
Dipdop.net – Bisnis kuliner selalu terlihat menggoda. Banyak orang berpikir, “Cukup bikin makanan enak, jualan terus, pasti sukses.” Padahal, realitanya tidak sesederhana itu. Banyak pelaku UMKM yang gagal karena melewatkan hal-hal penting di balik dapur. Jika kamu tertarik untuk membangun bisnis makanan atau minuman, ada beberapa kunci yang harus diperhatikan agar bisnis tidak berhenti di tahap awal.
Baca juga: Jangan Langsung Jawab Harga, Ini Cara Cerdas Biar Customer Mau Beli
Industri F&B di Indonesia, Potensi dan Tantangan
Bisnis makanan dan minuman di Indonesia punya potensi besar. Data menunjukkan pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) mencapai 10%, dan pandemi mempercepat tren delivery serta pembelian online. Ini membuka peluang bagi pemain baru, tapi juga membuat persaingan semakin ketat. Dari kedai minuman modern hingga franchise kopi, semuanya bersaing di pasar yang kini bisa disebut “bloody red ocean.”
Banyak bisnis F&B yang gagal karena tidak memahami dinamika ini. Mereka mungkin punya produk enak, tapi gagal mempertahankan konsistensi, mengelola stok, atau mengatur operasional ketika skala bertambah. Jadi, sebelum menyiapkan menu spesial, penting untuk memahami pasar dan strategi agar bisnis bisa bertahan lama.
Rasa Enak Harus Disertai Konsistensi
Membuat makanan atau minuman yang enak memang tahap pertama yang paling mudah. Chef lulusan manapun bisa menghasilkan produk lezat untuk satu cabang. Tapi, ketika harus mengelola 10 cabang, konsistensi rasa menjadi tantangan terbesar.
Perbedaan bahan dari supplier, cuaca, hingga cara masak masing-masing karyawan bisa membuat rasa berubah. Misalnya, bisnis bubble tea besar di Indonesia pernah menghadapi masalah ini: menu favorit pelanggan tiba-tiba terasa berbeda di cabang baru karena kualitas teh dan topping yang berbeda. Solusi mereka adalah membuat standar resep ketat dan melatih semua karyawan secara terstruktur, termasuk takaran bahan dan metode penyimpanan.
Selain itu, peralatan masak dan penyimpanan juga berperan penting. Barang yang mudah basi membutuhkan pengelolaan yang rapi agar tidak merugi. Banyak pelaku F&B harus menghadapi realita bahwa hingga 30% bahan mentah bisa hilang atau rusak sebelum sampai ke tangan konsumen.
Manajemen Rantai Pasok dan Inventaris
Setelah rasa dan konsistensi, tantangan berikutnya adalah supply chain management. Banyak bisnis F&B gagal karena hanya mengandalkan satu supplier atau tidak memiliki sistem pencatatan bahan yang rapi. Padahal, survei menunjukkan 68% bisnis F&B setuju bahwa supplier tidak boleh hanya satu agar risiko kerugian berkurang.
Inventory management juga kerap menjadi titik lemah. Salah catat stok, salah mengatur tanggal kadaluarsa, atau kekeliruan dalam prediksi penjualan bisa membuat modal cepat habis. Contohnya, sebuah coffee shop di Jakarta pernah membeli bahan untuk 500 gelas tapi hanya terjual 350 gelas. Sisanya terbuang karena tidak disimpan dengan tepat. Dari sini terlihat, manajemen stok yang efektif dan pencatatan yang digital menjadi kunci penting untuk menghindari kerugian.
Aplikasi berbasis digital kini memudahkan pengelolaan ini. Sistem terintegrasi memungkinkan pemilik bisnis mengawasi penjualan, stok, hingga laporan keuangan secara real time. Ini membuat operasional lebih efisien, terutama ketika ingin membuka cabang baru.
SOP, Pondasi Bisnis Kuliner
Ketiga, Standard Operating Procedure (SOP) menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. SOP adalah aturan baku yang harus diikuti semua karyawan mulai dari dapur hingga kasir. Tanpa SOP, kesalahan manusia menjadi risiko terbesar.
SOP mencakup resep, metode penyimpanan, prosedur servis, hingga pengaturan penempatan bahan. Contoh nyata adalah kopi kekinian yang memiliki puluhan cabang. Mereka menyiapkan SOP sedetail mungkin, bahkan memiliki divisi QC khusus untuk memastikan setiap cangkir kopi sama rasanya di seluruh cabang.
Selain itu, SOP juga memudahkan bisnis untuk scale up. Misalnya, jika ingin membuka cabang di kota berbeda, SOP memastikan standar operasional tetap sama meski karyawan berbeda. Dengan SOP yang kuat, risiko kesalahan berkurang, kualitas tetap konsisten, dan manajemen menjadi lebih mudah.
Contoh Kasus di Indonesia
Banyak bisnis kuliner Indonesia yang berhasil karena memahami ketiga kunci ini. Salah satunya bisnis minuman teh yang memanfaatkan sistem digital untuk tracking stok dan penjualan. Mereka mampu menjaga rasa tetap konsisten di setiap cabang, meminimalkan kerugian bahan, dan mengatur karyawan dengan SOP yang jelas.
Contoh lain adalah kopi kekinian yang berhasil membuka puluhan cabang. Mereka menerapkan standar resep ketat, melatih semua barista, dan memanfaatkan teknologi untuk mengatur inventaris serta laporan keuangan. Hasilnya, pelanggan merasakan pengalaman serupa di setiap cabang, yang meningkatkan loyalitas dan penjualan.
Baca juga: Kenapa Produk Kamu Susah Laku? Begini Cara Bikin Orang Antusias Beli
Kesimpulan
Bisnis kuliner memang menarik, tapi bukan hanya soal rasa. Sukses di industri ini membutuhkan perpaduan antara produk yang enak, manajemen operasional yang rapi, dan SOP yang disiplin. Tanpa konsistensi, stok yang terkelola dengan baik, serta prosedur yang jelas, bisnis bisa gagal bahkan sebelum mencapai pertumbuhan yang signifikan.
Bagi pelaku UMKM, kuncinya adalah belajar dari praktik nyata, memanfaatkan teknologi, dan fokus pada fondasi bisnis sebelum mengejar ekspansi besar. Dengan pendekatan yang tepat, peluang untuk bertahan dan berkembang di industri kuliner yang kompetitif ini akan jauh lebih besar.
Kunjungi Dipdop.net untuk dapatkan lebih banyak insight dan tips kreatif buat UMKM seperti kamu!(BRF)
