Algoritma Berubah Lagi! Cara UMKM Tetap Laku di Instagram & TikTok

DIPDOP > Ceative Agency > Content Marketing > Algoritma Berubah Lagi! Cara UMKM Tetap Laku di Instagram & TikTok
Strategi UMKM menghadapi perubahan algoritma media sosial

Dipdop.net – Perubahan algoritma Instagram dan TikTok kembali membuat banyak pelaku UMKM merasa bingung. Konten yang dulu ramai penonton kini terasa sepi, padahal produk tetap sama dan kualitas tidak menurun. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan besar: apakah media sosial masih efektif untuk UMKM?

Jawabannya adalah iya, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Algoritma media sosial kini lebih menekankan pada relevansi, interaksi, dan durasi perhatian audiens. UMKM yang mampu menyesuaikan strategi kontennya justru punya peluang lebih besar untuk tetap laku dan berkembang. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membangun sistem konten yang berkelanjutan dan relevan.

Pahami Cara Kerja Algoritma Terbaru

Algoritma Instagram dan TikTok saat ini tidak lagi hanya melihat jumlah followers. Fokus utama berpindah pada seberapa lama audiens menonton, berinteraksi, dan merasa konten tersebut relevan. Artinya, akun kecil sekalipun tetap punya peluang besar untuk viral. Durasi tontonan (watch time) menjadi faktor kunci. Konten yang ditonton sampai selesai, diulang, atau disimpan akan lebih sering direkomendasikan. Inilah alasan mengapa video pendek yang padat dan menarik di awal sangat penting.

Selain itu, interaksi seperti komentar, share, dan save jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar like. Algoritma menganggap interaksi tersebut sebagai sinyal bahwa konten benar-benar bermanfaat. UMKM perlu mulai mendorong audiens untuk berinteraksi secara alami.

Yang tak kalah penting, konsistensi tetap menjadi pondasi. Algoritma cenderung “mempercayai” akun yang rutin mengunggah konten. Tidak harus setiap hari, tetapi konsisten dengan jadwal yang realistis dan berkelanjutan.

Konten Relatable Lebih Penting daripada Konten Estetik

Banyak UMKM terjebak pada konten yang terlalu rapi dan jualan. Padahal, algoritma justru lebih menyukai konten yang terasa manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konten yang relatable cenderung memicu emosi dan interaksi. Cerita di balik produk, proses pembuatan, atau tantangan sebagai pelaku UMKM sering kali lebih menarik daripada foto produk sempurna. Audiens ingin merasa terhubung, bukan sekadar ditawari barang. Kejujuran dan kesederhanaan justru menjadi nilai jual.

Konten edukatif ringan juga sangat efektif. Misalnya tips, kesalahan umum, atau fakta unik seputar produk. Konten seperti ini membuat audiens bertahan lebih lama dan meningkatkan peluang save serta share. Selain itu, format storytelling terbukti mampu meningkatkan performa konten. UMKM bisa menceritakan perjalanan usaha, pengalaman pelanggan, atau kegagalan yang pernah dialami. Algoritma menyukai konten yang mampu menahan perhatian audiens dari awal hingga akhir.

Manfaatkan Fitur Prioritas Instagram & TikTok

Setiap perubahan algoritma biasanya diikuti dengan dorongan penggunaan fitur tertentu. Saat ini, Instagram sangat memprioritaskan Reels, sementara TikTok mengutamakan video dengan interaksi tinggi di menit-menit awal. UMKM perlu memanfaatkan ini secara maksimal. Penggunaan teks di video (on-screen text) sangat membantu meningkatkan retensi. Banyak pengguna menonton tanpa suara, sehingga teks membuat pesan tetap tersampaikan. Selain itu, teks juga membantu algoritma memahami isi konten.

Fitur seperti polling, Q&A, dan kolom komentar sebaiknya dimanfaatkan secara aktif. Mengajak audiens berpendapat atau menjawab pertanyaan sederhana dapat meningkatkan interaksi. Semakin banyak interaksi awal, semakin besar peluang konten direkomendasikan.

Live streaming juga mulai kembali dilirik algoritma. UMKM bisa memanfaatkan live untuk soft selling, tanya jawab, atau demo produk. Selain meningkatkan kepercayaan, live juga membantu membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.

Fokus Bangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Viral

Viral memang menggiurkan, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan penjualan. Banyak UMKM yang viral sekali lalu menghilang karena tidak membangun kepercayaan. Algoritma boleh berubah, tetapi kepercayaan audiens tetap menjadi kunci utama. Testimoni pelanggan, review jujur, dan user-generated content sangat membantu meningkatkan kredibilitas. Konten seperti ini memberi bukti sosial yang kuat. Audiens cenderung lebih percaya pada pengalaman orang lain dibanding klaim brand sendiri.

Konsistensi pesan juga penting dalam membangun brand. UMKM sebaiknya memiliki gaya komunikasi yang jelas, mulai dari tone caption hingga visual konten. Hal ini membuat audiens mudah mengenali dan mengingat brand.

Terakhir, penting untuk bersabar dan tidak terobsesi dengan angka. Algoritma membutuhkan waktu untuk “mengenali” akun. Fokus pada proses, kualitas konten, dan hubungan dengan audiens akan memberikan hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Baca juga : Perubahan Algoritma Media Sosial: Tantangan Baru bagi Brand dan Cara Mengatasinya

Kesimpulan

Perubahan algoritma Instagram dan TikTok memang tidak bisa dihindari. Namun, UMKM yang adaptif justru memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih kuat. Kuncinya bukan melawan algoritma, tetapi memahami dan memanfaatkannya dengan cerdas.

Dengan konten yang relevan, konsisten, dan berorientasi pada audiens, UMKM tetap bisa laku meski algoritma terus berubah. Di era digital ini, yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi.

Bangun branding UMKM mu bersama DIPDOP (HS)

Hilda Sania
iyahildasania@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *