
Dipdop.net – Beberapa waktu belakangan, banyak yang mengeluhkan tentang algoritma media sosial yang dianggap semakin tidak jelas. Performa konten yang menurun atau sistem yang terasa merugikan sering menjadi alasan keluhan tersebut. Namun, sebenarnya, algoritma media sosial bukanlah musuh. Justru, ia bisa menjadi teman yang membantu jika dipahami dengan baik.
Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami bahwa tidak ada yang benar-benar tahu secara pasti bagaimana algoritma media sosial bekerja. Yang bisa dilakukan hanyalah menganalisis berdasarkan pola yang terlihat. Dan di sini, ada satu kata kunci penting: TUJUAN. Algoritma selalu disesuaikan dengan tujuan platform tersebut.
Jadi, jika sebuah platform memiliki tujuan tertentu, misalnya tujuan A, maka algoritma akan diatur sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tersebut. Polanya selalu seperti ini: Platform Sosmed → Algoritma → Tujuan Platform Tercapai.
Baca Juga: Viral Jualan Walens tapi di Jok Motor: Strategi “Pseudo-UGC”, Tren TikTok 2025? – DIPDOP
Pola Algoritma yang Perlu Diketahui
Berikut beberapa pola algoritma yang bisa diamati untuk memahami cara kerjanya:
- Tiktok dan Fokus pada E-commerce
Saat ini, Tiktok sedang gencar mendorong penjualan e-commerce. Algoritma dan fitur-fiturnya dioptimalkan untuk mendukung hal ini. Liveselling dan iklan yang berujung pada konversi penjualan pun semakin digenjot. - Instagram yang Beradaptasi dengan Reels
Ketika Tiktok mulai populer, Instagram khawatir kehilangan penggunanya. Maka, platform ini mempromosikan fitur Reels agar pengguna tetap betah dan bahkan menyukai konten video pendek di Instagram. - Youtube yang Membangun Komunitas
Ada masa di mana Youtube ingin meningkatkan komunitas berbasis platformnya. Mereka mendorong creator untuk fokus meningkatkan jumlah subscriber. Di Indonesia, komunitas Youtuber pun sempat sangat berkembang pesat. - Instagram yang Mendorong Konten Detail
Instagram pernah menargetkan konten yang lebih panjang dan detail. Carousel post pun lebih didorong, dengan metrik utama seperti jumlah “save” yang tinggi. - Youtube dan Peningkatan Pendapatan
Youtube juga pernah fokus meningkatkan pendapatan dengan menaikkan watch time. Semakin lama durasi tontonan, semakin banyak iklan yang bisa diselipkan. Konten seperti podcast pun naik daun karena durasinya yang panjang. - Tiktok yang Meningkatkan Watch Time
Tiktok juga pernah menargetkan peningkatan watch time. Mereka mendorong creator dan brand untuk membuat konten di atas 1 menit, bahkan memberikan insentif tambahan seperti boost views.
Tips Memahami Algoritma Media Sosial
Meskipun algoritma jarang diungkap secara transparan, tujuan platform biasanya bisa diketahui melalui berita, press conference, atau artikel resmi. Dari situ, arah algoritma bisa ditebak.
Contohnya, CEO Instagram pernah menyatakan bahwa fokus platform ini di tahun 2025 adalah Creativity dan Connection. Dengan mengetahui tujuan ini, strategi konten bisa disesuaikan agar selaras dengan platform.
Baca Juga: Strategi Mie Soobek, Konten 100 Juta+ Views: Power of Perspective, Tren TikTok 2025? – DIPDOP
Kesimpulan
Algoritma media sosial sebenarnya adalah teman, bukan musuh. Dengan memahami tujuan platform, kita bisa menyesuaikan strategi konten agar lebih optimal. Algoritma dan pengguna media sosial ibarat aliansi yang saling mendukung. Tujuan platform dan tujuan pengguna bisa sejalan jika dipahami dengan baik.
Dengan memahami pola dan tujuan platform, penggunaan media sosial bisa lebih efektif. Jadi, algoritma bukanlah musuh, melainkan teman yang membantu mencapai tujuan.
(SA)

One thought on “Algoritma Medsos itu BUKAN MUSUH,Tapi Teman yang Membantu”