisi masih tenang, bukan saat masalah sudah terjadi.

Jaga Privasi dan Waktu sebagai Pasangan

Kesalahan fatal lainnya adalah membahas bisnis 24 jam tanpa henti. Akibatnya, tidak ada lagi waktu untuk membahas keluarga, anak, atau sekadar menjadi pasangan suami istri yang romantis.

Tetapkan jam kerja dan waktu khusus di mana bisnis tidak boleh dibahas sama sekali. Dengan batasan yang jelas, hubungan akan lebih sehat, stabil, dan berkelanjutan.

Libatkan Spiritualitas dalam Bisnis

Aturan terakhir yang sering diabaikan adalah spiritualitas. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan bisnis. Doakan bisnis setiap hari, biasakan sedekah, dan lakukan istikharah saat mengambil keputusan besar.

Bisnis bukan hanya soal strategi dan penjualan, tetapi juga soal keberkahan. Ketika spiritualitas dijaga, insyaallah bisnis dan rumah tangga akan berjalan lebih tenang dan penuh makna.

Baca Juga: Cara Hitung HPP Biar Jualan Gak Cuma Laris, Tapi Juga Bikin Dompet Aman

Kesimpulan

Menjalankan bisnis bersama suami atau istri bukan hal yang mustahil, bahkan bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan benar. Dengan menyamakan visi, membagi peran, mengatur keuangan, menjaga komunikasi, menyiapkan rencana cadangan, melindungi waktu keluarga, dan melibatkan spiritualitas, bisnis dan rumah tangga bisa tumbuh bersama, bukan saling menghancurkan.

Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)

Bramantyo Rahardyan Firmansyah
tyobraman30@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *