
Dipdop.net – Dalam dunia digital marketing, memahami perilaku konsumen adalah kunci utama untuk merancang strategi pemasaran yang efektif. Salah satu model klasik yang masih sangat relevan hingga saat ini adalah model pemasaran AIDA. Model ini menjelaskan tahapan yang dilalui konsumen sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk atau layanan.
Apa itu Model Pemasaran AIDA?
AIDA sendiri merupakan singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Elias St. Elmo Lewis pada akhir abad ke-19 dan terus digunakan oleh banyak praktisi marketing hingga hari ini.
Menurut laman HubSpot — salah satu situs marketing terpercaya dunia — model AIDA “membantu pemasar memetakan perjalanan pelanggan dengan fokus pada penciptaan konten yang memikat dari awal hingga akhir.”
Mari kita bahas lebih dalam mengenai masing-masing tahap dalam model AIDA.
Attention (Perhatian)
Tahap pertama adalah menarik perhatian audiens terhadap produk atau brand Anda. Dalam dunia yang penuh distraksi seperti sekarang, mendapatkan perhatian konsumen menjadi tantangan tersendiri.
Contohnya, penggunaan iklan visual yang mencolok di media sosial atau judul artikel yang click-worthy bisa menjadi cara untuk mencuri perhatian target pasar.
Tips:
- Gunakan headline yang menarik
- Visual harus eye-catching
- Manfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok untuk konten awareness
Interest (Ketertarikan)
Setelah perhatian berhasil didapatkan, langkah selanjutnya adalah menumbuhkan ketertarikan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Di sini, konten yang informatif dan relevan sangat dibutuhkan.
Buatlah konsumen merasa bahwa produk Anda membantu menyelesaikan masalah mereka. Misalnya, penjelasan fitur produk melalui blog, video review, atau infografis yang membandingkan dengan kompetitor.
Tips:
- Sajikan manfaat produk secara jelas
- Gunakan storytelling dalam konten
- Optimalkan halaman produk dengan detail yang lengkap
Baca Juga : Belajar Strategi Content Marketing Sederhana Ala Pride Chicken
Desire (Keinginan)
Di tahap ini, audiens mulai memiliki keinginan untuk memiliki produk Anda. Emosi berperan penting dalam mengubah ketertarikan menjadi keinginan. Anda bisa memanfaatkan testimoni pelanggan, ulasan positif, atau promosi eksklusif untuk memperkuat keinginan tersebut.
Menurut Mailchimp, “Desire is often built by showing users how your product or service improves their lives.”
Tips:
- Tampilkan testimoni dan studi kasus
- Gunakan copywriting yang emosional dan meyakinkan
- Sertakan before-after visual atau hasil nyata
Action (Tindakan)
Tahap terakhir adalah mendorong konsumen untuk melakukan aksi, seperti membeli produk, mengisi formulir, atau menghubungi tim sales. Ini adalah tahap yang paling krusial karena di sinilah konversi terjadi.
Berikan ajakan bertindak (CTA) yang jelas dan mudah ditemukan. Misalnya: “Beli Sekarang”, “Coba Gratis”, atau “Konsultasi Gratis Hari Ini.”
Tips:
- Letakkan CTA di posisi strategis (di atas & bawah halaman)
- Gunakan warna tombol yang kontras
- Buat form atau proses checkout sesederhana mungkin
Contoh Penerapan AIDA dalam Kampanye Marketing
Bayangkan Anda adalah sebuah bisnis yang menjual skincare lokal:
- Attention – Menampilkan video dengan influencer populer yang memperkenalkan produk Anda di TikTok.
- Interest – Membuat blog post tentang manfaat kandungan alami produk yang Anda gunakan.
- Desire – Menampilkan testimoni dari pelanggan yang berhasil mengatasi masalah kulit mereka.
- Action – Memberikan diskon 10% untuk pembelian pertama dengan tombol “Beli Sekarang” di halaman website.
Kesimpulan
Model pemasaran AIDA membantu Anda memahami proses berpikir konsumen dari awal hingga pembelian. Dengan menerapkan AIDA secara strategis, Anda bisa menyusun konten yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan peluang konversi.(MZA)
